jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Agama berkolaborasi dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menjalankan program Pesantren Adaptif dan Mandiri, Santri 5.0, serta Dakwah Digital. Dirjen Pesantren Basnang Said menyebut kerjasama strategis tersebut dilakukan agar kebaikan bisa menjangkau masyarakat lebih luas.
“Kami punya concern yang sama. Bagaimana agar santri dan pesantren bisa terus relevan di tengah perkembangan media digital dan artificial intelligence (AI),” kata Basnang.
BACA JUGA: Teknologi Digital Perkuat Komunikasi dan Transparansi Madrasah dengan Komite
Karena itu, lanjut Basnang, pesantren harus mengadopsi media digital dan AI tidak hanya sebagai tren. Tapi bagian transformasi pesantren untuk memperluas kebaikan. “Agar kebaikan tidak hanya berkutat di pesantren tapi bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas,” katanya.
Wakil Ketua Umum PBNU Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid menyebut PBNU bisa menjadi partner kolaborasi yang strategis bagi Kemenag. Apalagi, di PBNU Gus Ipang merupakan waketum yang membidangi media dan digital.
BACA JUGA: Perkuat Bantuan Hukum Nasional, Presiden DPN Indonesia Bekali 2.000 Kader Pagar Nusa NU
Menurut Ipang, kerja sama tersebut bisa dimulai dengan mengenalkan AI kepada santri, memberikan pelatihan keterampilan, serta melibatkan kreator konten untuk membantu dakwah pesantren di media sosial. “Selain dia bisa mandiri, tapi dia juga adaptif dengan teknologi,” kata Ipang.
Santri juga perlu dikenalkan dengan sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM. Bersamaan dengan itu, pesantren perlu membekali santri dengan keterampilan praktis, seperti berkebun dan beternak.
BACA JUGA: PPPK Diharapkan Ikut Membendung Paham IRET
Pembekalan tersebut sejalan dengan program Santri 5.0. Ipang ingin santri memiliki kemampuan di berbagai bidang selain penguasaan ilmu agama. “Santri yang menguasai aspek spiritual, dia juga kuat di intelektual, dan dia juga paham vokasional,” ujarnya.
Untuk program Dakwah Digital, Ipang menyebut sejumlah tokoh dan kreator konten ingin ikut membantu. Di antaranya Habib Husein Ja’far, Atta Halilintar, Putra Siregar, Willy Salim, dan Aldi Taher.
“Kami ingin menurunkan bahasa dakwah menjadi sesuatu yang lebih universal,” katanya.
Melalui keterlibatan mereka, pesan-pesan dari pesantren diharapkan bisa menjangkau lebih banyak pengguna media sosial. Ipang menyebut kerja sama ini terbuka bagi siapa pun yang ingin ikut menyebarkan kebaikan.
“Ini bukan permasalahan untuk NU atau bukan NU, bukan. Ini untuk kebaikan yang universal. Jadi, bagaimana membawa kesejukan di ranah media sosial bagi semuanya,” ujarnya. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kemenag: Jumlah Santri di Indonesia 4,6 Juta, Masih Terus Bertambah
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan




