DENPASAR, KOMPAS — Kemudahan mengembangkan aplikasi dengan hanya memanfaatkan teknologi akal imitasi (AI) membuka peluang lebih banyak lahirnya perusahaan rintisan atau start up. Namun, start up yang hanya mengandalkan teknologi AI tanpa memiliki keunggulan produk dan model bisnis yang kuat, berisiko sulit bertahan di tengah persaingan.
Partner Kejora Ventures Andreas Surya mengatakan, industri AI terdiri dari beberapa lapisan (sub sektor). Lapisan terbawah yaitu infrastruktur, kemudian naik ke lapisan original model, platform, dan agregator. Lapisan teratas yaitu aplikasi bisnis.
Lapisan infrastruktur AI terlihat dari adanya pembangunan fasilitas pusat data, sirkuit elektronik khusus untuk mempercepat pemrosesan grafis dan video (GPU), dan komponen unit pemrosesan pusat atau CPU.
Di Indonesia, infrastruktur yang berupa fasilitas pusat data sedang marak dibangun. Mereka berasal dari investor global ataupun nasional. Namun, untuk infrastruktur yang berupa GPU dan CPU, sebagian besar bergantung dari Amerika Serikat (AS).
Semakin ke lapisan atas, semakin banyak pelaku dari kawasan regional dan lokal ikut bermain. Mereka membangun bisnis aplikasi yang berkaitan dengan AI untuk memecahkan masalah warga/korporasi sehari-hari.
“Apa yang disebut startup AI kerap kali hanyalah wrapper (pembungkus) dari produk-produk AI dari perusahaan platform global. Kita tidak ingin hal itu terjadi pada lingkungan start up di Indonesia,” ujar Andreas yang juga Co-Founder Compedium di acara AI Impact Summit, bagian dari forum Bali Tech Week 2026 hari ketiga, Rabu (22/10/2026), di Denpasar, Bali.
Menurut Andreas, mereka semestinya mengembangkan aplikasi AI bisnis yang benar-benar jadi solusi bagi industri teregulasi, seperti perbankan, kesehatan, dan pertanian.
Dengan pendekatan seperti itu, lanskap start up AI di Indonesia bisa melindungi diri dari dominasi pemain global. Pendekatan ini pun tidak bertujuan menyaingi penciptaan platform AI dari perusahaan raksasa teknologi global, melainkan berfokus membangun aplikasi praktis dan memperkuat talenta.
Beberapa start up berbasis AI di Indonesia yaitu Nexmedis, Jala Tech, dan Algobash. Nexmedis yang membantu rumah sakit menyaring klaim jaminan sosial secara otomatis, memangkas waktu hingga 60–70 persen, serta mentranskripsi dialek lokal ke dalam standar medis.
Jala Tech yang mengembangkan solusi berbasis AI untuk mendeteksi penyakit pada udang sehingga membantu petambak menekan risiko kegagalan panen.
Sementara itu, Algobash mengembangkan solusi berbasis AI untuk mendukung proses rekrutmen tenaga kerja yang lebih berorientasi pada keterampilan dan kompetensi pelamar. Namun, teknologi AI yang dikembangkan tidak dirancang untuk mengambil keputusan akhir mengenai kandidat yang diterima ataupun ditolak. Kewenangan tersebut tetap berada pada manusia, yakni tim sumber daya manusia perusahaan yang melakukan rekrutmen.
Direktur The Founder Institute Jakarta, Andy Zain, mengakui, perkembangan AI juga mengubah cara seseorang memulai bisnis. Teknologi tersebut memungkinkan individu mendirikan perusahaan tanpa harus terlebih dahulu membentuk tim besar dan mengejar pendanaan dalam nominal yang besar.
Dengan bantuan teknologi AI, seseorang dapat memulai bisnis lebih cepat. Ia tidak harus terlebih dahulu memiliki tim ataupun menggalang pendanaan untuk mendirikan usaha. Pendiri juga bisa memanfaatkan agen-agen AI untuk membantu berbagai pekerjaan yang sedang dijalankan.
