Dino Patti Djalal Nilai Tuduhan Singapura Ingin Jatuhkan RI Tidak Masuk Akal

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal angkat bicara soal munculnya suara-suara yang menuduh Singapura untuk menjatuhkan ekonomi Indonesia. Menurutnya, pandangan tersebut tidak masuk akal dan jauh dari realita.
 
Menurut Dino, Singapura adalah negara yang punya kepentingan terhadap stabilitas politik dan ekomomi Indonesia. Ini karena negara tersebut bisa terdampak jika ada hal buruk terjadi pada gejolak politik dan ekonomi RI.
 
"Sebagai negara kecil yang secara geografis dihimpit Indonesia dan Malaysia, hukumnya tabu dan haram bagi elit politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia," kata Dino dalam unggahan akun Instagramnya, Kamis (22/10).
 
Dia mengatakan, Negeri Singa punya reputasi untuk membantu Indonesia, mulai dari saat bencana tsunami, gempa, krisis 1998, Covid-19, hingga membangun kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah. 
 
Dino juga menyinggung jargon RI yang bicara "sejuta kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak". Menurutnya, kalimat tersebut kontradiktif dengan suara-suara yang muncul belakangan ini.
 
"Akan sangat kontradiktif kalau kita memperlakukan tetangga terdekat Singapura, seperti lawan," kata Dino.
 
Hal yang menurutnya penting adalah bagaimana RI bisa bertetangga dengan baik dan tetap menjadi pemimpin natural Asia Tenggara, terutama saat menangani krisis kebakaran hutan dan lahan.
 
Dia mengingatkan, saat bencana tsunami 2004, tetangga-tetangga Indonesia ikut bekerja sama di bawah komando pemerintah RI. "Akibatnya, respek dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia semakin tinggi," katanya.
 
Dino tidak menyebut siapa yang menuding Singapura berkonspirasi merontokkan Indonesia. Meski demikian, sebelumnya, Menteri Perdagangan 2020-2022 Muhammad Lutfi menyoroti  tekanan terhadap pasar modal Indonesia oleh lembaga indeks global MSCI. 
 
Lutfi lalu mengaitkan persoalan ini dengan Singapura, yang menurutnya punya pengaruh melalui lembaga investasi seperti Temasek dan GIC. Ia juga melontarkan dugaan GIC menekan MSCI agar menurunkan klasifikasi Indonesia. 
 
"Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market. Bikin kepanikan masal supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon," kata Lutfi dalam akun Instagramnya.
 
Sedangkan juru bicara GIC mengatakan keputusan investasi perusahaan tidak didasarkan pada klasifikasi indeks atau pandangan terhadap suatu pasar secara keseluruhan. Sebaliknya, GIC mempertimbangkan fundamental masing-masing perusahaan dan aset yang menjadi target investasi.
 
 "Kami telah berinvestasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun di berbagai kelas aset dan akan terus berinvestasi ketika menemukan peluang yang baik dengan mempertimbangkan risiko dan fundamental dari bawah ke atas," ujar juru bicara GIC dikutip dari The Business Times, Kamis (22/10).

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gen Z Berburu Pekerjaan: Apa Saja yang Penting Kerja
• 31 menit laluliputan6.com
thumb
Kemenhut Bekukan Izin Enam Perusahaan Terkait Karhutla di Kalteng
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Erik ten Hag Buka Suara Soal Penggunaan Data dan Pengalaman di Manchester United
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Prospek Panas Bumi Tetap Cerah di Tengah Tekanan Pasar Saham
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wabah Demam Babi Afrika Merebak di Tiongkok, Penjualan Panik Picu Anjloknya Harga Babi
• 21 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.