JAKARTA, KOMPAS — Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 317.320 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA sejak 1 September hingga 15 Oktober 2026. Pemantauan dan layanan kesehatan terus diperkuat mengantisipasi peningkatan kasus serupa di masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada 2022–2025, peningkatan kasus ISPA terjadi pada Januari–Maret dan September–November. Pola tersebut diantisipasi melalui pemantauan laporan kasus dan surveilans penyakit untuk mendeteksi perubahan tren serta menyesuaikan langkah pencegahan dan kesiapsiagaan layanan.
Sepanjang 2026, kelompok dewasa menyumbang proporsi kasus ISPA terbesar, yakni 48 persen, disusul remaja sebesar 22 persen. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada masing-masing kelompok usia, mengacu data dinkes, proporsi kasus tertinggi terdapat pada balita.
Adanya pemantauan kasus dan kesiapsiagaan layanan kesehatan diperkuat untuk mengantisipasi perubahan tren di tengah keluhan gangguan pernapasan warga.
Salah satunya dialami Challista (22). Ia harus menghentikan aktivitasnya sementara setelah terdiagnosis ISPA dan influenza A serta. Dokter menyarankan agar ia menjalani isolasi mandiri selama sepekan di rumah.
Sebelum sakit, Challista menjalani jadwal padat dan kerap beraktivitas di Jakarta. Warga Bekasi, Jawa Barat, itu mengaku tidak mengenakan masker selama perjalanan menggunakan sepeda motor. Menurut dia, udara yang dihirup belakangan terasa tidak nyaman.
“Awal mula meriang. Lalu demam sampai badannya sakit,” ujarnya saat dihubungi Kompas, Senin (21/10/2026).
Keluhannya juga mencakup batuk, pilek, dan kesulitan bernapas. Menurut Challista, keluhan tersebut dirasakannya pada sore dan malam hari. Kini, ia menjalani masa isolasi di rumah setelah beberapa hari sebelumnya dipenuhi aktivitas.
Pengalaman serupa pun dialami Indahasna (25). Ia didiagnosis menderita ISPA setelah sebelumnya merasakan gejala batuk, pilek, dan nyeri saat bernapas.
Indahasna menceritakan sebelum ia menderita ISPA. Kala itu sedang dalam jadwal padat dan sering beraktivitas di luar ruangan. Sehubungan dengan itu, ia pun tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Ia juga mengaku sering lupa menggunakan masker selama perjalanan dari tempat tinggalnya menuju kantor.
“Akhirnya saya cek ke dokter. Dari situ dianjurkan untuk bed rest selama 2 pekan,” tuturnya.
Terlepas dari penyakit ISPA, keluhan tenggorokan dan batuk pilek juga dialami Chika (24) yang bekerja di Jakarta Selatan. Ia banyak beraktivitas di luar ruangan dan merasa udara belakangan ini terasa berat untuk dihirup. Terlepas dari kualitas udara, ia mengeluhkan suhu udara belakangan ini juga terasa tinggi.
Chika mengaku mengenakan masker selama perjalanan dari rumah ke tempat kerja. Meski demikian, ia tetap mengalami keluhan pada tenggorokan, disertai batuk dan pilek.
“Saat ini tenggorokan udah mulai enggak enak. Buat menelan juga udah mulai sakit,” ucapnya.
Sementara itu, Daffa Rizdy (25) memperhatikan udara yang tampak berkabut ketika memandang kawasan BSD, Tangerang, dari sebuah gedung tinggi.
“Saya memperhatikan kalau dari gedung itu ke mana-mana seperti berkabut gitu,” ujarnya.
Ia pun merasakan ketidaknyamanan saat berolahraga di luar ruangan. Ketika berlari, napasnya terasa lebih berat hingga mengganggu ritme larinya. Ia mulai mengalami batuk dan sakit tenggorokan.
Di tengah keluhan warga tersebut, kualitas udara Jakarta tercatat berada dalam kategori tidak sehat berdasarkan data IQAir, Rabu (21/10/2026) pukul 09.00 WIB. Indeks kualitas udara Jakarta saat ini mencapai 176 dalam skala US AQI. Kualitas tersebut bersifat fluktuatif.
