Liputan6.com, Jakarta - Sarung, peci, kitab kuning, dan rutinitas mengaji masih menjadi gambaran yang lekat ketika orang membicarakan santri. Gambaran itu memang menjadi bagian dari kehidupan pesantren. Namun, jika santri hanya dilihat dari hal-hal tersebut, ada banyak sisi kehidupan mereka yang luput dari perhatian.
Di tengah dunia yang terus berubah, santri juga menghadapi tuntutan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan di luar lingkungan pondok.
Advertisement
Ilmu agama tetap menjadi bekal utama, tetapi keterampilan lain semakin dibutuhkan ketika mereka memasuki dunia kerja, membangun usaha, atau mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Jumlah pesantren yang mencapai puluhan ribu menunjukkan besarnya peran lembaga ini dalam pendidikan di Indonesia. Kementerian Agama mencatat sekitar 42.391 pesantren pada 2026. Dalam pemutakhiran data yang masih berlangsung, sebanyak 4,63 juta santri telah terverifikasi berdasarkan nama dan alamat. Angka santri tersebut belum mencerminkan keseluruhan populasi nasional karena proses pendataan masih berjalan.
Besarnya jumlah itu membuat tantangan pesantren tak hanya berkaitan dengan menjaga tradisi pendidikan agama, tetapi juga menyiapkan santri menghadapi perubahan zaman. Mereka perlu memiliki bekal untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, membangun usaha, dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Hafiz, santri Pesantren Buntet, yang sebagian sistem pengajarannya masih bergaya salaf (tradisional) melihat masih adanya anggapan bahwa kehidupan santri hanya berkutat pada pelajaran agama.
“Masih ada anggapan bahwa santri itu hanya belajar agama, membaca kitab kuning, mengaji. ujung-ujungnya nantinya menjadi ustaz atau kiai,” kata Hafiz saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (22/10/2026).
Menurut dia, pandangan tersebut belum menggambarkan potensi santri secara utuh. Menurutnya banyak ilmu-ilmu praktis, sosial bahkan sains yang dijuga dipelajari di pesantren.
“Di pesantren juga belajar soal ilmu-ilmu logika, filsafat. Ada namanya mantiq, ilmu tentang kaidah berpikir yang menjaga akal agar tidak salah dalam menarik kesimpulan atau berlogika. Ada ilmu Falak, ,mempelajari pergerakan benda-benda langit, sistem tata surya, serta geometri bola langit. Jadi tidak hanya fiqh dan hal-hal agama saja," kata dia.
Bagi Hafiz, mendalami ilmu agama tidak berarti menutup diri dari pengetahuan lain. Santri tetap bisa memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan tanpa harus meninggalkan pendidikan yang menjadi dasar kehidupan mereka di pesantren.
“Belajar agama menjadi fokus utama kami, tetapi bukan berarti wawasan kami terbatas.”
Pandangan itu menjadi penting ketika santri harus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah lulus.
Mereka tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.




