JAKARTA, KOMPAS — Pengembang gim dalam negeri masih menghadapi tantangan keterbatasan modal di tengah masifnya pasar gim Indonesia. Pakar menilai kebijakan pemerintah sekarang belum cukup menyelesaikan persoalan struktural industri.
”Pengembang gim lokal menghadapi keterbatasan pembiayaan, biaya produksi dan pemasaran yang tinggi, serta kesulitan mempertahankan gim agar terus menghasilkan pendapatan,” ujar Direktur Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute Heri Sutedi saat dihubungi, Kamis (22/10/2026).
Indonesia merupakan pasar industri gim terbesar di Asia Tenggara dengan tren pertumbuhan yang terus meningkat. Berdasarkan laporan Global Games Market Report dari Newzoo, pemain gim aktif di Indonesia mencapai 175 juta orang pada 2025 atau 45 persen dari total populasi penduduk nasional.
Basis pemain gim aktif di Indonesia mencapai 175 juta orang pada 2025 atau setara 45 persen dari total populasi nasional.
Kajian Ken Research tentang Indonesia Games Market Size 2026–2031 memproyeksikan nilai pasar gim Indonesia akan melonjak, dari 1,95 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 3,27 miliar dolar AS pada 2031. Nilai ini diperkirakan tumbuh rata-rata 9 persen per tahun, melanjutkan tren positif periode 2020–2025 yang mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 12,1 persen.
Meskipun potensi pasar dalam negeri tergolong besar, hasilnya belum dinikmati secara optimal oleh pelaku usaha dalam negeri. Data Asosiasi Game Indonesia (AGI) pada 2025 menunjukkan pangsa pasar gim lokal baru menyerap sekitar 2,5 persen.
Sementara 97,5 persen pasar didominasi oleh penerbit dan pengembang luar negeri. Perputaran uang dari belanja gim masyarakat Indonesia hampir seluruhnya mengalir ke pasar global.
Heri menilai, pangsa pasar yang kontras tersebut muncul lantaran jumlah pemain gim yang besar belum dibarengi dengan kekuatan industri yang sebanding untuk menangkap nilai ekonominya.
Pengembang gim luar negeri umumnya memiliki kekuatan modal yang lebih besar dan pengalaman mengelola gim secara berkelanjutan. Mereka juga memiliki kemampuan pemasaran global, serta akses ke penerbit dan platform distribusi yang lebih baik dibandingkan pengembang gim lokal.
Menurut dia, meningkatkan pemasukan pengembang gim lokal tak cukup sekadar menciptakan gim yang menarik minat pemain. Pengembangan ini perlu dibarengi dengan membangun komunitas pemain, memperbarui konten, dan memonetisasi produk secara berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan modal yang mendukung industri lokal untuk mengeruk pasar dalam negeri.
Keberhasilan kebijakan jangan hanya diukur dari jumlah studio yang dibina atau gim yang diluncurkan, tetapi dari pendapatan pengembang lokal, jumlah gim yang berhasil menembus pasar global, penciptaan lapangan kerja, dan kepemilikan kekayaan intelektual oleh perusahaan Indonesia.
Indonesia sebelumnya telah memiliki regulasi yang memperkuat ekosistem industri gim lokal melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional. Kebijakan ini menjadi landasan hukum tentang tentang arah serta strategi terpadu dari pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri gim di Indonesia.
Kendati begitu, Heri menilai, keberadaan regulasi belum serta-merta menyelesaikan persoalan struktural industri. ”Dukungan pemerintah harus lebih konkret dan terintegrasi, mulai dari pendanaan untuk pengembangan gim, insentif berbasis hasil, akses ke penerbit dan pasar internasional, hingga fasilitasi teknologi dan perangkat pengembangan untuk konsol maupun platform global,” tuturnya.
Dukungan ini perlu diberikan sepanjang rantai nilai, termasuk pendidikan, desain, animasi, pengujian gim, pemasaran, dan pengelolaan komunitas. Tak kalah penting, pemerintah harus memperkuat perlindungan kekayaan intelektual agar hak atas gim tidak mudah lepas karena keterbatasan modal.
”Keberhasilan kebijakan jangan hanya diukur dari jumlah studio yang dibina atau gim yang diluncurkan, tetapi dari pendapatan pengembang lokal, jumlah gim yang berhasil menembus pasar global, penciptaan lapangan kerja, dan kepemilikan kekayaan intelektual oleh perusahaan Indonesia,” ujar Heri.
Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) Luat Sihombing menyampaikan sejumlah langkah strategis yang disiapkan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi industri gim lokal. Langkah itu antara lain memperbarui regulasi, menjembatani kemitraan dengan industri global, dan kolaborasi lintas subsektor ekonomi kreatif.
”Industri gim sudah menjadi bagian penting dari ekonomi kita dan masih memiliki banyak ruang untuk tumbuh. Namun, seberapa jauh pertumbuhannya akan bergantung pada keputusan yang kita buat dalam kebijakan,” ucap Luat dalam sambutannya pada forum Tencent White Paper Launch yang dihelat di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).
Forum ini merupakan salah satu rangkaian acara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang digelar pada 21-25 Oktober 2026. Dalam forum ini, turut hadir Director and Deputy Head of Economics Strategy Practice Access Partnership, Cheng Wei Swee, dan Director of Global Public Affairs Tencent, Monrawee Ampolpittayanant.
