Beri Kuliah di NIU, JK Beberkan Alasan Transisi Energi Tak Mudah: Butuh Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

viva.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menegaskan transisi menuju energi hijau membutuhkan perencanaan matang dan tidak dapat diwujudkan secara instan.

Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, setiap sumber energi terbarukan memiliki keterbatasan yang perlu diperhitungkan.

Baca Juga :
Keren! JK Maraton Kuliah Umum di 3 Universitas Top AS, Bahas Perdamaian hingga Masa Depan Indonesia
Airlangga Ungkap Pembagian Kementerian di Bawah Kemenko Hilirisasi Masih Digodok Pemerintah

Hal itu disampaikan JK dalam kuliah kelima Vice President Kalla Lecture Series di Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Illinois, Amerika Serikat, Selasa pagi, 20 Oktober 2026, waktu setempat.

Kuliah bertajuk “Making the Green Transition Work : Industry, Technology, and Jobs in Indonesia’s Political Economy” tersebut dihadiri sekitar 100 mahasiswa di LaTourette Hall.

“Sekarang ini, hampir tidak ada aspek kehidupan manusia yang tidak membutuhkan energi. Gaya hidup kita sudah berubah. Mengocok telur, menyikat gigi, hingga menggunakan telepon genggam kini banyak yang bergantung pada teknologi dan listrik,” ujar JK dikutip Kamis (22/10/2026).

Menurut JK, perubahan gaya hidup tersebut membuat kebutuhan energi terus meningkat.

Sementara itu, energi yang selama ini banyak digunakan masih bersumber dari bahan bakar fosil, seperti batu bara dan diesel, yang persediaannya terbatas serta menghasilkan polusi.

“Karena itu, kita harus beralih ke energi yang lebih bersih. Tetapi transisi energi tidak mudah, sebab setiap sumber energi memiliki tantangan teknis dan keterbatasan masing-masing,” katanya.

Setiap Sumber Energi Hijau Memiliki Tantangan

JK menjelaskan, perubahan iklim turut mempersulit pengembangan energi terbarukan. Kekeringan, misalnya, dapat menurunkan debit air sungai dan bendungan sehingga memengaruhi kemampuan pembangkit listrik tenaga air atau hydropower dalam menghasilkan listrik.

Energi angin juga tidak dapat dikembangkan secara optimal di semua wilayah karena membutuhkan kondisi angin yang memadai dan relatif konsisten.

Adapun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menghadapi tantangan kebutuhan lahan, durasi penyinaran matahari, serta kondisi cuaca. Menurut paparan JK, kebutuhan lahan dan efektivitas panel surya perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi serta skala pengembangan pembangkit.

“Energi surya juga bergantung pada kondisi alam. Ketika cuaca mendung atau hujan, produksi listrik menurun. Karena itu, kita harus memperhitungkan teknologi, ketersediaan lahan, dan kondisi setiap wilayah,” ujar JK.

Baca Juga :
Bahlil Rangkap Menko dan Menteri ESDM, Tetap Berkantor di Kementerian ESDM
Bukan Sekadar Urusan Tambang, Ini Tugas Menko Hilirisasi dan Transisi Energi yang Dipimpin Bahlil
Silfester Belum Dipenjara Bertahun-tahun, Kejagung: Itu Kewenangan Jaksa Eksekutor

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
TNI Hormati KPK Usut Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB Libatkan Prajurit
• 13 jam laludetik.com
thumb
Polda DIY Pastikan 32 Massa Aksi di DPRD Telah Dipulangkan
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dua Tahun Prabowo-Gibran Memimpin, Aliansi Keadilan Masyarakat Indonesia Tekankan Pengawasan Anggaran
• 1 menit lalutvonenews.com
thumb
Diperiksa Bareskrim, Pelapor Suket Gibran Ungkap Bawa Bukti Tambahan
• 41 menit lalukompas.tv
thumb
Cek Saham-saham Pilihan saat IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.