Jumlah anak yang dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA terus meningkat. Terhitung 20 Oktober 2026, kasus ISPA pada anak usia 0-5 tahun meningkat sekitar 4.000 kasus menjadi 70.890 kasus.
Adapun total kasus ISPA mencapai 314.124 kasus. Kasus yang dilaporkan ini hanya berasal dari tujuh provinsi yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Sementara kebakaran hutan hampir merata terjadi di beberapa wilayah lain, termasuk di Papua.
Untuk itu, jumlah tersebut merupakan fenomena gunung es. Terdapat lebih banyak kasus yang tidak tercatat dan terlaporkan. Sementara karhutla masih terjadi dan meluas. Hal itu membuat risiko kasus ISPA masih akan terus bertambah dan berkepanjangan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyerukan perlindungan maksimal bagi anak dalam situasi kebakaran hutan dan lahan. Anak merupakan kelompok yang paling berisiko ketika terpapar asap karhutla.
Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/10/2026) lalu, mengatakan, anak merupakan kelompok paling rentan dalam bencana kabut asap. Namun, anak-anak sering kali tidak terdengar. “Anak-anak tidak bisa melindungi diri sendiri. Jadi tugas kitalah, orang dewasa dan negara yang memastikan mereka terlindungi,” katanya.
Risiko paparan asap karhutla semakin besar pada bayi, anak balita, serta anak yang memiliki riwayat penyakit, seperti asma, jantung bawaan, dan paru kronik. Anak-anak yang bergantung pada alat bantu pernapasan dan alat medis lainnya juga termasuk dalam kelompok rentan.
Kandungan asap karhutla jauh lebih kompleks dibandingkan kandungan asap polusi lainnya. Asap karhutla mengandung berbagai partikel padat, gas, dan cair yang berasal dari proses pembakaran yang tidak sempurna.
Campuran yang biasa ditemui pada asap karhutla, antara lain hidrogen sulfida, sulfur, karbon monoksida, polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), dan logam berat seperti tembaga, kadmium, timbal, dan zink. Partikel PM2,5 juga berbahaya jika sampai terhirup oleh anak.
Partikel tersebut berukuran sangat kecil sehingga ketika terhirup dapat menembus saluran pernapasan seperti alveoli hingga masuk ke dalam aliran darah. Kondisi tersebut dapat berdampak ke organ tubuh lainnya. Selain itu, partikel dengan ukuran lebih besar, yakni PM10 dapat pula menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Wahyuni Indawati mengatakan, dampak kesehatan pada anak tidak boleh dianggap remeh. Kandungan PM2,5 dari asap kebakaran hutan lebih berbahaya hingga 10 kali lipat dibandingkan kandungan dari sumber lain bagi pernapasan anak.
“Dampak terbesar terutama pada anak usia di bawah lima tahun. Metaanalisis mencatat setiap kenaikan 10 mikrogram per meter kubik (µg/m3) PM2,5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma,” ujarnya.
Dampak terbesar terutama pada anak usia di bawah lima tahun.
Ia menambahkan, anak lebih rentan terhadap paparan asap karhutla karena sistem imun yang terbentuk belum sempurna. Jalan napas pada anak juga masih kecil sehingga anak cenderung lebih sering bernapas lewat mulut.
Polutan yang lebih pekat yang berada di bawah juga lebih dekat dengan tinggi tubuh anak. Anak juga lebih sering mengambil napas sehingga dosis paparan yang terhirup jauh lebih besar dibandingkan orang dewasa.
Asap karhutla tidak hanya memicu terjadinya ISPA, melainkan juga penyakit pernapasan lain, seperti eksaserbasi (perburukan) akut pada asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya. Anak dengan penyakit jantung bawaan atau riwayat displasia bronkopulmonal juga berisiko tinggi mengalami perburukan.
