HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kementerian Keuangan mengajak aparatur sipil negara (ASN) meningkatkan literasi keuangan dan memilih instrumen investasi yang aman. Salah satu pilihan yang disosialisasikan adalah Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 dengan kupon hingga 6,85 persen per tahun.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Edukasi Literasi Keuangan dan Sosialisasi SBR015T2 dan SBR015T4 di Aula Rongkong, Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Senin, 19 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta dari unit vertikal Kementerian Keuangan, satuan kerja kementerian dan lembaga, serta sejumlah instansi terkait.
Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan, Martha Octavia, menyoroti kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan yang masih berpotensi membuat masyarakat terjerat pinjaman online ilegal, judi online, hingga investasi bodong.
Ia mengajak ASN Kementerian Keuangan menjadi duta literasi keuangan dengan memberikan edukasi kepada keluarga dan lingkungan kerja. Semangat itu sejalan dengan falsafah Bugis-Makassar, sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi.
Dalam kegiatan tersebut, Kemenkeu juga menjelaskan peran Surat Berharga Negara (SBN) dalam mendukung pembiayaan pembangunan. Kepala Subdirektorat Program dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Surat Utang Negara, Arif Prabowo Sulistiono, mengatakan penerbitan SBN menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk memenuhi defisit APBN.
“Utang merupakan alat, bukan tujuan. Pembiayaan melalui utang diperlukan agar pemerintah dapat menjalankan fungsi penting dan mendesak dengan lebih cepat, menjaga momentum pembangunan, sekaligus berbagi beban secara adil antargenerasi,” jelasnya, Kamis, 22 Oktober 2026.
Sementara itu, Analis Keuangan Negara Ahli Muda Direktorat Surat Utang Negara, Rena Mustika Tresna, memaparkan SBR sebagai instrumen investasi yang dirancang bagi individu warga negara Indonesia. Instrumen ini juga menjadi upaya memperluas basis investor domestik sekaligus mendukung kemandirian pembiayaan pembangunan.
“SBR015 aman karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin oleh Undang-Undang. Kuponnya mengambang dengan tingkat kupon minimal (floating with floor), dibayarkan setiap bulan, dan dapat dibeli mulai Rp1 juta,” ujar Rena.
SBR015 tersedia dalam dua pilihan tenor, yakni SBR015T2 dengan kupon 6,75 persen per tahun dan jatuh tempo 10 Oktober 2028, serta SBR015T4 dengan kupon 6,85 persen per tahun dan jatuh tempo 10 Oktober 2030.
Investor dapat memesan SBR015 dengan nilai minimum Rp1 juta. Adapun batas maksimum pemesanan mencapai Rp5 miliar untuk seri T2 dan Rp10 miliar untuk seri T4.
Meski menawarkan pembayaran kupon setiap bulan, SBR015 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Namun, investor memiliki kesempatan mengajukan pencairan lebih awal atau early redemption sesuai ketentuan, dengan nilai maksimal 50 persen dari kepemilikan.
Masa penawaran SBR015 dibuka sejak 28 September 2026 dan berakhir pada 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB. Pemesanan dilakukan secara elektronik melalui 29 mitra distribusi yang terdiri atas 18 bank umum, tujuh perusahaan efek, dan empat perusahaan teknologi finansial agen penjual efek reksa dana (APERD).
Proses pemesanan meliputi registrasi, pemesanan, pembayaran, serta setelmen atau konfirmasi. Calon investor diimbau mempelajari memorandum informasi SBR015 sebelum melakukan pembelian.
Melalui sosialisasi ini, Kementerian Keuangan berharap pemahaman ASN dan masyarakat mengenai investasi semakin meningkat sehingga mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak dan berkelanjutan. (edo)





