Presiden Prabowo Subianto menargetkan penyaluran kredit untuk masyarakat kecil bisa mencapai Rp 400 triliun di tahun yang akan datang. Kredit ini diberikan untuk petani, nelayan, masyarakat di pedesaan, di daerah terpencil, daerah tertinggal.
“Nanti sasarannya kurang lebih 28 juta keluarga, jika dihitung anak istri bisa dikali empat sehingga kurang lebih (menjangkau) 100 juta rakyat kita,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakortas TPAKD) di Jiexpo Kemayoran, Kamis (22/10).
Menurut Prabowo angka tersebut sesuai dengan kemampuan negara saat ini. Kendati demikian, jumlah target ini bisa bertambah jika Indonesia dapat mengamankan sumber daya alam.
Ketua Umum Partai Gerindra ini mengatakan penyaluran kredit untuk rakyat memang akan dilakukan secara lebih masif. Saat ini jumlah penyaluran baru mencapai Rp 53 triliun untuk dua juta warga.
"Setiap keluarga harus memiliki daya beli yang nyata, ini yang sedang kami perjuangkan,” ujarnya.
Prabowo juga mengatakan, guna mencapai kesejahteraan, pemerintah dari pusat hingga daerah harus menguasai, mengamankan, dan menjaga kekayaan alam Indonesia.
“Sumber alam Indonesia harus dijaga, harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat kita,” katanya.
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyaluran kredit baru pada kuartal IV-2026 meningkat. Berdasarkan hasil survei perbankan yang dilakukan BI, nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kredit baru sebesar 91,31%, lebih tinggi dari SBT pada triwulan III 2026 sebesar 90,08% maupun SBT pada triwulan IV 2025 sebesar 88,92%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menuturkan meningkatnya prakiraan penyaluran kredit baru pada triwulan IV 2026 sejalan dengan lebih longgarnya standar penyaluran kredit baru yang tercermin dari menurunnya Indeks Lending Standard (ILS).
“ILS pada triwulan III 2026 sebesar 0,28, dan diprakirakan kembali menurun pada triwulan IV 2026 sebesar 0,15,” kata Ramdan dalam keterangan resmi, Kamis (22/10).
Ia mengatakan, penurunan standar penyaluran kredit tersebut terjadi antara lain pada aspek plafon kredit, jangka waktu kredit, suku bunga kredit, dan persyaratan administrasi. Dalam survei yang dilakukan BI, responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir 2026 terus tumbuh.
“Hal ini didukung prospek kondisi ekonomi yang tetap positif serta risiko penyaluran kredit yang terjaga,” kata Ramdan.