Kewaspadaan akan dampak karhutla pada anak juga disampaikan oleh Unicef. Dikutip dari laman Unicef Indonesia, dampak paparan asap karhutla bahkan dimulai sejak janin. Papasan asap selama kehamilan membuat anak yang dilahirkan berisiko mengalami kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Kondisi tersebut membuat anak menjadi lebih berisiko mengalami penyakit di kemudian hari, termasuk penyakit terkait pernapasan, gangguan pertumbuhan, hambatan perkembangan, serta kematian. Bayi dan anak usia dini merupakan kelompok rentan karena organ tubuh, seperti paru-paru dan otak, serta sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.
Dampak dari paparan asap karhutla juga mesti diwaspadai pada usia remaja. Remaja yang terpapar asap karhutla berisiko mengalami asma, obesitas, hipertensi, hingga dampak buruk pada kondisi kesehatan mental.
Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) dalam laporan berjudul “Karhutla 2026: From Situation Analysis to Action Plan” menyebutkan bahwa paparan asap karhutla yang terjadi secara berulang dan berkepanjangan berpotensi menciptakan generasi yang hilang atau lost generation pada penduduk Indonesia.
Laporan tersebut disusun bersama oleh Yayasan Amanah Daya Nusantara, Center for Policy and Public Management (CPPM) School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (ITB), PFI, dan Rumah Zakat.
Laporan itu mengungkapkan, kondisi karhutla pada 1997 telah menyebabkan janin dan anak-anak yang terpapar asap karhutla tumbuh rata-rata 3,3 sentimeter lebih pendek di usia 17 tahun. Selain itu, sekitar 15.600 bayi meninggal terkait dengan kondisi karhutla.
Ketua Badan Pengurus PFI, Rizal Algamar menyebutkan, krisis kesehatan yang terjadi akibat asap karhutla jangan sampai terulang kembali. Krisis tersebut merupakan taruhan bagi masa depan bangsa.
“Kita sedang mempertaruhkan satu generasi dan tidak bisa membiarkan tragedi ini terus berulang. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk me-review dan memperbaiki kebijakan secara totalitas,” katanya.
Karena itu, ia mendorong agar pemerintah bisa memastikan kelompok rentan, terutama ibu hamil, anak, dan balita mendapatkan akses ke ruang bersih udara. Kelompok tersebut juga perlu mendapatkan pemantauan gizi yang baik serta layanan kesehatan yang komprehensif.
Perlindungan yang diberikan tidak boleh menunggu masyarakat datang sendiri ke fasilitas kesehatan. Pemerintah harus menyediakan layanan pemeriksaan, ruang berudara lebih bersih, obat bagi pasien penyakit kronis, dukungan transportasi, dan sistem rujukan yang secara cepat untuk menjangkau desa terpencil maupun keluarga dengan keterbatasan mobilitas dan ekonomi.
Dihubungi terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan, pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk memastikan layanan kesehatan dapat diakses oleh masyarakat yang terdampak karhutla. Setidaknya 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit telah disiagakan di wilayah terdampak.
Layanan gratis juga disediakan di fasilitas kesehatan untuk penanganan penyakit akibat karhutla, seperti ISPA dan diare. Kementerian Kesehatan pun telah menyediakan 477 rumah oksigen yang sebagian besar berada di Kalimantan Tengah (295 rumah oksigen) dan Kalimantan Selatan (127 rumah oksigen).
Selain itu, sebanyak 2.655 tenaga kesehatan, mulai dari dokter, perawat, hingga tenaga epidemiologi telah dimobilisasi oleh dinas kesehatan setempat dalam penanganan dampak asap karhutla. Per 20 Oktober 2026, sebanyak 1 juta masker bedah dan 89.050 masker N95 telah didistribusikan.
“Kami juga melaksanakan pemantauan penyakit dan kualitas udara lewat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Kami juga melakukan edukasi kesehatan dan menyediakan dashboard pemantauan untuk mengetahui kualitas udara dan rumah oksigen terdekat,” ujar Aji.





