Taiz: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan lebih dari 1,6 juta anak di Provinsi Taiz, Yaman, terancam kehilangan akses terhadap air bersih akibat pertempuran dan kelangkaan bahan bakar yang mengganggu layanan penting.
Perwakilan Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) di Yaman, Akhil Iyer, mengatakan bahwa sistem penyediaan air yang melayani sekitar 3 juta orang, termasuk sedikitnya 1,6 juta anak, berada dalam risiko akibat terganggunya jalur pasokan penting.
“Kelangkaan diesel mengancam akan menghentikan pompa air, sementara biaya pengiriman air menggunakan truk telah meningkat tiga kali lipat sejak eskalasi terbaru ini,” kata Iyer kepada wartawan di Jenewa, dikutip dari Anadolu, Rabu, 21 Oktober 2026.
Ia menambahkan, lebih dari 168.000 anak telah menjalani pemeriksaan malnutrisi di Taiz sepanjang tahun ini. Dari jumlah tersebut, lebih dari 52.000 anak ditemukan mengalami malnutrisi akut, atau hampir sepertiga dari anak-anak yang diperiksa.
“Bagi anak-anak di Taiz, kelaparan, air yang tidak aman, dan penyakit menjadi kombinasi yang semakin berbahaya,” ujarnya.
Juru bicara Badan Pengungsi PBB (UNHCR), Matthew Saltmarsh, mengatakan jumlah pengungsi di seluruh Yaman telah melampaui 250.000 orang per 17 Oktober. Angka tersebut meningkat dari hampir 213.000 orang yang dilaporkan sebelumnya.
Menurut Saltmarsh, Taiz menyumbang 76% dari jumlah orang yang meninggalkan wilayah terdampak dan menampung 52% dari pengungsi baru.
UNHCR menyebut tempat tinggal sebagai kebutuhan yang paling sering dilaporkan keluarga pengungsi baru, disusul bantuan pangan dan uang tunai.
Badan tersebut telah menilai kondisi 12.283 rumah tangga pengungsi di wilayah Abyan, Aden, Marib, Lahj, dan Taiz. Dari jumlah itu, sekitar 2.050 rumah tangga tidak memiliki tempat tinggal. Rumah Sakit Hadapi Kekurangan Kritis Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tarik Jasarevic, memperingatkan bahwa 12 rumah sakit di Taiz hanya memiliki persediaan bahan bakar untuk sekitar empat hari. Sementara itu, dari 127 jenis obat esensial, sebanyak 115 jenis hanya tersedia untuk sekitar satu minggu atau kurang.
WHO menyatakan krisis kemanusiaan dan kesehatan di Yaman memburuk dengan cepat, sementara sistem kesehatan Taiz berada dalam “risiko kritis”.
Jasarevic mengatakan 1.110 pasien dialisis, 192 pasien perawatan intensif, dan 154 bayi baru lahir yang dirawat dalam inkubator bergantung pada layanan rumah sakit yang tidak terputus.
Jumlah kasus suspek kolera mingguan juga meningkat tajam, dari 221 menjadi 683 kasus antara pekan epidemiologi ke-36 dan ke-40, menurut WHO.
Dari total kebutuhan dana sebesar USD31 juta untuk respons darurat selama 90 hari, baru USD3,8 juta yang berhasil dihimpun. Dengan demikian, masih terdapat kekurangan pendanaan sebesar USD27,2 juta.
Badan-badan PBB mendesak seluruh pihak untuk melindungi warga sipil, menjaga fasilitas air dan kesehatan, serta memastikan akses kemanusiaan yang aman guna mencegah situasi semakin memburuk.
Baca juga: PBB Sebut Akses Air Bersih Warga Gaza Jauh di Bawah Standar Darurat




