Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Simulasi Gempa Bumi serentak pada Rabu (21/10) di sejumlah lokasi, mulai dari gedung perkantoran pemerintahan, kantor kecamatan dan kelurahan hingga gedung sekolah.
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana sehingga masyarakat dapat memahami langkah menyelamatkan diri yang tepat saat terjadi gempa bumi.
Salah satu lokasi yang menggelar simulasi ini yakni di SDN Pejaten Timur 11, Jakarta Selatan. Pada kegiatan tersebut terdapat dua tahapan yang diikuti oleh siswa yaitu simulasi saat gempa berlangsung dan setelah terjadinya gempa bumi.
Ketika terjadi gempa bumi sirine penanda akan berbunyi dan para siswa dipandu oleh guru untuk menutupi bagian kepala menggunakan tangan sambil bergegas menuju bawah meja untuk melindungi diri dari potensi runtuhnya atap bangunan.
Setelah itu akan diumumkan dari pengeras suara atau peluit sebagai informasi bahwa gempa sudah tidak berguncang. Kemudian para siswa akan dievakuasi menuju titik kumpul yang diawali oleh siswa yang berada di lantai paling atas.
Pada evakuasi ini siswa akan didampingi oleh dua guru dengan salah satunya berada di barisan depan untuk memandu saat menuruni anak tangga. Sementata satu guru di barisan belakang akan memberi petunjuk ke guru di lantai bawah bahwa siswa di lantai atas sudah berhasil di evakuasi.
Para siswa di lantai bawah ini lalu dapat berjalan dan melanjutkan proses evakuasi menuju titik kumpul yang berada di tengah lapangan sebagai lokasi aman bagi siswa ketika terjadinya bencana gempa bumi.
Wakil Kepala Sekolah SDN Pejaten Timur 11 Jakarta, Didik Rahmadi menyebut bahwa simulasi ini penting untuk memberikan pemahaman ke siswa terkait evakuasi bencana. "Ketika gempa bumi benar-benar terjadi, para siswa akan teratur sehingga mengurangi resiko cedera," jelasnya.