IQAir mencakup enam polutan utama dalam penilaian kualitas udara, yakni PM10, PM2,5, ozon (O3), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2). Skala US AQI menerjemahkan konsentrasi polutan menjadi kategori kualitas udara, mulai dari baik hingga berbahaya. Nilai 151-200 termasuk kategori tidak sehat.
Pada waktu diceknya kualitas udara, IQAir mencatat partikulat halus PM2,5 sebagai polutan utama di Jakarta, dengan konsentrasi 91 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi ini jauh melampaui acuan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang menyarankan kadar PM2,5 di udara rata-rata tidak lebih dari 15 mikrogram per meter kubik dalam sehari.
Kualitas udara tidak sehat juga tercatat di Cikarang. Data IQAir dari satu stasiun pemantauan di wilayah tersebut menunjukkan indeks 191 pada pukul 08.00 WIB, dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 113 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, kawasan BSD mencatat, indeks 159 pada pukul 07.00 WIB, dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 67 mikrogram per meter kubik, yang juga termasuk kategori tidak sehat.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta memantau tren ISPA melalui laporan harian, mingguan, dan bulanan dari fasilitas kesehatan. Langkah tersebut disertai edukasi pencegahan, deteksi dini gejala yang memerlukan penanganan medis, serta penguatan kesiapsiagaan pelayanan.
Koordinasi lintas sektor juga dilakukan terkait perkembangan kualitas udara dan potensi paparan asap. Perhatian diprioritaskan kepada balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta, seperti asma atau penyakit paru kronis.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan untuk terus memantau informasi kualitas udara melalui laman udara.jakarta.go.id atau aplikasi JAKI. Warga diminta mengikuti rekomendasi aktivitas sesuai kondisi udara setempat, membatasi durasi dan intensitas kegiatan di luar ruangan saat kualitas udara buruk, serta menggunakan masker yang sesuai.
”Masyarakat perlu mewaspadai keluhan seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, mata perih, atau sesak yang muncul maupun memburuk,” ujar Ani dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Ani mengingatkan, sesak napas, napas cepat atau terasa berat, nyeri dada, bibir kebiruan, maupun penurunan kesadaran memerlukan pertolongan medis segera. Kewaspadaan terutama diperlukan pada kelompok rentan.
Dihubungi terpisah, Praktisi Kesehatan Masyarakat dr Ngabila Salama mengingatkan, tampilan udara tidak cukup untuk menilai kualitasnya. Partikulat halus PM2,5 tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.
Meski demikian, ia menekankan bahwa batuk, sakit tenggorokan, dan badan tidak nyaman tidak otomatis menunjukkan ISPA akibat polusi. Infeksi virus dan faktor lain tetap perlu dipertimbangkan. Paparan polusi dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk gejala, terutama pada kelompok rentan.
“Masker membantu mengurangi paparan partikel, tetapi tidak menghilangkan seluruh risiko,” ujar Ngabila.
Bagi warga yang harus bepergian, ia menyarankan penggunaan masker seperti KN95 atau N95 yang terpasang rapat ketika kualitas udara buruk. Aktivitas fisik berat di luar ruangan perlu dikurangi saat polusi meningkat. Begitu pun olahraga dapat dialihkan ke dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik.
Jika keluhan sudah muncul, warga disarankan beristirahat cukup, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengurangi kontak dekat dengan orang lain untuk mencegah kemungkinan penularan. Keluhan yang memburuk atau tidak kunjung membaik perlu diperiksakan. Warga yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau penurunan kesadaran memerlukan pertolongan medis segera.
Ngabila juga menegaskan, pencegahan tidak cukup dibebankan kepada individu. Pemerintah perlu memperkuat pemantauan kualitas udara, pengendalian emisi kendaraan dan industri, serta pengawasan pembakaran terbuka.
Menurut dia, peningkatan kasus ISPA perlu ditelaah melalui data fasilitas kesehatan, sebaran wilayah, dan kelompok usia. Kenaikan jumlah kasus tidak boleh langsung dikaitkan dengan polusi tetapi perlu ada analisis lebih lanjut. Sebab, ada faktor penularan infeksi, cuaca, perilaku, dan kondisi individu yang perlu diperhitungkan.





