Indonesia dan Australia memperkuat kerja sama bidang hukum dan keamanan, mulai dari pemberantasan terorisme, kejahatan lintas negara, hingga penanganan penipuan daring atau online scam. Hal itu dibahas dalam pertemuan ke-12 Indonesia-Australia Ministerial Council Meeting on Law and Security.
Pertemuan itu dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman bersama Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke.
Dudung mengatakan, pertemuan itu menghasilkan pernyataan bersama yang menjadi landasan bagi kedua negara untuk memperkuat kemitraan di bidang keamanan.
“Di antaranya penguatan kemitraan strategis, penguatan keamanan maritim, pemberantasan terorisme, pemberantasan kejahatan lintas negara, penguatan keamanan perbatasan, dan keamanan siber,” kata Dudung dalam konferensi pers usai pertemuan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10).
Dudung mengatakan, hasil pertemuan tersebut akan ditindaklanjuti melalui kerja sama yang lebih konkret untuk menghadapi berbagai tantangan keamanan yang menjadi kepentingan bersama kedua negara.
“Bagi Indonesia, kerja sama dengan Australia ini penting untuk memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas, dan menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja, tetapi memerlukan komunikasi, koordinasi, dan kerja sama yang erat,” ujarnya.
Delegasi Indonesia turut melibatkan perwakilan Kementerian Luar Negeri, Badan Keamanan Laut (Bakamla), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Polri, serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Sementara itu, delegasi Australia dipimpin Tony Burke dengan didampingi Wakil Duta Besar Australia di Jakarta, Australian Federal Police (AFP), Maritime Border Command, Australian Border Force, dan sejumlah lembaga terkait lainnya.
Tony mengatakan, berbagai isu yang dibahas dalam pertemuan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keselamatan dan keamanan masyarakat Indonesia maupun Australia.
“Kami membahas banyak isu hari ini, namun semuanya memiliki satu kesamaan: semuanya berkaitan dengan upaya melindungi keselamatan dan keamanan rakyat Indonesia serta rakyat Australia,” kata Tony.
Selain pemberantasan kejahatan terorganisasi, kedua negara membahas kerja sama di sektor maritim, khususnya dalam menangani migrasi ilegal, serta berbagai tantangan dalam penanggulangan terorisme dan keamanan siber.
Tony menilai, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk merugikan masyarakat. Karena itu, kedua negara perlu memanfaatkan teknologi mutakhir dan meningkatkan kemampuan masing-masing melalui kemitraan yang semakin erat.
“Hal yang perlu kita lakukan dan yang telah kita bicarakan hari ini, adalah terus memanfaatkan teknologi mutakhir, terus mengerahkan kapabilitas terbaik, namun melakukannya berlandaskan kemitraan yang semakin mendalam setiap tahunnya, serta persahabatan yang semakin erat setiap tahunnya,” kata Tony.
Tony mengatakan, kerja sama kedua negara diperlukan untuk memperkuat kedaulatan serta meningkatkan keamanan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman.
“Saya tidak ragu bahwa kedaulatan negara-negara kita telah diperkuat melalui pertemuan hari ini. Keamanan masyarakat kita telah ditingkatkan melalui pertemuan hari ini. Keselamatan rakyat Indonesia dan rakyat Australia semakin terjamin melalui pertemuan hari ini,” kata Tony.
Setelah pertemuan bilateral dengan Australia, Indonesia akan melanjutkan agenda kerja sama keamanan melalui pertemuan multilateral ke-7 Sub-Regional Meeting on Counter-Terrorism and Transnational Security (SRM).
Dudung mengatakan, pertemuan tersebut akan diikuti delapan negara dan menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama regional dalam menghadapi ancaman terorisme serta kejahatan lintas negara.
“Forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama regional dalam menghadapi ancaman terorisme dan kejahatan lintas negara, sekaligus membangun kawasan yang lebih aman dan stabil. Harapan kita, rangkaian pertemuan ini tidak berhenti pada kesepakatan di atas kertas, tetapi benar-benar ditindaklanjuti melalui langkah nyata yang memberikan manfaat bagi keamanan masyarakat dan kepentingan kedua negara maupun kawasan,” ujar Dudung.
Polisi Australia-Polri Kerja Sama Tangani Online ScamDalam kesempatan yang sama, Tony mengatakan Australia juga memperkuat kerja sama dengan Indonesia untuk menangani pusat-pusat penipuan daring atau scam center yang menjadi bagian dari kejahatan lintas negara.
Ia menyebut, Kepolisian Federal Australia telah bekerja sama dengan Polri untuk menemukan pusat-pusat penipuan daring dan mengambil tindakan terhadap aktivitas tersebut.
“Saat ini, kami memberikan seluruh kemampuan yang kami miliki untuk melakukan segala upaya guna menemukan pusat-pusat penipuan tersebut dan kemudian mengambil tindakan terhadapnya,” kata Tony.
Tony menjelaskan, salah satu instrumen yang digunakan Australia untuk mendukung upaya tersebut adalah AUSTRAC, lembaga yang akan melacak aliran uang dan penyelidikan keuangan.
“Di pusat-pusat penipuan daring tersebut, terdapat para korban yang menjadi sasaran langsung aktivitas mereka. Selain itu, ada pula korban penipuan yang tersebar di seluruh dunia,” kata Tony.
“Kemitraan antara kedua negara sebenarnya sudah berjalan bahkan sebelum pertemuan ini. Dalam pertemuan ini, kami menegaskan komitmen untuk melanjutkan dan memperdalam kerja sama tersebut,” lanjutnya.
Ia menegaskan Australia mendukung Indonesia dalam upaya memberantas pusat-pusat penipuan daring di mana pun berada.
“Di mana pun pusat-pusat penipuan ini berada, semuanya merupakan masalah bagi seluruh dunia. Sebagai sahabat Indonesia, Australia sepenuhnya berdiri dalam solidaritas bersama Indonesia dan ingin membantu menumpas serta memberantas pusat-pusat penipuan tersebut,” pungkas Tony.