Luat dalam kesempatan yang sama menyampaikan, Kemenkraf tengah mempercepat pembaruan regulasi Perpres Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional. Salah satu pembahasannya, revisi ini memungkinkan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) dijadikan agunan untuk mendapatkan pinjaman di bank. Pemerintah terus mengoptimalkan mekanisme ini sebagai salah satu alternatif pendanaan proyek bagi perusahaan gim.
Fasilitas pembiayaan juga disiapkan sebagai upaya memperkuat ekosistem serta pendanaan industri gim nasional. Skema yang sudah dijalankan mencakup pendanaan dari Dana Indonesia Raya di Kementerian Kebudayaan yang sudah berhasil diakses oleh beberapa pengembang di Indonesia.
Selain itu, dalam forum ini, Luat berkomitmen untuk menjembatani kerja sama antara studio lokal dan pemain global kelas dunia, seperti Tencent, agar terjadi transfer pengetahuan kepada industri di Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan efek jangka panjang untuk memperbesar kapabilitas talenta lokal.
Kolaborasi lintas subsektor juga menjadi fokus utama dalam menopang industri pengembang gim lokal. Pemerintah berupaya menghubungkan IP gim lokal dengan subsektor ekonomi kreatif lainnya, seperti fashion, komik, dan musik, untuk memperluas penetrasi pasar dan menciptakan model bisnis yang berkelanjutan bagi pengembang.
”Namun, ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan pemerintah sendiri. Kami membutuhkan industri sebagai rekan, akademisi, dan semua pihak saat ini memiliki pemahaman dan tujuan yang sama. Jadi, saya harap laporan ini menjadi titik awal untuk diskusi lebih lanjut,” ujar Luat.
Tantangan pendanaan pengembang Indonesia juga disoroti oleh pakar internasional. Direktur dan Wakil Kepala Bidang Strategi Ekonomi Access Partnership Cheng Wei Swee mengidentifikasi bahwa belum tersedianya skema pendanaan yang memadai menjadi penghambat utama studio lokal untuk meningkatkan skala bisnis.
”Dari analisis mendalam mengenai Indonesia, kita berhasil mengidentifikasi beberapa permasalahan utama. Salah satu yang paling krusial adalah pembiayaan. Ketika kita mewawancarai berbagai perusahaan dan pengembang, mereka memang kekurangan mekanisme pendanaan untuk membesarkan skala bisnis mereka,” tuturnya dalam forum yang sama.
Ia menyarankan Indonesia mencontoh industri di Selandia Baru. Para pelaku usaha berdiskusi dengan pemerintahnya untuk menerapkan Game Development Sector Rebate (GDSR) sebesar 25 persen untuk memitigasi migrasi pengembang ke Australia yang menawarkan rabat 30 persen.
Hasilnya, Pemerintah Selandia Baru resmi menerapkan GDSR sebesar 20 persen. Meskipun angka tersebut masih di bawah insentif Australia, skema ini terbukti memberikan dampak signifikan bagi industri lokal.
Dia juga menyarankan para pengembang gim lokal untuk menguji gim mereka di pasar domestik terlebih dahulu guna mendapatkan traksi sebelum mengekspornya ke pasar global, meniru kesuksesan pasar besar seperti Korea dan Jepang.
”Saya rasa hal inilah yang perlu dipikirkan oleh pemerintah. Menyediakan wadah yang aman untuk mendorong berbagai eksperimen sehingga para pengembang bisa menguji produk mereka di pasar lokal dan menghasilkan produk terbaik yang siap diekspor ke seluruh dunia,” ujarnya.
Langkah penguatan ekosistem gim lokal ini mendapat sambutan dari pelaku industri global. Director of Global Public Affairs Tencent, Monrawee Ampolpittayanant, menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan talenta lokal Indonesia, salah satunya melalui program inkubasi dan kompetisi GAMESEED.
GAMESEED merupakan program inkubasi dan kompetisi gim terbesar di Indonesia yang diinisiasi oleh Asosiasi AGI bersama Kemenkraf. Karya finalis dari program ini dipamerkan di ajang besar seperti Indonesia Game Developer eXchange (IGDX) dan Indonesia Game Expo (IGX).
Program ini memberikan kesempatan bagi tim pemenang untuk mempresentasikan karya mereka kepada mitra relevan atau penerbit gim. Pada 2025, Tencent mendukung program GAMESEED yang diikuti oleh sekitar 1.600 peserta dari seluruh dunia dan menghasilkan 240 prototipe gim.
Ia berkomitmen untuk menciptakan lebih banyak peluang ekonomi di seluruh ekosistem gim. Pada turnamen Honor of Kings (HOK) Invitational musim keempat di Jakarta pada 31 Januari-8 Februari 2026, Tencent mengumumkan dukungan program ekosistem Indonesia senilai sekitar 6 juta dolar AS.
Program ini menyediakan insentif, peluang pembagian pendapatan, serta sumber daya kreatif bagi para kreator lokal dan talenta e-sport.
Ia berpendapat, potensi IP orisinal asal Asia Tenggara sangat besar untuk bersaing di panggung internasional. Tencent berkomitmen dan menantikan untuk terus mendukung ekspansi jenama-jenama lokal tersebut agar dapat menjangkau lebih banyak pasar global.
”Sebagai orang yang berasal dari kawasan ini, saya merasa sangat bangga ketika melihat karya-karya dari Asia Tenggara. Kami tentu ingin memberikan dukungan penuh agar makin banyak karya dari Asia Tenggara yang tampil di panggung internasional,” ucapnya.





