BNPT Ungkap Ancaman Ideologi Kekerasan Terhadap Anak di Ruang Siber, Ribuan Jiwa Rentan Terpapar

eranasional.com
2 jam lalu
Cover Berita

Medan, ERANASIONAL.COM – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyoroti maraknya penyebaran ideologi kekerasan yang menyasar kelompok usia anak melalui media digital.

Rendahnya pemahaman serta literasi digital disinyalir menjadi celah utama yang dimanfaatkan kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda.

Plt Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT, Irjen Wawan Ridwan, mengungkapkan data terkini yang cukup memprihatinkan.

Berdasarkan penelusuran awal Densus 88 Antiteror Polri, terdeteksi setidaknya 740 anak di 26 provinsi telah terpapar paham kekerasan, di mana 300 di antaranya terhubung langsung dengan jaringan tertentu.

Namun, hasil pemantauan intelijen terbaru menunjukkan estimasi angka yang jauh lebih besar.

“Diskusi terakhir dengan tim intelijen Densus mengungkap potensi anak yang terpapar sejatinya sudah menyentuh angka lebih dari 4.000 jiwa. Ini angka yang sangat mengkhawatirkan karena gejalanya sering tidak disadari oleh lingkungan sekitar,” ujar Wawan dalam agenda Literasi Digital Berbasis Moderasi bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Medan, Selasa (20/10).

Wawan menjelaskan, pergeseran pola belajar anak ke ruang siber—seperti media sosial, video durasi singkat, hingga grup percakapan tertutup—membuka ruang masuk bagi konten kebencian, provokasi, dan doktrin radikalisme.

Riset BNPT di Sumatra Utara pun mengonfirmasi bahwa keterpaparan tinggi di ruang siber berkaitan erat dengan lemahnya literasi digital serta faktor psikologis anak, seperti perasaan terasing atau tidak didengar.

Melihat ancaman tersebut, BNPT mendorong para guru untuk mengambil peran strategis di barisan terdepan.

Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan langkah hukum terhadap jaringan teror, melainkan butuh pendekatan persuasif melalui ruang kelas.

“Guru adalah benteng utama. Anak-anak cenderung meniru perilaku ketimbang sekadar mendengarkan instruksi. Bagaimana tenaga pendidik menyikapi perbedaan dan bermedia sosial akan menjadi contoh nyata,” tutur Wawan.

Ia juga mengimbau para pendidik untuk peka terhadap perubahan sikap murid, seperti kebiasaan menarik diri dari lingkungan sosial, serta aktif memproduksi konten digital yang menyuarakan narasi perdamaian dan toleransi.

Langkah BNPT mendapat apresiasi positif dari Anggota Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso.

Menurutnya, pelibatan guru dalam penguatan literasi digital berbasis moderasi merupakan langkah tepat untuk membendung cara berpikir agresif pada generasi muda.

Sugiat menambahkan, paparan konten kekerasan di ruang digital termasuk game dan tontonan yang tidak sesuai umur berkontribusi memicu fenomena kekerasan remaja di lapangan, seperti maraknya aksi geng motor.

“Banyak anak yang kini mudah melakukan tindakan anarkis saat menghadapi persoalan. Itu terjadi karena pola pikir mereka terbiasa mengonsumsi tayangan kekerasan tanpa pendampingan. Sinergi antara orang tua dan dunia pendidikan sangat krusial untuk membangun cara berpikir yang sehat,” kata Sugiat. []


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mantan KSAD Subagyo HS Tutup Usia, Prabowo: Selamat Jalan Jenderal
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Masalah Gas Industri, RPP Inisiasi Agus Gumiwang Dinilai Jadi Solusi
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Benarkah Pilihan Kopi Cerminkan Kepribadian? Ini Kata Psikiater soal Menu Favorit Kamu
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
5 Kreasi Teh yang Cocok Temani Aktivitas Pagi, Biar Makin Semangat
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Kemensos & CIMA Bahas Kolaborasi Fasilitasi Lulusan Sekolah Rakyat di Maritim
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.