Pimpinan Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Daya Saing Kampus di Tingkat Global

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atau Kemendiktisaintek mendorong agar pimpinan perguruan tinggi mampu melakukan transformasi untuk meningkatkan kualitas kampus dan memperkuat daya saingnya di tingkat global. Untuk itu, penguatan kepemimpinan di perguruan tinggi menjadi investasi strategis untuk menjawab tantangan tersebut.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Khairul Munadi, Rabu (21/10/2026) malam, di acara Sekolah Kepemimpinan Asosiasi Pergururan Tinggi Indonesia (APTISI), Jakarta. Acara bertajuk APTISI Excecutive Rector Leadership Academy (AERLA) “Mencetak Pimpinan Visioner, Transformasional, dan Berdaya Saing Global”, ini akan berlangsung hingga 23 Oktober 2026.

Khairul menyampaikan, kepemimpinan perguruan tinggi yang kuat dan visioner dibutuhkan untuk memimpin proses transformasi yang  bukan sekadar mendengarkan, namun juga mampu mengantisipasi tantangan dalam pendidikan tinggi yang luar bisa dan kemajuan global.

“Apalagi kini kampus bukan lagi sekadar penyelenggara pendidikan. Namun, kampus harus dapat berdampak. Karena itu,  PTN (perguruan tinggi negeri) dan PTS (perguruan tinggi swasta) menjadi pendukung ekosistem pendidikan tinggi untuk mendukung kemajuan bangsa,” kata Khairul.

Baca JugaPTS-PTS Ini bak Bunga Dikerubuti Kumbang

Lebih lanjut, Khairul mengatakan masa depan pendidikan tinggi ditentukan juga oleh kualitas kepemimpinan di masing-masing perguruan tinggi. Termasuk di  PTS yang diakui sebagai pilar utama ekosistem pendidikan tinggi. Lebih dari 50 persen dari 10 juta mahasiswa belajar di PTS.

Sementara itu, Ketua Umum APTISI Pusat Budi Djatmiko mengatakan perubahan dalam pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, harus dapat dipersiapkan lebih dini dengan kepemimpinan para rektor hingga pimpinan di tingkat program studi  untuk menghadapi perubahan.

“Sekarang sudah zamannya artificial intelligence. Kampus dulu berbasis pada tembok, sekarang sudah berbicara tentang kampus berbasis cloud. Oleh karena itu, kami mengarahkan agar rektor-rektor yang bagus di PTS bisa menginspirasi kepada pimpinan PTS lain agar sama-sama berkembang. Termasuk juga memberi inspirasi pada rektor PTN,” kata Budi.

Untuk mentransformasi perguruan tinggi, salah satu kuncinya adalah ada pada leadership atau kepemimpinan.

Menurut Budi, program AERLA yang digagas APTISI dan didukung Kemendiktisaintek akan mengundang rektor-rektor yang punya gagasan tinggi agar saling berbagi praktik baik. Nantinya, penguatan kepemimpinan bukan hanya untuk pimpinan PTS, namun juga bagi dosen-dosen agar sama-sama terpanggil memajukan perguruan tinggi.

“Untuk mentransformasi perguruan tinggi, salah satu kuncinya adalah ada pada leadership atau kepemimpinan. Jadi ini memang harus disentuh dengan mempertimbangkan dinamika yang begitu dinamis selama ini. Dan yang tidak kalah pentingnya, ini sangat sejalan dengan upaya kementerian dalam mewujudkan pendidikan tinggi berdampak,” kata Budi.

Baca JugaMenghambat Kematian PTS
Akademi kepemimpinan

Dalam upaya mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat kepemimpinan dan tata kelola dalam membangun transformasi institusional, Kemendiktisaintek di tahun 2026 ini meluncurkan program Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT). Kahirul mengatakan AKPT dirancang sebagai forum sinergi antara pimpinan perguruan tinggi saat ini dengan calon-calon pemimpin potensial dalam sebuah proses pengembangan kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan nyata di institusi.

“Tidak hanya menekankan penguatan kapasitas individu, AKPT juga mendorong kolaborasi, pertukaran pengalaman, penguatan jejaring, dan transformasi perguruan tinggi,” kata Khairul.

Lebih lanjut, Khairul mengatakan Kemendiktisaintek terus berkomitmen memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang tangguh dan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan mendukung pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

“Harapannya, selain dari materi yang disampaikan narasumber, para peserta juga bisa terinspirasi dari praktik baik setiap kampus. Dalam jangka panjangnya, kami harap mereka saling berkolaborasi, berkembang, dan mengembangkan ekosistem pendidikan tinggi bersama-sama,” ujar Khairul.

Secara terpisah, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menekankan, pendidikan tinggi perlu ditempatkan sebagai bagian strategis dari pembangunan nasional. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan talenta, pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang dapat mendorong peningkatan kapasitas produktif Indonesia.

Baca JugaDiktisaintek Berdampak Berikan Solusi Nyata ke Masyarakat

“Pendidikan tinggi perlu ditegakkan sebagai infrastruktur strategis pertumbuhan, menghasilkan talenta, pengetahuan, teknologi, inovasi, perusahaan dan sebagainya,” ujar Fauzan.

Oleh karena itu, kata Fauzan, pentingnya perubahan orientasi perguruan tinggi, dari sekadar berorientasi pada pendidikan menuju orientasi pertumbuhan. Sebab, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah mahasiswa, lulusan, maupun publikasi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap produktivitas, inovasi, daya saing, industri, lapangan pekerjaan, dan pembangunan.

Menurut Stella, setiap perguruan tinggi perlu memiliki arah dan strategi yang jelas sesuai dengan karakteristik dan kekuatannya masing-masing.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan, penguatan perguruan tinggi perlu diarahkan pada kontribusi nyata terhadap kemajuan bangsa. Hal ini karena perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Perguruan tinggi adalah kunci pertumbuhan ekonomi dan berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden,” kata Stella.

Menurut Stella, setiap perguruan tinggi perlu memiliki arah dan strategi yang jelas sesuai dengan karakteristik dan kekuatannya masing-masing. Perguruan tinggi tidak harus memiliki strategi yang sama, tetapi perlu menentukan posisi, tujuan, serta kekhasan yang ingin dikembangkan agar dapat menghasilkan keunggulan yang nyata.

Baca JugaPerkuat Peran Perguruan Tinggi Mendukung Pembangunan Ekonomi  

Dalam pelaksanaan AKPT di Universitas Gadjah Mada (UGM), Rektor UGM Ova Emilia menyampaikan, pemimpin harus memiliki peran penting dalam mengawal proses organisasi sejak perencanaan, implementasi, hingga evaluasi. Sebagai pemimpin tentunya harus bisa menjadi motor penggerak perencanaan dan transformasi organisasi.

“Sebagus apapun rencana dan strategi sebuah organisasi kalau tidak didukung dengan budaya kerja yang tepat dengan pemimpin yang bertanggung jawab maka tujuan itu tidak akan tercapai,” kata Ova.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pekerja Korut Diduga Diperbudak di Pabrik Drone Rusia
• 18 jam laludetik.com
thumb
IHSG Dibuka Melemah 1,51% ke Level 5.247,98
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
BYD Digugat Rp9,5 Triliun, Begini Isi Tuntutannya
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Disebut PSI Laporan Akan Sia-Sia, Pelapor Suket Gibran Justru Optimis: Ini soal Pidana, Bukan Pemilu
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Drama Nusron Wahid: Ditunggu di Gedung KPK, Muncul di Istana
• 17 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.