REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Danantara Indonesia menargetkan mobilisasi investasi hingga 30 miliar dolar AS melalui penyelenggaraan New Asia Forum (NAF) 2026 pada 3–4 Desember 2026 di Bali. Forum tersebut dirancang untuk mempertemukan investor global dengan peluang investasi strategis di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan, NAF 2026 akan berfokus pada pembentukan kemitraan dan realisasi investasi. Danantara juga menyiapkan peran sebagai investor bersama atau co-investor dengan mitra global untuk mendukung pengembangan sektor-sektor strategis.
- Danantara Siap Tambah Investasi Saham, Nilai Prospek BUMN Menarik
- DSN MUI Dorong Pembentukan Danantara Syariah, Begini Progresnya
- 34 Lembaga Keuangan Masuk Panel Pembiayaan PSEL Danantara
“Mandat Danantara Investment Management adalah menarik modal swasta dan global untuk berinvestasi bersama kami di sektor-sektor strategis Indonesia. New Asia Forum ini menjadi platform untuk mewujudkannya. Di NAF, kami akan mengumumkan komitmen modal dan investasi strategis sekaligus menunjukkan bahwa Danantara Indonesia hadir sebagai anchor investor yang mampu mendorong masuknya capital berkualitas ke Indonesia,” kata Pandu di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Menurut Pandu, kawasan Asia-Pasifik saat ini menyumbang hampir 60 persen pertumbuhan ekonomi global. Namun, alokasi modal internasional jangka panjang ke kawasan tersebut dinilai masih belum sebanding dengan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Melalui NAF 2026, Danantara berupaya mempertemukan kebutuhan investasi dengan sumber pendanaan internasional. Forum tersebut juga diharapkan menghasilkan kesepakatan awal yang dapat ditindaklanjuti menjadi proyek investasi.
NAF 2026 ditargetkan menghadirkan lebih dari 1.000 pemimpin global dan lebih dari 100 pembicara. Sejumlah tokoh yang dijadwalkan hadir antara lain Presiden Prabowo Subianto dan Chairman & CEO SoftBank Group Masayoshi Son.
Penyelenggaraan forum akan dibagi menjadi dua agenda utama, yakni Discovery & Diligence pada 3 Desember dan Action & Execution pada 4 Desember 2026. Kedua agenda tersebut dirancang untuk membahas peluang investasi, penyusunan kesepakatan awal atau heads of terms, serta struktur pembiayaan yang layak didanai perbankan (bankable).
Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia Pahala Mansury mengatakan, Asia memiliki peluang untuk menarik lebih banyak modal investasi jangka panjang. Indonesia dinilai dapat memanfaatkan posisinya sebagai negara dengan perekonomian terbesar di ASEAN untuk menjalin kemitraan dengan investor internasional.
“Justru di sinilah pusat gravitasi untuk pertumbuhan berada. Dengan demikian, pertumbuhan dalam skala besar dapat benar-benar terwujud, anchored by ASEAN, sekaligus didorong oleh Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN,” ujar Pahala.
Ia menilai perkembangan geopolitik turut membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi tujuan investasi dari berbagai negara. Peluang tersebut antara lain berasal dari investor Cina, Australia, Amerika Serikat, dan negara lainnya.
”Dengan perkembangan geopolitik yang ada, Indonesia bisa menjadi negara destinasi bagi permodalan dari Cina, Australia, Amerika Serikat dan negara-negara lain yang sedang mencari rumah baru,” kata Pahala.
Sejalan dengan persiapan NAF 2026, Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) juga melanjutkan sejumlah proyek investasi strategis. Proyek tersebut mencakup pengolahan sampah menjadi energi listrik, pengembangan ekosistem haji dan umrah, pangan, serta infrastruktur digital.
Dalam program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), tiga proyek tahap pertama di Bali, Bekasi, dan Bogor disebut telah memasuki tahap konstruksi. Sementara itu, delapan mitra tahap kedua telah menerima Conditional Letter of Award untuk delapan lokasi yang mencakup 20 kabupaten/kota.
Di sektor haji dan umrah, DIM telah menyelesaikan akuisisi Novotel Thakher Makkah yang memiliki 1.461 kamar pada 11 Agustus 2026. Danantara juga merampungkan akuisisi lahan seluas 4,4 hektare di kawasan Thakher, Makkah, pada 18 Oktober 2026.
Sementara itu, pada sektor pangan dan agribisnis, DIM menjalin kemitraan dengan JBS Group melalui rencana investasi senilai 2,5 miliar dolar AS. Investasi tersebut direncanakan untuk memperoleh 25 persen kepemilikan dalam perusahaan patungan atau joint venture yang menaungi operasional JBS di Australia dan Selandia Baru.
Danantara juga menyiapkan peluang investasi di sektor infrastruktur digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sektor tersebut menjadi salah satu dari delapan bidang prioritas yang akan dibahas dalam NAF 2026.
Managing Director Investment Danantara Investment Management Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, sejumlah proyek infrastruktur digital tengah disiapkan untuk diperkenalkan dalam forum tersebut. Salah satunya adalah proyek pusat data atau data center yang direncanakan diumumkan pada Desember mendatang.
“Kami berharap ini menjadi salah satu contoh masuknya investasi dalam skala besar ke Indonesia. Bagi Danantara, investasi hanya salah satu faktor, tapi yang penting juga dalam semua investasi kita, baik domestik maupun luar, adalah bagaimana kita mengakuisisi teknologi, pengetahuan, kapabilitas, dan SDM,” kata Stefanus.
Menurut Stefanus, pengembangan pusat data berskala besar juga perlu mempertimbangkan kebutuhan energi dan air. Danantara menerapkan prinsip Bring Your Own Energy (BYOE) agar kebutuhan listrik proyek tidak mengganggu pasokan bagi masyarakat.
Selain itu, proyek pusat data didorong menggunakan teknologi closed loop untuk membatasi penggunaan air. Danantara juga mempertimbangkan penerapan sistem pengolahan air dan desalinasi dalam pengembangan infrastruktur tersebut.
“Sebisa mungkin, kami juga mendorong adanya water treatment system dan desalinasi air. Pendekatan investasi Danantara adalah membawa modal, dengan memastikan setiap investasi dilakukan secara benar dan tepat, baik bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar Stefanus.
Danantara menyatakan komitmen dan perkembangan investasi yang dihasilkan dari NAF 2026 akan dipantau secara berkelanjutan. Pemantauan tersebut ditujukan untuk memastikan kesepakatan yang terbentuk dapat ditindaklanjuti menjadi investasi dan proyek yang terealisasi.




