Rela Antre Beras Murah, Pengayuh Becak Asal Pasirsari Berjuang Sambung Hidup

eranasional.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pekalongan, ERANASIONAL.COM – Suasana Lapangan Mataram, Kota Pekalongan, tampak riuh pada Rabu (21/10/2026) pagi. Ratusan warga berdiri berjejer dalam barisan antrean panjang demi mendapatkan sembako murah dalam gelaran Gerakan Pangan Murah (GPM).

Di antara kerumunan tersebut, tampak Abdul Yajid (61), warga asal Kelurahan Pasirsari. Ia ikut mengantre bersama teman-teman sebayanya yang sesama profesi.

Usai mengantre sekitar 15 menit, wajah pria tua itu akhirnya menyunggingkan senyum lega sambil memikul beras premium dan menggenggam erat kantong plastik berisi minyak goreng serta gula pasir.

“Saya tahu ada pangan murah ini dari saudara. Alhamdulillah, harga di sini ada selisih lumayan dibanding warung biasa,” ujar Abdul Yajid seraya membenahi barang bawaannya.

Bagi seorang pengayuh becak seperti Abdul Yajid, berdiri sebentar tersengat matahari demi selisih harga ratusan hingga ribuan rupiah terasa sangat berarti.

Di tengah sepinya penumpang, potongan harga bahan pokok menjadi penolong utama dapur rumah tangganya.

“Beras premium yang saya beli ini selisihnya sampai Rp 10 ribu, gula beda Rp 1.000, dan minyak selisih Rp 500. Ini sangat membantu kami di kondisi ekonomi yang serba sulit,” tuturnya dengan suara agak bergetar.

Kehidupan di jalanan Kota Pekalongan kini makin tidak menentu baginya. Penghasilannya yang fluktuatif kerap membuatnya harus memutar otak hanya untuk sekadar membeli beras harian.

“Pekerjaan saya cuma narik becak. Kadang sehari ada penumpang, kadang sama sekali tidak ada. Sekali narik paling cuma dapat Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu,” ungkapnya emosional.

Mata tua Abdul Yajid berkaca-kaca saat menceritakan perjuangan rakyat kecil dalam memenuhi kebutuhan pokok. Kehadiran pasar murah ini diakuinya menjadi angin segar di tengah himpitan hidup.

“Intinya kami rakyat miskin susah cari makan, makanya kami rela ikut ngantre beli kebutuhan ini. Sangat membantu,” tambah Abdul Yajid polos.

Kondisi ekonomi yang berat ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh pengayuh becak. Ani (44), warga Kelurahan Podosugih, juga merasakan hal yang senada.

Sebagai seorang karyawan toko, Ani memahami betul bagaimana kondisi pasar dan daya beli masyarakat yang kian merosot belakangan ini.

“Tadi saya cuma beli beras dan minyak goreng saja, sesuai kebutuhan. Kalau harga di luar sana, bedanya memang lumayan terasa,” kata Ani usai bertransaksi.

Pengalamannya bekerja di sektor perdagangan membuatnya sadar bahwa masyarakat kini harus lebih bijak membelanjakan uang. Berburu bahan pangan murah menjadi solusi realistis bagi banyak keluarga.

“Suasana ekonomi sekarang memang sulit, saya yang kerja di toko jadi paham. Daya beli masyarakat sedang turun, jadi warga pasti mencari yang harganya paling murah,” jelas Ani.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat yang rela mengantre sejak pagi, Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, memastikan pemerintah hadir memberikan solusi nyata di tengah kesulitan warga.

Pria yang akrab disapa Aaf ini menjelaskan bahwa Gerakan Pangan Murah kali ini didanai langsung dari anggaran daerah demi menjaga stabilitas harga pangan.

“Alhamdulillah Kota Pekalongan bisa menggelar Gerakan Pangan Murah. Ini pertama kalinya kita menggunakan APBD secara mandiri,” ungkap Wali Kota Achmad Afzan Arslan Djunaid saat meninjau lokasi.

Meskipun pemangkasan dan efisiensi anggaran terjadi di berbagai sektor, Pemkot Pekalongan bergeming untuk tetap mempertahankan alokasi jaring pengaman sosial.

“Meskipun ada efisiensi dan refocusing, kita fokus agar bantuan sosial tidak dihapus. Menurut kami ini sangat penting dan bermanfaat untuk warga,” tegas Aaf.

Selain menjaga stabilitas harga pangan, kegiatan ini juga dipadukan dengan agenda prioritas daerah, yakni percepatan penurunan angka stunting pada anak.

“Kita juga dikejar target penurunan stunting. Alhamdulillah sekarang sudah turun di angka 19 persen dan masuk peringkat menengah di Jawa Tengah. Target kita tahun ini bisa turun jadi 14 persen,” terangnya optimis.

Guna memuluskan program ketahanan pangan ini, Pemkot Pekalongan juga menjalin sinergi erat bersama jajaran TNI dan Polri setempat.

“Komoditas di GPM ini lengkap, ada beras, minyak, gula, hingga telur. Mudah-mudahan bantuan sosial dan sinergi seperti ini bisa terus kita lakukan secara berkelanjutan,” tutupnya. (em-aha)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Sampai Libatkan Polri, Teguran MSCI Picu Reformasi Pasar Modal
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kapolri Suyudi soal Kasus Polisi Tembak Polisi di Pondok Cabe: Dalam Penyidikan Propam Polri
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
BEM UI Ungkap Alasan Pilih Tugu Tani untuk Demo
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
TKDN Mobil Listrik Wajib 60 Persen, Leapmotor Harap Ada Kelonggaran
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Melonjak 5,65 Persen ke 5.278,89, Investor Mulai Borong Saham
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.