Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengungkap hasil operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan dry ice untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, jarak pandang di sejumlah wilayah yang sebelumnya di bawah 1.000 meter kini bertambah menjadi 7.000 meter atau 7 kilometer.
“Ya artinya kita sudah melakukan upaya-upaya untuk penanggulangan-penanggulangan karhutla ini, kita sudah melancarkan beberapa operasi modifikasi cuaca ya dengan menggunakan dry ice,” kata Kristomei di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).
Kristomei mengatakan hari ini BNPB menerbangkan lima sorti untuk operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah dan satu sorti di Sumatera Selatan.
“Per hari ini aja kita menerbangkan lima sorti di Kalimantan Tengah dan satu sorti di Sumatera Selatan. Jadi sudah jarak pandangnya terbuka, yang tadi hambatannya di bawah 1.000 meter, ini jadi 7.000 meter,” ujarnya.
Menurut Kristomei, membaiknya jarak pandang tersebut membantu pemerintah mempercepat penanganan karhutla.
“Ya gitu jadi, itu kan upaya-upaya kita dalam rangka modifikasi cuaca sehingga kita bisa mempercepat penanggulangan kebakaran hutan ini, gitu ya,” katanya.
BNPB akan melanjutkan penggunaan dry ice di wilayah yang belum turun hujan. Kristomei menyebut metode tersebut cukup efektif saat diterapkan di Sumatera Selatan.
“Ya tentunya untuk daerah-daerah yang belum turun hujan, kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca ini dengan penaburan dry ice tadi. Kan kita lihat di Sumatera Selatan cukup efektif,” ujarnya.
Kristomei menjelaskan dry ice digunakan untuk membantu membuka lapisan asap sehingga sinar matahari dapat masuk dan memicu proses pembentukan awan hujan.
“Dry ice itu kan suatu teknologi yang membuka asap itu kan tidak bisa naik lagi ya, tertutup, itu dibuka sehingga awan apa, sinar matahari bisa masuk memicu presipitasi penguapan sehingga terbentuk awan hujan,” kata Kristomei.
Setelah awan hujan terbentuk, OMC kemudian dilanjutkan dengan penyemaian NaCl untuk mendorong turunnya hujan.
“Baru nanti dilanjutkan OMC dengan menggunakan NaCl untuk supaya bisa turun hujan, gitu ya,” ujarnya.
Kristomei mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan agar penggunaan dry ice yang dinilai efektif itu diterapkan di wilayah yang masih mengalami karhutla.
“Kalau memang kita anggap kemarin kita sudah dapat perintah dari Bapak Presiden bahwa dengan penggunaan dry ice ini cukup efektif untuk membantu menurunkan hujan, ya kita gunakan di seluruh wilayah-wilayah yang memang saat ini masih ada kebakaran-kebakaran hutan,” katanya.
BNPB juga memperbarui daftar provinsi prioritas penanganan. Riau dikeluarkan dari daftar setelah hujan turun, sementara Papua Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur menjadi wilayah prioritas baru.
“Jadi dari enam provinsi yang kita bilang kemarin skala prioritas turun hujan, Riau sudah kita keluarkan. Tetapi ada tambahan tiga baru yaitu Provinsi Papua Selatan, Sulawesi Tengah gitu ya, dan Kalimantan Timur,” ujar Kristomei.
“Ya karena masih ada titik api di sana, itu yang kita sedang upayakan terus,” lanjutnya.
Kristomei menyebut operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di empat provinsi. Dari jumlah tersebut, hujan berhasil turun di tiga provinsi. Ia mencontohkan hujan berhasil turun di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan.
“Di seperti di Kalimantan Barat, itu ada tiga belas kabupaten yang bisa turun hujan, kemudian di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan gitu ya,” ujar Kristomei.
BNPB, kata dia, akan terus mencoba metode tersebut di wilayah yang kondisi atmosfernya memungkinkan untuk memicu hujan.
“Itu cukup efektif sehingga kita akan coba terus ke wilayah-wilayah yang memang saat ini masih tertutup awan dan bisa memancing hujan untuk segera turun. Gitu ya,” pungkasnya.





