Utang Proyek AI Makin Menggunung, Investor Mulai Waswas

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Tumpukan utang untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mulai membuat para investor khawatir. Sebab ini berisiko ini menekan saham sejumlah perusahaan penyedia komputasi AI, termasuk CoreWeave, Iren, dan Nebius, di tengah kebutuhan pendanaan besar untuk membangun data center.

Kekhawatiran meningkat setelah biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar utang CoreWeave melonjak. Imbal hasil obligasi perusahaan tersebut juga naik, mendorong investor mempertanyakan besarnya utang yang digunakan untuk membiayai pembangunan pusat data.

Namun, Chief Revenue Officer Nebius Marc Boroditsky menegaskan kondisi perusahaannya berbeda dari CoreWeave.

"Karena kami tidak memiliki jenis utang seperti yang mereka miliki," kata Boroditsky, dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (22/10/2026).

Pilihan Redaksi
  • Investor Data Center Disuruh Bayar Jatah Warga Lokal
  • Warga RI Pakai AI Bukan Buat Kerja, Paling Hobi Bikin Gambar

Di tengah kekhawatiran tersebut, Boroditsky melihat permintaan komputasi AI masih sangat kuat. Ia memperkirakan kapasitas komputasi Nebius yang mulai beroperasi pada 2027 akan terserap seluruhnya oleh pelanggan. Kondisi serupa berpotensi terjadi pada 2028.

Nebius juga mencatat kenaikan harga layanan komputasi AI. Hasil lelang kapasitas komputasi yang digelar perusahaan pada Selasa menunjukkan harga per megawatt terus meningkat. Saat ditanya apakah harga tersebut akan terus naik melampaui perkiraan, Boroditsky menjawab, "Ya."

Optimisme serupa disampaikan CEO Crusoe Chase Lochmiller. Ia mengatakan harga sewa GPU Nvidia generasi lama, termasuk A100, kini lebih tinggi dibandingkan dengan pada 2020 atau 2021. Harga H100 juga melampaui tingkat ketika chip tersebut pertama kali digunakan pada 2023.

Menurut Lochmiller, kenaikan harga mencerminkan besarnya permintaan komputasi AI seiring kemampuan model AI yang semakin canggih.

Kondisi ini membantu perusahaan infrastruktur AI mengoptimalkan pendapatan dari GPU yang telah mereka beli dan mempercepat pengembalian investasi.

Sentimen positif turut muncul setelah SpaceX melaporkan pendapatan bisnis AI-nya melonjak sembilan kali lipat menjadi US$7,56 miliar.

Direktur Keuangan SpaceX Bret Johnsen mengatakan harga layanan komputasi saat ini sedikit melampaui batas atas kisaran US$30-US$50 per watt.

Boroditsky menilai hasil tersebut menegaskan bahwa permintaan komputasi AI masih jauh melampaui pasokan yang tersedia.

Meski demikian, tingginya permintaan dan kenaikan harga belum menghilangkan kekhawatiran investor. Besarnya kebutuhan modal untuk membeli GPU dan membangun pusat data tetap menjadi tantangan, terutama bagi perusahaan yang mengandalkan utang untuk membiayai ekspansi.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mesin Pengering Padi TEP ITS Hemat Waktu 8 Jam, Petani Manokwari Lepas dari Jerat Tengkulak
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
Konsolidasikan Kekuatan, Hanura Bidik Kursi DPR RI dari Sulut
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Truk Kontainer Parkir Sembarangan di Jalan Jampea Koja Picu Kemacetan, Warga Minta Penertiban Diperketat
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Menlu RI Ingatkan Warga Indonesia tak Ikut-Ikut Demonstrasi di Eropa
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Terungkap Penyebab Ibunda Marsha Aruan Meninggal, Sempat Drop Mendadak
• 11 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.