HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Memperingati momentum Hari Batik Nasional, tim Program Inovasi Seni Nusantara Universitas Negeri Makassar (UNM) menghadirkan inovasi pengembangan motif Tenun Sutera Bugis melalui pameran RUPA SABBE: Transformasi Motif Tenun Sutera Bugis ke dalam Desain Batik.
Pameran yang berlangsung pada 2–8 Oktober 2026 di Galeri Colli’ Pakue, Fakultas Seni dan Desain (FSD) UNM, ini memperlihatkan potensi warisan budaya lokal untuk dikembangkan menjadi karya desain kontemporer melalui pendekatan digital.
RUPA SABBE merupakan salah satu luaran Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Anggaran 2026, skema hibah pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan judul kegiatan “Transformasi Motif Tenun Sutera Bugis Berbasis Digital ke dalam Desain Batik sebagai Strategi Peningkatan Produk dan Daya Saing Lini Studio Batik”.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim Universitas Negeri Makassar yang diketuai Andi Fauziyah Hijrina Fatimah, S.Ds., M.A., bersama mitra Lini Studio Batik yang diwakili oleh Fantri Pribadi.
Pembukaan pameran dilakukan oleh Satriadi, S.Pd., M.Sn., Plt. Dekan Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV). Pameran ini menjadi ruang apresiasi bagi hasil eksplorasi motif Tenun Sutera Bugis atau Lipa’ Sabbe yang dikembangkan menjadi alternatif desain batik dengan tetap memperhatikan keterkaitannya dengan identitas budaya Bugis.
Satriadi berharap pameran tersebut dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan seni dan desain yang bersumber dari kekayaan budaya lokal.
“Pameran RUPA SABBE diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan kreativitas seni dan desain yang berangkat dari kekayaan budaya lokal. Inisiatif ini menunjukkan bahwa warisan budaya, seperti motif Tenun Sutera Bugis, memiliki potensi untuk terus dikembangkan menjadi karya inovatif yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Satriadi.
Ketua tim pelaksana RUPA SABBE, Andi Fauziyah Hijrina Fatimah, S.Ds., M.A., menjelaskan bahwa program ini berangkat dari kebutuhan mitra untuk memperkaya referensi visual, meningkatkan variasi desain, dan membuka peluang pengembangan produk batik berbasis budaya lokal.
“Melalui RUPA SABBE, kami ingin menunjukkan bahwa warisan budaya tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Motif Tenun Sutera Bugis memiliki potensi untuk terus dikembangkan melalui pendekatan desain digital tanpa kehilangan keterkaitannya dengan identitas budaya yang melahirkannya.
Kami berharap inovasi ini tidak hanya menghasilkan alternatif desain batik, tetapi juga memberikan referensi visual dan keterampilan baru bagi Lini Studio Batik untuk mengembangkan produk yang memiliki karakter lokal dan daya saing,” jelas Andi Fauziyah.
Proses pengembangan karya diawali dengan riset dan eksplorasi motif Tenun Sutera Bugis, kemudian dilanjutkan dengan dokumentasi serta digitalisasi menggunakan aplikasi CorelDRAW. Motif yang telah didigitalisasi dikembangkan melalui eksplorasi bentuk, komposisi, pola berulang (repeat pattern), dan variasi warna (colorway) untuk menghasilkan alternatif desain yang dapat diterapkan dalam pengembangan batik.
Pendekatan digital digunakan sebagai alat bantu dalam proses perancangan. Alternatif desain yang dihasilkan selanjutnya diarahkan untuk diterapkan melalui teknik batik cap, dengan tetap melibatkan keterampilan manual perajin. Dengan demikian, program ini menghubungkan riset motif, kreativitas desain, dan peluang pengembangan produk berbasis budaya lokal.
Selain pengembangan desain, tim pelaksana juga melaksanakan sosialisasi, lokakarya, dan pelatihan desain digital bagi mitra. Melalui kegiatan tersebut, anggota Lini Studio Batik memperoleh pengalaman dalam menggunakan CorelDRAW, mengolah motif, serta mengembangkan pola dan variasi desain secara lebih mandiri.
Bagi mitra, hasil pengembangan ini diharapkan menjadi sumber referensi visual yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas pilihan desain dan mendukung diversifikasi produk. Arsip digital motif yang dikembangkan dalam program juga diarahkan menjadi bank referensi yang dapat digunakan secara berkelanjutan dalam proses perancangan berikutnya.
Penyelenggaraan RUPA SABBE bertepatan dengan Hari Batik Nasional memberikan makna tersendiri bagi upaya pengembangan tersebut. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi, selama proses pengembangan tetap memperhatikan sumber inspirasi dan konteks budaya yang mendasarinya.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi dan pelaku industri kreatif, RUPA SABBE juga memperlihatkan peran riset dan pengembangan desain dalam membuka peluang pemanfaatan kekayaan budaya untuk menghasilkan inovasi. Perguruan tinggi berkontribusi melalui riset, eksplorasi, dan pengembangan visual, sedangkan mitra berperan menghubungkan hasil inovasi dengan kebutuhan produksi dan pengembangan produk.
Melalui dukungan Program Inovasi Seni Nusantara, tim Universitas Negeri Makassar berharap pengembangan motif Tenun Sutera Bugis dapat berlanjut setelah pameran berakhir. Inovasi ini diharapkan tidak hanya memperluas apresiasi terhadap warisan budaya Bugis, tetapi juga mendukung pengembangan desain dan produk batik yang memiliki karakter lokal, nilai kreatif, dan peluang ekonomi.
Mengusung semangat “Dari Tenun, Menjadi Rupa Baru”, RUPA SABBE menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan yang dijaga, melainkan sumber pengetahuan dan kreativitas yang dapat terus ditafsirkan serta dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman. (*)




