Seratus Kali Wisuda, Seribu Seratus Perjalanan

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Pada Sabtu 24 Oktober 2026, Universitas Amikom Yogyakarta akan melaksanakan Wisuda Periode 100. Sebanyak 1.100 peserta wisuda akan mengikuti prosesi yang dibagi dalam dua sesi. Ada hal yang membuat wisuda kali ini terasa berbeda bagi saya. Saya mendapat undangan untuk mengikuti prosesi pada sesi pertama. Pada sesi tersebut, akan diwisuda tiga mahasiswa yang pernah saya bimbing hingga menyelesaikan pendidikan Doktoral.

Biasanya, sebagai Direktur LPPM, saya tidak termasuk yang diundang untuk mengikuti prosesi wisuda. Karena itu, undangan kali ini menjadi kesempatan yang istimewa. Agustus 2026 lalu, saya menyaksikan wisuda dari kursi orang tua di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kali ini saya akan menyaksikannya dari kursi yang berbeda, kursi pembimbing yang melihat tiga orang, yang pernah berada dalam perjalanan akademik yang panjang, akhirnya sampai pada satu titik yang disebut wisuda.

Di situlah saya kembali berpikir, sebenarnya apa yang sedang kita rayakan ketika sebuah wisuda dilaksanakan? Tentu saja, kita merayakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Ada toga, samir, ijazah, foto bersama, ucapan selamat, dan wajah-wajah bahagia keluarga yang datang mendampingi. Namun demikian, wisuda sesungguhnya adalah puncak dari perjalanan yang tidak selalu terlihat.

Di balik satu nama yang dipanggil ke panggung, ada semester-semester yang telah dilalui. Ada tugas yang dikerjakan, ujian yang dihadapi, penelitian yang diperbaiki berkali-kali, dosen pembimbing yang mendampingi, teman-teman yang saling menguatkan, dan keluarga yang mungkin tidak pernah berhenti memberikan dukungan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Untuk pendidikan Doktor, perjalanan itu bahkan lebih panjang, mulai menemukan persoalan, membangun argumentasi, melakukan penelitian, menghadapi kritik, memperbaiki naskah, mempertahankan gagasan, hingga akhirnya memperoleh pengakuan akademik.

Kali ini, Universitas Amikom Yogyakarta mencapai Wisuda Periode 100. Angka 100 tentu saja bukan sekadar urutan, tetapi merupakan penanda perjalanan sebuah perguruan tinggi dalam mendampingi generasi demi generasi. Seratus kali prosesi wisuda berarti telah ada begitu banyak orang yang datang ke kampus dengan harapan masing-masing, kemudian pergi membawa ilmu, pengalaman, dan identitas sebagai bagian dari almamater.

Setelah itu, para wisudawan akan menempuh jalan yang berbeda. Ada yang bekerja sebagai profesional, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau menjadi peneliti. Ada pula yang bekerja di bidang yang sama sekali berbeda dengan program studinya. Tidak ada satu jalan yang harus ditempuh semua orang. Yang penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh selama berada di perguruan tinggi menemukan bentuknya dalam kehidupan.

Karena itu, pertanyaan setelah wisuda pasti bukan lagi seperti saat masih menjadi mahasiswa, “Kapan lulus?” Pertanyaannya berubah menjadi, “Setelah lulus, akan menjadi apa?” Mungkin yang lebih penting lagi, “Apa yang akan dilakukan dengan ilmu yang telah diperoleh?” Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika dunia berubah begitu cepat. Teknologi berkembang, kecerdasan artifisial mengubah cara manusia bekerja, jenis pekerjaan baru bermunculan, sementara sebagian pekerjaan lama mengalami perubahan bentuk.

Di sinilah saya melihat makna lain dari perjalanan seratus kali wisuda. Keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak hanya dilihat dari gedung yang berdiri, program studi yang bertambah, atau capaian institusional. Namun apa yang dilakukan para lulusannya setelah meninggalkan kampus juga dapat menjadi cermin. Sebab sebuah perguruan tinggi tidak pernah benar-benar selesai ketika mahasiswanya meninggalkan kampus.

Di sinilah gerakan Amikomisme menemukan makna yang lebih luas. Kebanggaan, loyalitas, dan rasa memiliki yang ingin ditumbuhkan tidak berhenti di gerbang kampus. Alumni adalah wajah Universitas Amikom Yogyakarta di tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh spanduk dan baliho.

Saya teringat pesan Rektor ITB kepada para wisudawannya, “pergilah sejauh-jauhnya, tetapi jangan lupa pulang.” Pulang tidak harus berarti kembali secara fisik ke kampus. Pulang bisa berupa berbagi pengalaman kepada adik tingkat, membuka kesempatan magang dan kerja sama, memberi masukan tentang kurikulum berdasarkan kebutuhan dunia kerja, atau menjaga nama baik almamater dengan bekerja secara jujur dan sungguh-sungguh.

Mungkin itulah sebabnya sebuah wisuda selalu memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia adalah akhir dari sebuah perjalanan pendidikan. Di sisi lain, ia adalah awal dari perjalanan pengabdian yang sesungguhnya. Al-Qur'an mengingatkan, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). Ayat tersebut terasa relevan pada hari wisuda. Sebab di balik gelar yang diraih selalu ada usaha dan proses yang telah dilalui. Setelahnya, masih ada ruang yang luas untuk mengubah usaha dan ilmu itu menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Bagi para wisudawan dan wisudawati Universitas Amikom Yogyakarta, Wisuda Periode 100 mungkin akan menjadi tanggal yang kelak dikenang. Bagi institusi, ia menjadi tonggak perjalanan. Bagi keluarga, ia menjadi buah dari doa dan penantian. Bagi para lulusan, ia adalah pintu menuju perjalanan berikutnya.

Seratus kali wisuda. Seribu seratus perjalanan. Masing-masing berbeda. Masing-masing membawa cerita. Tetapi semuanya bertemu pada satu harapan, bahwa ilmu yang telah diperoleh tidak berhenti sebagai gelar, melainkan tumbuh menjadi karya dan kemanfaatan. Selamat atas Wisuda Periode 100 Universitas Amikom Yogyakarta. Selamat melanjutkan perjalanan. Wallāhu a'lam.

 

 

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang PSM vs Persebaya di GBH: Ricky Pratama Tebar Ancaman terhadap Mantan
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Kompolnas soroti pengawasan senjata api dan budaya senior-junior Polri
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Deposit Facility Naik Jadi 5%
• 17 menit lalukatadata.co.id
thumb
Komdigi Gelar 'Digital Youth Movement' di UIN Mataram Demi Cetak Talenta Gemilang NTB
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Serhou Guirassy bawa Dortmund menang 2-1 atas Sabah
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.