Jakarta, VIVA – Indonesia terus memperluas pasar ekspor produk olahan untuk meningkatkan perdagangan dengan negara mitra. Salah satu komoditas yang dikirim ke pasar internasional adalah kopi olahan yang diproduksi di dalam negeri.
Ekspor tersebut dilakukan oleh PT Nestle Indonesia untuk produk kopi siap konsumsi yang diproduksi di Indonesia. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, pengiriman ke Australia merupakan bagian dari ekspor produk kopi Indonesia ke sejumlah negara.
"Secara simbolis kita melepas ekspor ke Australia, tapi sebenarnya kita juga melakukan ekspor ke berbagai negara untuk produk kopi dari Indonesia," kata Budi di Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, ICE BSD, belum lama ini.
Budi menyampaikan, perusahaan tersebut melibatkan petani kopi, peternak sapi, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam penyediaan bahan baku. Ia juga mengatakan produsen makanan dan minuman tersebut mendukung pengembangan produk lokal agar dapat memenuhi standar global.
Kerja sama antara Kementerian Perdagangan dan perusahaan tersebut turut mencakup upaya peningkatan daya saing petani serta produktivitas komoditas pertanian dalam negeri. Kedua pihak juga menandatangani nota kesepahaman untuk mendorong ekspor produk olahan dan bahan baku dari Indonesia ke pasar internasional.
“Ini mencerminkan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat daya saing sektor manufaktur Indonesia. Saya berharap kolaborasi ini dapat meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia,” papar Presiden Direktur perusahaan, Georgios Badaro.
Perusahaan menyatakan telah mengekspor lebih dari 70 jenis produk ke lebih dari 30 negara, antara lain Filipina, Bangladesh, Australia, serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Produk yang diekspor mencakup berbagai kategori, termasuk kopi dan minuman cokelat.
“Kami berharap dapat terus memperkuat ekosistem industri dan pertanian nasional, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Direktur Corporate Affairs perusahaan, Fajar Dewantara.
Target ekspor Rp10 triliun tersebut berlaku untuk tiga tahun. Sementara itu, dampaknya terhadap petani dan pemasok lokal akan bergantung pada pelaksanaan ekspor serta kebutuhan bahan baku selama periode kerja sama.





