REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis mengenang kehidupan selama menjadi santri di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Menurut dia, kehidupan pesantren mengajarkannya kemandirian sejak dini, mulai mengatur kehidupan sehari-hari, keuangan, hingga membangun interaksi dengan berbagai kalangan.
“Saya menjadi santri dapat lebih mandiri sedari dini: mengatur hidup sendiri, keuangan dan interaksi dari berbagai kalangan,” ujar Kiai Cholil saat dihubungi Republika menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2026, Rabu (21/10/2026).
Baca Juga
PLN Dorong Ekonomi Lokal Lewat 18 UMKM di Manado High Street Market 2026
DPR Dukung Pemerintah Perkuat Fondasi Swasembada Pangan Lewat Perbaikan Irigasi
Ekonomi Sulut Tumbuh 5,42 Persen di Era Prabowo-Gibran, Kemiskinan Turun
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, itu menceritakan, kehidupan di Sidogiri diisi dengan kegiatan belajar agama sejak dini hari. Aktivitas dimulai sekitar pukul 03.00 WIB dengan sholat tahajud, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran agama setelah Subuh hingga pukul 09.00 WIB.
“Di pesantren Sidogiri itu semuanya hanya belajar agama. Mulai jam 03.00 pagi sholat Tahajud. Setelah Subuh sampai jam 09.00 belajar agama,”kata dia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis terpilih sebagai alumni terbaik Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur dalam acara Puncak Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-286, Jumat (10/3/2023) malam. - (Dok Republika)
Selain rutinitas belajar agama, Kiai Cholil mengaku merindukan tradisi musyawarah bahtsul masail yang dijalani bersama santri dari berbagai kelompok asrama. Forum tersebut menjadi ruang bagi para santri untuk mengkaji persoalan keagamaan sekaligus bertukar pikiran.
Baginya, bahtsul masail bukan sekadar forum diskusi, melainkan juga wadah untuk mengasah kemampuan berargumentasi dan berdebat secara ilmiah. Melalui tradisi tersebut, santri belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, dan mendalami suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Musyawarah bahtsul masail antar kelompok asrama karena itu dapat mengasah bakat debat dan tukar pikiran ilmu tentang suatu masalah,” kata kiai asal Madura ini.
Menjelang Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, Kiai Cholil pun berpesan agar para santri senantiasa menaati peraturan pondok dengan niat menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Ia juga mengingatkan pentingnya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan potensi diri.
“Taatlah pada aturan pondok niat taat kepada Allah SWT serta ikuti kegiatan ekskul untuk melatih bakatnya,”kata dia.
Menurut Kiai Cholil, pengalaman menjadi santri tidak hanya berkaitan dengan pendalaman ilmu agama, tetapi juga proses pembentukan kemandirian dan pengembangan kemampuan diri. Kehidupan pesantren memberikan ruang bagi santri untuk membangun kebiasaan disiplin, mengasah pemikiran, serta menemukan dan melatih bakat yang dapat dikembangkan untuk masa depan.
Sejumlah santri di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. - (Antara)