Aksi protes pelajar di Prancis berkembang menjadi kerusuhan besar-besaran. Investigasi media Amerika Serikat menemukan bahwa di balik kekacauan ini terdapat 54 kelompok yang memobilisasi dan ikut berpartisipasi. Dua pertiga di antaranya bukan kelompok mahasiswa atau pemuda. Di antara kelompok-kelompok tersebut terdapat organisasi komunis, partai sayap kiri radikal, serta jaringan pendanaan dari taipan pro-Komunis Neville Roy Singham.
EtIndonesia.com Prancis dilanda salah satu kerusuhan terparah dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini bermula dari protes pelajar dan kaum muda, tetapi pada akhirnya, ternyata dua pertiga kelompok yang terlibat bukanlah organisasi pelajar!
Investigasi terbaru Fox News di Amerika Serikat menemukan bahwa demonstrasi mahasiswa Prancis pada Oktober beserta jaringan kelompok yang memberikan dukungan melibatkan total 54 organisasi dan gerakan.
Hal yang patut diperhatikan adalah bahwa hanya 16 organisasi, atau sekitar sepertiga dari jumlah keseluruhan, yang merupakan organisasi mahasiswa atau pemuda. Di antaranya terdapat kelompok pemuda komunis dan asosiasi pelajar Muslim.
Sementara itu, 38 kelompok lainnya mencakup organisasi komunis yang dipimpin orang dewasa, serikat pekerja, partai politik, organisasi revolusioner sayap kiri, kelompok advokasi, serta media propaganda internasional.
Organisasi-organisasi komunis sayap kiri radikal ini sedang memobilisasi mahasiswa dan kaum muda di 12 negara Eropa untuk mengkoordinasikan aksi mogok sekolah, mogok kerja, dan demonstrasi lintas negara. Mereka juga menyerukan aksi pemblokiran dan pendudukan.
Dalam foto tersebut tampak taipan teknologi kelahiran AS, Singham (kanan)—yang kini bermukim di Shanghai—bersama istrinya, Evans. (Dave Kotinsky/Getty Images for V-Day)Selain di Prancis, demonstrasi dan bentrokan antara polisi dengan massa belakangan ini juga terjadi di Albania, Belgia, dan Italia.
“Bagaimana mungkin semua ini dianggap sebagai kebetulan? Ini bukan kebetulan. Tidak ada satu pun yang kebetulan di sini. Albania telah menjadi salah satu sasaran dari sebuah operasi serangan yang direncanakan dan dikoordinasikan dengan cermat,” kata Perdana Menteri Albania, Edi Rama pada 19 Oktober 2026.
Hasil investigasi menunjukkan bahwa di balik kerusuhan di Prancis terdapat jaringan pendanaan transnasional sayap kiri radikal dan organisasi politik yang disebut “Chaos Inc.” (Perusahaan Kekacauan).
Salah satu kelompok di dalam jaringan tersebut merupakan organisasi yang berada di bawah jaringan Singham dan didirikan dengan pendanaan dari Neville Roy Singham, seorang taipan teknologi kelahiran Amerika Serikat yang kini tinggal di Shanghai.
Jaringan media propaganda dan organisasi radikal ini menjangkau Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika, serta menyebarluaskan pemberitaan mengenai kerusuhan di Prancis ke seluruh dunia.
Istri Singham, Jodie Evans, juga merupakan salah satu pendiri Code Pink, organisasi sayap kiri radikal yang didanai oleh Singham.
Evans saat ini sedang mempromosikan aksi menentang anggaran militer yang akan digelar di Washington pada November mendatang. Ia menggunakan demonstrasi kaum muda di Prancis, Spanyol, dan India sebagai contoh untuk mendorong masyarakat Amerika Serikat turun ke jalan.
Dari 54 organisasi yang terlibat, terdapat pula kelompok sayap kiri radikal “Rompi Kuning” (Yellow Vests), yang menjadi salah satu kelompok terdepan dalam aksi protes akhir pekan lalu, serta partai sosialis sayap kiri radikal “La France Insoumise” (Prancis Tak Tunduk).
Menurut laporan tersebut, sejak awal organisasi sosialis sayap kiri radikal dan komunis telah membantu merencanakan serta memperluas aksi protes mahasiswa ini.
Ketidakpuasan mahasiswa terhadap kondisi sekolah dan kampus dimanfaatkan untuk memobilisasi gerakan politik yang lebih luas, dengan sasaran menentang kapitalisme, kebijakan penghematan anggaran pemerintah, penegakan hukum oleh polisi, serta belanja militer.
Laporan gabungan Zhang Kexin dan Chen Lingzhi, NTD Asia Pasifik.





