Kerusuhan Melanda Berbagai Wilayah Eropa, Peneliti Keamanan dan Pertahanan : Komunisme Adalah Akar Bencana

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Kerusuhan di Prancis telah menyebar ke berbagai wilayah Eropa. Sebuah investigasi media Amerika Serikat menemukan bahwa lebih dari 50 kelompok, termasuk organisasi komunis dan kelompok sayap kiri radikal, terlibat dalam mobilisasi di balik gelombang kerusuhan ini.

Apa dampak peristiwa tersebut bagi dunia? Untuk membahasnya, NTD mengundang Dr. Shen Mingshi, peneliti di Institut Penelitian Keamanan dan Pertahanan Nasional Taiwan, untuk memberikan analisis.

“Dalam kerusuhan kali ini di Prancis, banyak orang mengenakan penutup wajah, melakukan perusakan dan penjarahan, bahkan mencuri barang-barang mewah. Menurut saya, tindakan seperti ini sama sekali tidak dapat ditoleransi,” ujar Dr. Shen Mingshi, peneliti di Institut Penelitian Keamanan dan Pertahanan Nasional Taiwan. 

“Masyarakat bebas menekankan pentingnya membedakan antara demonstrasi yang sah dan tindakan kekerasan yang melanggar hukum. Apa pun ideologi atau tuntutan politik para demonstran, jika mereka melakukan pembakaran, penjarahan, penyerangan, dan tindakan sejenisnya, itu merupakan tindak kekerasan yang merusak ketertiban sosial. Karena itu, mereka harus dikenai sanksi tegas sesuai hukum,” katanya. 

Dr. Shen Mingshi mengatakan: “Ideologi komunisme radikal atau sayap kiri ekstrim menekankan ‘perjuangan kelas’ dan ‘penggulingan tatanan yang ada’. Hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip masyarakat demokratis yang bebas, seperti hak milik pribadi, keadilan prosedural, supremasi hukum, dan kesetaraan.

“Terutama kekerasan di jalanan dan perusakan fasilitas umum yang kita saksikan, tindakan-tindakan tersebut pada dasarnya memang melanggar hukum. Melalui tindakan perusakan dan penjarahan atas nama komunisme, atau seruan untuk menggulingkan kapitalisme, mereka berusaha mewujudkan gagasan-gagasan tersebut.”

Dr. Shen Mingshi melanjutkan: “Ketika berbagai gagasan tersebut diwujudkan menjadi tindakan nyata, seperti menggulingkan pemerintah atau melakukan aksi yang merusak masyarakat, semuanya justru bertentangan dengan kebebasan berbicara.

“Karena itu, tindakan-tindakan radikal yang ditimbulkan oleh komunisme tidak boleh disamarkan dengan dalih ‘kebebasan berbicara’ atau ‘diskusi akademis’.”

Dr. Shen Mingshi menyimpulkan: “Hal yang paling mendasar adalah bagaimana memperkuat dan meningkatkan efektivitas sistem demokrasi itu sendiri. Dengan memperbaiki kondisi ekonomi, menyediakan lebih banyak kesempatan kerja bagi generasi muda, memperkecil kesenjangan antara kaya dan miskin, serta mengatasi ketidakpuasan kelompok masyarakat lapisan bawah, kita dapat menghilangkan lahan subur bagi tumbuhnya pemikiran radikal.” (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia dan Dubai Jajaki Kerja Sama Pertukaran Data Elektronik untuk Percepat Perdagangan Internasional
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Airlangga Sebut Gejolak MSCI Tak Ganggu Fundamental Ekonomi Indonesia

• 12 jam laludisway.id
thumb
Anggota DPR Kutuk Dokter yang Cabuli Anak Kandung, Minta Kemenkes Tindak Tegas
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kios Bakso di Ciracas Ambruk Timpa Pemilik, Korban Terjepit Reruntuhan
• 8 jam laludetik.com
thumb
Modus Pengiriman Penyelundupan 73.000 Benih Lobster di Depok Terbongkar, Bedakan Packing Perjalanan Darat dan Udara
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.