Peneliti, investor, dan pelaku industri saling bertemu di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (21/10).
Pertemuan ini menjadi bagian dari agenda Global Innovation and Future Technology Summit (GIFTS) 2026 yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2026.
Agenda tersebut dibuka langsung oleh Rektor UGM, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY, hingga Principal Education Specialist Asian Development Bank (ADB). Dalam dua hari, sejumlah agenda telah disiapkan.
Ketua KADIN DIY, GKR Mangkubumi, menilai keterlibatan dunia usaha dibutuhkan untuk menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan pasar.
Menurutnya, Yogyakarta telah memiliki modal besar terkait potensi pasar dengan berdirinya kampus-kampus, hingga kreativitas masyarakat.
“Kita menyadari bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki modal besar berupa perguruan tinggi, sumber daya manusia unggul, kreativitas, serta ekosistem kewirausahaan yang terus berkembang,” kata GKR Mangkubumi dalam sambutannya di agenda tersebut, Rabu (21/10).
“Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diterjemahkan menjadi produk, teknologi, dan solusi yang benar-benar dibutuhkan pasar,” tambahnya.
KADIN DIY, kata dia, siap mendorong keterlibatan dunia usaha dalam pengembangan inovasi agar hasil penelitian memiliki peluang untuk diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut.
Sementara itu Rektor UGM, Ova Emilia, mengatakan keberhasilan inovasi tidak cukup diukur dari nilai ekonomi yang dihasilkan.
Dampak inovasi terhadap masyarakat dan lingkungan serta tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan juga perlu diperhatikan.
“Kolaborasi dengan berbagai pihak dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan sangat diperlukan,” kata Ova.
Dua Hari, 70 Kegiatan
Adapun dalam gelaran agenda tersebut, terdapat 70 kegiatan yang akan digelar dalam dua hari. Beberapa booth juga tersedia di GIK UGM sehingga pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan perusahaan.
Agenda lainnya juga mencakup business matchmaking, investor speed dating, pameran inovasi, hingga pendampingan perusahaan rintisan (startup grooming), serta pendampingan pengembangan riset menuju bisnis.
Pameran dalam forum ini juga mempertemukan lima hasil riset kampus yang terdiri dari UGM, UI, ITB, IPB, dan ITS. Pameran tersebut mencakup produk inovasi di bidang teknologi, medis, hingga pangan.
Principal Education Specialist Asian Development Bank (ADB), Yumiko Yamakawa, menyebut sejumlah bidang dinilai berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi, antara lain agroindustri, alat kesehatan, energi, pengelolaan air dan sampah, serta ketangguhan menghadapi bencana.
Keberhasilan ekosistem inovasi, menurut Yamakawa, perlu dilihat dari nilai nyata yang dihasilkan bagi Indonesia, bukan semata-mata dari jumlah penelitian.





