Mantan manajer Manchester United Erik ten Hag mengungkapkan dinamika internal klub serta pemanfaatan analisis data pemain dalam wawancara terbarunya. Dikutip dari laporan The Athletic via Sky Sports, sosok yang kini menjabat sebagai Direktur Teknik FC Twente tersebut membeberkan berbagai tantangan selama dua tahun masa kepemimpinannya di Old Trafford. Ia juga menyoroti proses pengembangan talenta muda seperti Kobbie Mainoo di tengah tekanan kompetisi yang tinggi.
Ten Hag menjelaskan bahwa jadwal pramusim yang padat dan badai cedera menjadi penyebab utama inkonsistensi performa tim. Perjalanan jauh sejauh belasan ribu mil selama tur pramusim di Amerika Serikat dinilai menguras fisik para pemain hingga memicu krisis kebugaran. Kondisi tersebut diperparah oleh absennya sejumlah pilar penting pada momen-momen krusial kompetisi.
Tantangan Cedera dan Perkembangan Pemain MudaKehilangan pemain kunci seperti Lisandro Martinez dan Bruno Fernandes pada laga perempat final Liga Europa diakui Ten Hag merusak struktur permainan tim. Kehadiran Martinez di lini belakang dan kepemimpinan Fernandes di lapangan dianggap sebagai ruh utama stabilitas permainan tim. Menurutnya, kegagalan mempertahankan konsistensi membuat skuat tidak mampu bersaing memperebutkan gelar juara.
Di tengah krisis pemain tersebut, munculnya Kobbie Mainoo dari akademi menjadi salah satu poin positif paling menonjol. Ten Hag mengaku sudah melihat bakat luar biasa Mainoo sejak sang pemain tampil untuk tim kelompok umur pada pertengahan tahun 2022. Ia kemudian merancang porsi latihan intensitas tinggi untuk mengasah dinamika bermain gelandang muda tersebut.
“Bagi saya, Kobbie adalah pemain yang sangat spesial. Banyak pihak yang ikut membangun dan mendukungnya, namun pada akhirnya ia berhasil membuktikannya sendiri di lapangan,” ujar Ten Hag saat memuji perkembangan pemain berusia 18 tahun itu.
Kebijakan Perekrutan dan Konflik Sektor SayapMengenai keputusan memboyong Antony dengan harga fantastis dari Ajax, Ten Hag menyebut langkah tersebut diambil akibat situasi darurat jelang penutupan bursa transfer. Situasi sulit ini berawal dari enggan bertandingnya Jadon Sancho di posisi sayap kanan. Pihak klub terpaksa mencari opsi baru di menit-menit akhir hingga harga transfer membengkak.
“Permasalahan timbul karena Sancho tidak ingin bermain di sisi kanan dan ia menyampaikan hal itu secara langsung. Itu sangat aneh karena ia sebelumnya sering bermain di kanan, tetapi ia mengaku lebih nyaman di kiri,” ungkap Ten Hag.
Selain Sancho, Ten Hag juga membeberkan dinamika transfer Alejandro Garnacho yang sempat coba ia rekrut saat melatih di Jerman. Ia mengagumi kapasitas kerja Garnacho yang luar biasa, meski menilai sang pemain muda masih membutuhkan penanganan khusus dari pelatih untuk menjaga kedisiplinan taktiknya di lapangan.
Implementasi Data dan Kritik dari Para PakarMenanggapi banyaknya kritik dari para mantan pemain legendaris klub yang kini menjadi pundit media, Ten Hag menanggapinya dengan santai. Ia menganggap fenomena tersebut wajar karena para mantan pemain ingin melindungi warisan prestasi yang pernah mereka ukir di masa lalu. Hubungannya dengan beberapa mantan pemain besar pun tetap terjalin dengan baik.
Saat ini Ten Hag menerapkan sistem analisis data yang sangat rinci di FC Twente untuk menilai kualitas teknis, kecerdasan bertanding, hingga gaya hidup calon pemain. Ia menilai pendekatan berbasis teknologi modern dan kecerdasan buatan merupakan hal mutlak yang wajib diadaptasi oleh setiap organisasi sepak bola profesional saat ini.
“Data telah mengubah seluruh dunia dan kini kecerdasan buatan mulai masuk, sehingga setiap organisasi harus mengadopsinya. Sepak bola tingkat atas menuntut sesuatu yang sangat berbeda dan terus mendorong terjadinya inovasi,” tegas Ten Hag menutup perbincangan.





