REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Investasi yang disebut telah mencapai Rp1.575 triliun sepanjang Januari-September 2026 dinilai menjadi modal untuk menjaga momentum perekonomian nasional di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian global. Aliran investasi juga dinilai dapat mempercepat industrialisasi, hilirisasi, dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Pengamat Ekonomi GREAT Institute sekaligus Guru Besar Universitas YARSI Perdana Wahyu Santosa mengatakan, capaian tersebut menunjukkan prospek investasi Indonesia tetap terbuka meski perekonomian global menghadapi sejumlah tekanan. Menurut dia, realisasi investasi itu telah mencapai sekitar 75 persen dari target 2026 dan tumbuh 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga
Dua Tahun Prabowo Gibran, Membuka Peluang Besar Investasi Lewat Data Center AI
Realisasi Investasi Jabar Masih Tertinggi Nasional, Triwulan III 2026 Mencapai Rp 91 Triliun
Tokenisasi Aset Dinilai Bisa Perluas Akses Investasi
“Di mana investasi kita, kemarin juga diumumkan oleh Pak Rosan, ya. Capaiannya hingga Rp1.575 triliun itu merupakan sekitar 75 persen dari target 2026. Atau 7 persen di atas tahun lalu,” ujar Perdana, Rabu (21/10/2026).
Perdana menilai investasi asing dapat memberikan dampak lebih besar apabila masuk ke kegiatan industrialisasi dan hilirisasi. Menurut dia, pengembangan industri berbasis investasi dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus memperbesar aktivitas ekonomi domestik.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Ketika investor asing masuk, melakukan industrialisasi, hilirisasi dalam jumlah sampai 1.575 triliun tentu masuknya dalam bentuk mata uang asing itu juga akan berdampak positif kepada perekonomian kita,” jelasnya.
Di sisi lain, tekanan eksternal seperti gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya logistik masih menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Perdana menilai dampaknya dapat diredam melalui kebijakan ekonomi yang tepat dan terukur.
“Tapi itu bisa diredam. Bisa diredam dengan berbagai macam kebijakan ekonomi,” katanya.
Pengamat politik sekaligus akademisi Ujang Komarudin menilai stabilitas nasional menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan. Ia juga menekankan pentingnya memastikan kebijakan pemerintah dapat berjalan efektif dan manfaatnya dirasakan masyarakat.
“Tentu, tadi saya sepakat dengan Pak Perdana ya, menjaga stabilitas ekonomi. Ekonomi yang saat ini stabil,” ungkap Ujang.
Ujang juga menilai kebijakan yang telah dijalankan pemerintah dalam dua tahun terakhir perlu menjadi fondasi untuk melanjutkan pembangunan. Menurut dia, kesinambungan kebijakan menjadi penting agar agenda pembangunan tidak berhenti pada perencanaan.
“Tetapi kita melihat apa yang sudah ditanamkan oleh Pak Presiden dalam dua tahun ini menjadi fondasi besar bahwa kita bisa menjadikan negara besar,” ujarnya.
Besarnya realisasi investasi akan memberi dampak lebih luas apabila mampu mendorong kegiatan produksi, hilirisasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan rantai pasok domestik. Efektivitas kebijakan dalam mengarahkan investasi ke sektor produktif akan menjadi salah satu faktor yang menentukan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.