New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Selasa, 20 Oktober 2026, seiring harga minyak berbalik arah, yang meredakan kekhawatiran terkait inflasi. Pergerakan mata uang AS ini juga dipengaruhi oleh penguatan euro dan yen, serta lonjakan nilai poundsterling.
Dikutip dari Investing, Rabu, 21 Oktober 2026, indeks Dolar AS, yang mengukur kinerja mata uang utama dunia tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,3 persen ke level 101,71.
Harga minyak mentah global sempat naik pada hari Selasa, yang menambah kekhawatiran umum bahwa bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk mengatasi tekanan harga yang dipicu oleh minyak. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya cenderung memperkuat dolar AS.
Namun, harga minyak justru jatuh ke zona negatif. Minyak mentah Brent tercatat turun 0,8 persen menjadi USD108,66 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah The New Arab melaporkan Qatar dan Pakistan telah menawarkan rencana "jalan tengah" kepada AS dan Iran yang dapat memenuhi tuntutan kedua belah pihak, sebagaimana disampaikan oleh sumber yang mengetahui upaya mediasi tersebut.
Menurut The New Arab, usulan tersebut menawarkan sekitar USD6 miliar dana Iran yang dibekukan di bank-bank Qatar sebagai "tanggapan parsial" atas tuntutan Teheran untuk mencairkan aset-aset mereka. The New Arab menambahkan usulan tersebut juga mencakup kesediaan Iran untuk mengizinkan kunjungan rahasia oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ke situs-situs nuklirnya.
Baca Juga :
Wall Street Bangkit Didorong Saham Sektor Kesehatan(Ilustrasi. Foto: Freepik) Penjualan obligasi Jepang memicu lonjakan yen Beralih ke mata uang utama lainnya, di Asia, yen Jepang menguat ke level 158,17 per dolar.
Pergerakan ini terjadi setelah investor menunjukkan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penjualan obligasi pemerintah Jepang tenor 20 tahun. Menurut Reuters, lelang tersebut mencatatkan rasio penawaran terhadap jumlah yang ditawarkan (bid-to-cover ratio) sebesar 5,84 kali, rasio tertinggi sejak obligasi tenor 20 tahun pertama kali diperkenalkan pada 1987.
Lonjakan permintaan yang masif ini menyebabkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang tenor 20 tahun turun 4,7 basis poin menjadi 3,726 persen. Euro menguat seiring meredanya kerusuhan di Prancis Di Eropa, mata uang euro stabil setelah sempat menyentuh level terendahnya sejak Mei 2025 pada pekan lalu. Euro tercatat naik 0,2 persen menjadi USD1,1234.
Gejolak sosial di Prancis menunjukkan tanda-tanda mereda untuk sementara waktu setelah pihak berwenang memberlakukan jam malam ketat di Paris, Nice, dan beberapa pusat perkotaan besar lainnya, menyusul aksi protes anti-pemerintah yang diwarnai kekerasan selama beberapa hari.
Meskipun situasi di jalanan tampak lebih tenang untuk sementara, risiko utang negara Prancis tetap menjadi beban utama bagi euro. Selisih imbal hasil (spread) antara obligasi pemerintah Prancis (OAT) tenor 10 tahun dengan obligasi acuan Jerman (Bund) mencapai lebih dari 150 basis poin, yang mencerminkan keraguan berkelanjutan dari kalangan institusional terhadap kondisi keuangan publik Prancis.
Para pelaku pasar valuta asing kini mencermati majelis rendah parlemen Prancis, di mana para anggota parlemen bersiap untuk melakukan pemungutan suara terkait bagian pendapatan dalam rancangan anggaran tahun 2027. Ini menjadi ujian krusial bagi pemerintahan Presiden Emmanuel Macron yang berupaya mengendalikan defisit anggaran sebesar 5,4 persen dari PDB. Poundsterling melonjak seiring data ketenagakerjaan yang beragam Di sisi lain Eropa, poundsterling menguat 0,6 persen menjadi USD1,3380. Pergerakan ini terjadi setelah data ketenagakerjaan yang beragam mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of England (BOE).
Menurut Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics), tingkat pengangguran di Inggris turun lebih besar dari perkiraan menjadi 4,7 persen dalam tiga bulan hingga Agustus. Namun, jumlah lowongan pekerjaan merosot ke level terendah sejak 2014 (di luar periode pandemi), dan pertumbuhan total upah pun melambat.
Data dari HM Revenue and Customs menunjukkan jumlah karyawan dalam daftar gaji (payroll) turun sebanyak 111 ribu orang, atau 0,4 persen, antara Agustus 2025 dan Agustus 2026, namun secara keseluruhan tidak banyak berubah antara Juli dan Agustus, dengan kenaikan sebesar 1.000 orang.