Namun, istilah one-person company menurut dia lebih merupakan istilah pemasaran daripada gambaran yang sepenuhnya realistis mengenai bagaimana sebuah perusahaan berkembang. Gagasan bahwa satu orang dapat membangun perusahaan bernilai jutaan dolar AS memang menarik, tetapi tidak seharusnya dijadikan asumsi utama.
“Sebagai investor, saya sebenarnya memiliki pandangan yang agak dilematis terhadap konsep tersebut. Apakah saya akan berinvestasi pada perusahaan yang hanya dijalankan oleh satu orang? Itu cukup mengkhawatirkan, karena jika sesuatu terjadi pada orang tersebut, seluruh nilai perusahaan bisa terdampak,” ujar dia.
Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Start Up Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro, yang juga ditemui di sela-sela acara Bali Tech Week 2026, memiliki pandangan senada. Perkembangan start up berbasis AI di Indonesia mulai menunjukkan kemajuan.
Namun, sebagian besar dari mereka masih berfokus pada pemanfaatan atau penerapan teknologi AI bukan menciptakan teknologi dasar seperti model bahasa besar (large language model/LLM). Pengembangan teknologi AI dasar masih didominasi perusahaan dari negara-negara seperti AS dan China.
Menurut Eddi, peluang pasar start up AI di Indonesia tetap besar karena teknologi tersebut dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional bisnis. Pemanfaatan AI telah menjangkau berbagai sektor, antara lain layanan kesehatan, pendidikan, perbankan, dan jasa keuangan. Meski demikian, ia belum memiliki data mengenai sektor yang paling dominan dalam pengembangan maupun penggunaan AI di Indonesia.
Dari sisi pendanaan, Eddi mengakui, investasi yang masuk ke start up AI di Indonesia masih relatif kecil. Kalau ingin mengembangkan teknologi AI di lapisan infrastruktur, original model, ataupun platform, hal itu akan membutuhkan investasi yang sangat besar sehingga sulit dibandingkan dengan perusahaan teknologi global yang lebih dulu terjun ke lapisan bisnis itu.
Mengutip pemberitaan Crunchbase (15 Juni 2026), lonjakan investasi pada start up berbasis AI belum terjadi secara merata di seluruh dunia. Berdasarkan data investasi yang dikumpulkan Crunchbase, hampir 80 persen pendanaan startup global, mulai dari tahap awal (seed) hingga tahap pertumbuhan (growth) ternyata mengalir ke perusahaan yang berbasis di AS.
Kondisi ini berbeda dengan periode sebelum ledakan investasi AI ketika perusahaan Amerika Serikat umumnya menerima kurang dari separuh total pendanaan start up global.
Sebagian besar dana tersebut bahkan terkonsentrasi pada dua perusahaan pengembang platform AI, yakni OpenAI dan Anthropic. Konsentrasi investasi ini menunjukkan bahwa lonjakan pendanaan AI global terutama ditopang oleh sejumlah kecil perusahaan teknologi besar di AS.
Di luar AS, beberapa negara masih mencatat pertumbuhan pendanaan start up. China, misalnya, telah memperoleh investasi start up lebih dari 33 miliar dolar AS sepanjang 2026 hingga pertengahan Juni. Angka itu melampaui total pendanaan sepanjang 2025.
Inggris juga mencatat pendanaan sebesar 16,5 miliar dolar AS, mendekati total 19,5 miliar dollar AS sepanjang 2025 dengan AI dan teknologi finansial sebagai sektor utama. Sementara India, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Perancis, dan Spanyol menunjukkan perkembangan pendanaan yang relatif stabil atau meningkat secara moderat.
Crunchbase turut menyoroti potensi munculnya gelembung investasi (investment bubble) akibat konsentrasi pendanaan AI yang sangat besar di AS. Negara tersebut hanya menampung sedikit lebih dari 4 persen populasi dunia.





