Yogyakarta, VIVA – Mengenali masalah yang sedang dihadapi merupakan langkah awal dalam menjaga kesehatan mental. Namun, mengungkapkan perasaan saja tidak selalu cukup. Seseorang juga perlu memahami sumber tekanan emosional, mengenali pola pikir yang memengaruhi responsnya, serta mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional.
Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental kembali disorot dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober 2026. Di Yogyakarta, sebanyak 5.204 orang mengikuti kegiatan meditasi dan temu wicara yang mengangkat refleksi diri serta pengelolaan emosi sebagai bagian dari upaya menjaga kesejahteraan psikologis.
Kegiatan bertajuk Tata Hati Indonesia – Yogyakarta 2026 itu diselenggarakan Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) di Gedung Grha Sabha Pramana (GSP), Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Sabtu (10/10/2026). Peserta terdiri dari 3.105 orang yang hadir langsung dan 2.099 orang yang mengikuti secara daring.
Mengenali dan Mengelola Emosi Jadi Bagian Penting Kesehatan Mental
Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan pekerjaan, konflik hubungan, masalah keluarga, hingga pengalaman menyakitkan di masa lalu dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Ketika perasaan tersebut tidak dipahami atau terus dipendam, seseorang bisa mengalami kesulitan menghadapi masalah dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Karena itu, mengenali emosi menjadi salah satu keterampilan penting dalam menjaga kesehatan mental. Seseorang dapat mulai dengan mengidentifikasi perasaan yang muncul, memahami situasi yang memicunya, dan mengevaluasi respons yang selama ini digunakan untuk menghadapi tekanan.
Langkah sederhana seperti berbicara dengan orang terpercaya, menulis jurnal, menjaga pola tidur, berolahraga, atau melakukan latihan relaksasi dapat membantu seseorang merawat kesejahteraan psikologis. Meski begitu, kebutuhan setiap orang berbeda sehingga tidak ada satu metode yang cocok untuk semua kondisi.
Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Tata Hati Indonesia – Yogyakarta 2026. Pada sesi temu wicara, sejumlah peserta yang dipilih secara acak mendapat kesempatan menceritakan persoalan yang sedang mereka hadapi dan berdialog dengan Bunda Arsaningsih serta dr. Rastho Mahotama.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan meditasi SOUL (Spirit of Universal Life). Peserta dipandu untuk mengenali luka batin dan perasaan negatif yang selama ini dipendam, merefleksikan pengalaman pribadi, serta mengisi kembali batin dengan afirmasi positif.





