Pantau - Festival Batik Tebet 2026 digelar di Jakarta Selatan untuk memperingati Hari Batik Nasional sekaligus memperkuat pelestarian budaya dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui keterlibatan 55 kolaborator serta 40 stan UMKM dan BUMN.
Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengenal dan mencintai batik sekaligus memberikan kesempatan kepada pelaku industri kreatif untuk mempromosikan produk unggulan mereka.
Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, menegaskan bahwa batik tidak boleh hanya dipandang sebagai warisan budaya yang dipamerkan atau dikenang, tetapi harus terus digunakan dan dipromosikan dalam kehidupan sehari-hari.
"Batik tidak boleh hanya kita lihat, tetapi harus diwujudkan. Seluruh warga masyarakat harus mengenal, mencintai, menggunakan, dan yang tidak kalah penting adalah terus mempromosikan batik," kata Syafrin di Jakarta, Kamis.
Menurut Syafrin, Festival Batik Tebet bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya Indonesia.
Ia menekankan bahwa pelestarian batik perlu dilakukan melalui tindakan nyata, termasuk membiasakan penggunaan batik dalam berbagai aktivitas masyarakat dan tidak hanya pada kegiatan formal.
Festival Batik Tebet 2026 Libatkan 55 Kolaborator untuk Lestarikan BudayaSyafrin menjelaskan bahwa Festival Batik Tebet 2026 melibatkan sebanyak 55 kolaborator dari berbagai unsur, termasuk pemerintah, pelaku UMKM, industri kreatif, dan masyarakat.
Keterlibatan puluhan kolaborator tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama dalam menjaga keberadaan batik sekaligus mendorong pengembangan ekonomi lokal.
"Kolaborasi ini krusial untuk menjaga eksistensi batik agar tetap relevan di tengah pesatnya arus globalisasi," ucap Syafrin.
Dalam penyelenggaraan festival tersebut, Pemerintah Kota Jakarta Selatan menetapkan tiga tujuan utama yang menjadi landasan pengembangan kegiatan budaya dan ekonomi kreatif.
Tujuan pertama adalah menjadikan batik sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari sehingga penggunaannya tidak hanya terbatas pada acara resmi atau peringatan tertentu.
Tujuan kedua adalah meningkatkan keterlibatan pelaku industri kreatif dan UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui promosi, pemasaran, dan pengembangan produk.
Sementara itu, tujuan ketiga adalah mengembangkan kawasan Tebet sebagai pusat industri kreatif yang produktif dan memiliki daya saing.
Ketiga tujuan tersebut juga diarahkan untuk mendukung visi Jakarta sebagai kota global yang terus berkembang tanpa meninggalkan identitas dan nilai budaya lokal.
Syafrin berharap kolaborasi yang telah terbangun melalui festival dapat terus dilanjutkan untuk memperkuat ekosistem industri kreatif di wilayah Tebet.
"Upaya menghadirkan puluhan kolaborator ini menjadi kekuatan yang harus terus kita jaga dan kembangkan, sehingga kawasan Tebet dapat menjadi kiblat baru bagi pengembangan ekonomi kreatif di Jakarta," kata Syafrin.
Anak PAUD hingga Ibu PKK Ikuti Edukasi dan Lomba MembatikKetua Panitia Festival Batik Tebet 2026, Watini, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung selama satu hari tersebut juga dirancang sebagai sarana edukasi budaya bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Salah satu fokus utama festival adalah mengenalkan seni batik sejak usia dini sekaligus memberikan pemahaman mengenai proses pembuatan batik tulis dan batik cap.
"Salah satu fokusnya adalah memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai proses pembuatan batik tulis dan batik cap," kata Watini.
Melalui kegiatan edukasi tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal batik sebagai pakaian atau produk tekstil, tetapi juga memahami keterampilan dan nilai seni dalam proses pembuatannya.
Festival menghadirkan kegiatan membatik bersama menggunakan kain batik harmonis sepanjang 10 meter yang melibatkan ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Kegiatan tersebut menjadi sarana partisipasi masyarakat dalam pelestarian budaya sekaligus memperkuat kreativitas dan kebersamaan peserta.
Selain membatik bersama, panitia menyelenggarakan lomba mewarnai batik yang diikuti sebanyak 50 anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Melalui lomba tersebut, anak-anak diperkenalkan dengan motif batik sekaligus diberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas melalui kegiatan seni.
Panitia juga menggelar lomba membatik yang melibatkan 40 peserta dari kelompok PKK tingkat kecamatan dan kelurahan.
"Ada juga lomba membatik yang diikuti 40 peserta dari PKK tingkat kecamatan dan kelurahan," ucap Watini.
Lomba membatik tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan langsung masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus meningkatkan keterampilan seni batik.
Bazar 40 Stan UMKM dan BUMN Dorong Promosi Produk Lokal TebetSelain kegiatan edukasi budaya, Festival Batik Tebet 2026 juga menghadirkan bazar UMKM dan BUMN Showcase dengan total 40 stan.
Bazar tersebut menampilkan berbagai produk unggulan khas Kecamatan Tebet yang dipasarkan langsung kepada masyarakat dan pengunjung festival.
Kehadiran stan UMKM memberikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk, memperluas jangkauan promosi, serta meningkatkan peluang pemasaran.
Festival ini juga menjadi sarana pemberdayaan bagi UMKM binaan Kecamatan Tebet dan perajin batik setempat.
Melalui kegiatan tersebut, pelaku usaha dapat berinteraksi langsung dengan konsumen sekaligus memperkenalkan produk unggulan yang dikembangkan masyarakat.
Penyelenggaraan bazar menjadi bagian dari upaya menghubungkan pelestarian budaya dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehingga festival tidak hanya berfungsi sebagai hiburan dan edukasi.
Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat pengembangan industri kreatif yang berbasis pada potensi dan identitas budaya lokal.
Festival Batik Tebet Didukung CSR, Pengusaha, dan MasyarakatWatini menyampaikan bahwa penyelenggaraan Festival Batik Tebet 2026 mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), kalangan pengusaha, instansi terkait, serta warga Kecamatan Tebet.
Dukungan tersebut memungkinkan panitia menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM, perajin, anak-anak, kelompok PKK, dan masyarakat umum.
"Tentunya kesuksesan Festival Batik Tebet 2026 ini tidak lepas dari dukungan penuh berbagai pihak, mulai dari CSR, pengusaha, instansi terkait, hingga warga Kecamatan Tebet. Acara ini menjadi bukti nyata implementasi arahan pimpinan mengenai prinsip komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi," ucap Watini.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan festival yang menggabungkan kegiatan pelestarian budaya dengan pemberdayaan ekonomi.
Secara keseluruhan, Festival Batik Tebet 2026 melibatkan 55 kolaborator, menghadirkan 40 stan UMKM dan BUMN, serta menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi dan perlombaan membatik.
Rangkaian kegiatan tersebut mencakup membatik bersama pada kain sepanjang 10 meter, lomba mewarnai bagi 50 anak PAUD, serta lomba membatik yang diikuti 40 peserta PKK.
Melalui penyelenggaraan festival ini, Pemerintah Kota Jakarta Selatan berupaya meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap batik sekaligus memperluas peluang pengembangan usaha bagi pelaku UMKM.
Festival Batik Tebet 2026 juga menjadi bagian dari upaya menjadikan kawasan Tebet sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di Jakarta yang tetap mempertahankan nilai budaya dan warisan batik Indonesia.




