Grid.ID – Perjuangan memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan menyisakan pengalaman emosional bagi Zaskia Adya Mecca. Turun langsung ke lapangan untuk membantu penanganan kebakaran, istri Hanung Bramantyo itu mengaku sulit menahan tangis saat melihat kondisi yang masih terjadi setelah berbulan-bulan.
Zaskia terjun membantu penanganan karhutla bersama Rangkul Foundation. Dalam kegiatan tersebut, ia melihat langsung perjuangan para relawan yang berupaya memadamkan api di tengah berbagai keterbatasan.
Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah usaha para relawan untuk tetap bergerak meski harus mengandalkan dana seadanya. Mereka bahkan patungan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pompa yang digunakan dalam upaya pemadaman.
Melalui unggahan yang dibagikan Zaskia lewat akun pribadinya, seorang relawan menceritakan bagaimana mereka mengumpulkan uang semampunya agar bisa terus membantu di lapangan.
“Yah kita patungan seadanya di kantong. Ada yang 5ribu, 15ribu, seadanya lah yang penting bisa bermanfaat jagain api ga semakin kemana2. Standby juga kita kalo ada yang kabarin api nyala, jam 3 subuh juga kami bergerak,” ungkap relawan tersebut, dikutip dari Instagram @zaskiaadyamecca.
Perjuangan para relawan ini membuat Zaskia mendapat kesempatan untuk ikut membantu memadamkan kebakaran di lahan gambut tersebut. Pengalamannya ini membuat Zaskia merasakan langsung beratnya upaya pemadaman yang selama ini dilakukan di lapangan.
“Alhamdulillah dapet kesempatan hari ini memadamkan lahan gambut yang terbakar. Berat banget taunya,” tulis Zaskia dalam postingan pribadinya
Pengalaman itu membuat Zaskia semakin emosional ketika melihat kondisi karhutla yang belum juga selesai. Ia mengungkapkan bahwa kunjungannya kali ini terasa berbeda dibandingkan pengalaman turun langsung ke lapangan sebelumnya.
“Maaf banget nangis mulu, selama ku turun ke lapangan kok ini rasanya paling emosional ya?! 4 bulan masih kaya begini dan belum tau kapan akan selesai,” ungkapnya.
Karhutla Berlangsung Berbulan-bulan, Ini Dampaknya bagi Masyarakat
Baca Juga: Tangis Zaskia Adya Mecca Pecah saat Jadi Relawan Karhutla Kalimantan, Akui Pilu Lihat Kondisi Warga: Nggak Layak Buat Hidup
Kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung sudah 4 bulan tak hanya menyulitkan relawan, tetapi juga berdampak pada masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak. Asap yang ditimbulkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Paparan asap karhutla dapat memicu batuk, iritasi mata, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan menjadi kelompok yang lebih rentan mengalami dampak tersebut.
Dilansir dari Kompas.com, data Kementerian Kesehatan yang diberitakan pada 17 Oktober 2026 mencatat 314.124 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak karhutla, termasuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan upaya berkelanjutan, bukan hanya ketika api muncul. Selain pemadaman, dukungan terhadap relawan dan masyarakat terdampak juga menjadi bagian penting dalam menghadapi bencana tersebut. (*)
Artikel Asli




