Salah satu negara di Afrika yakni Ghana berencana melarang ekspor mineral mentah pada 2030. Hal itu ditujukan agar ada peningkatan nilai tambah dari sumber daya alam dan pengembangan industri.
Dikutip dari Bloomberg, Rabu (21/10), hal itu sudah disampaikan langsung oleh Presiden Ghana, John Mahama. Ghana merupakan produsen emas terbesar di Afrika saat ini. Negara tersebut menjadi lokasi operasi sejumlah perusahaan internasional termasuk AngloGold Ashanti Plc, Zijin Mining Group Co. Ltd, dan Gold Fields Ltd yang mengekspor logam mulia tersebut dalam bentuk setengah murni.
“Saya telah menetapkan tujuan yang jelas bahwa pada 2030, mineral mentah tidak boleh lagi keluar dari negara kita. Bauksit, mangan, bijih besi, litium, dan mineral lainnya harus mendukung pengolahan serta pengembangan industri di dalam negeri," kata Mahama.
Mahama mengatakan hal tersebut nantinya akan didukung oleh peraturan berupa undang-undang, persyaratan khusus untuk setiap jenis mineral, serta jadwal implementasi yang jelas untuk aturan tersebut.
“Investor harus memahami kewajiban pengolahan yang menyertai akses terhadap sumber daya kami,” kata Mahama.
Sebenarnya, langkah ini bukan merupakan hal baru. Ghana sebelumnya telah melarang ekspor besi tua dan logam non besi, serta emas mentah yang diproduksi oleh penambang rakyat dan pertambangan skala kecil.
Langkah-langkah tersebut juga merupakan bagian dari upaya yang lebih luas oleh pemerintah negara-negara Afrika untuk meningkatkan pengolahan mineral di dalam negeri. Dengan demikian, negara-negara tersebut dapat mengekspor produk bernilai tambah lebih dan bisa memperkuat pengaruh mereka.
Tak hanya Ghana, Guinea juga tengah mempertimbangkan pembatasan pengiriman bauksit, sementara Zimbabwe melarang ekspor konsentrat litium.
Di sisi lain, Republik Demokratik Kongo telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap volume kobalt yang boleh diekspor dari negara tersebut. Selain itu Guinea, Burkina Faso, Mali, dan Pantai Gading juga telah membangun kilang emas atau berencana melakukannya.





