Beredar di media sosial narasi yang menyebut Siklon Tropis Champi menyedot karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), hingga aerosol dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Indonesia bagian timur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi penjelasan terkait fenomena tersebut.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdani, menjelaskan Siklon Tropis Champi tak secara langsung mengubah arah penyebaran asap karhutla. Meski begitu, sirkulasi siklon tersebut masih bisa memengaruhi kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Indonesia.
"Secara meteorologis, Siklon Tropis Champi tidak menyedot asap karhutla atau secara langsung mengubah arah sebarannya," kata Andri kepada wartawan, Jumat (23/10/2026).
Dia mengatakan Champi saat ini berada sekitar 1.890 kilometer di utara Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Siklon tersebut bergerak menjauhi wilayah Indonesia.
"Meski demikian, sirkulasinya masih dapat memengaruhi kondisi atmosfer di sebagian wilayah Indonesia," katanya.
Dia mengatakan salah satu dampaknya berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla. BMKG menjelaskan hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel asap di udara.
"Pengaruh tidak langsung tersebut antara lain berupa hujan sedang hingga lebat di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian utara, dan Kepulauan Riau bagian utara," ujarnya.
"Jika hujan turun di wilayah terdampak asap, air hujan akan menangkap dan membawa sebagian partikel asap ke permukaan sehingga mengurangi konsentrasi partikel di udara setempat," sambungnya.
BMKG menjelaskan Champi berada pada kategori 4 dan diprakirakan mengalami penurunan kekuatan. Pergerakannya juga diperkirakan tetap menjauhi Indonesia.
"Jadi, pengaruh Champi terhadap asap bukan melalui tarikan angin secara langsung, melainkan melalui kondisi cuaca, termasuk hujan yang dapat membantu mengurangi partikel asap di udara. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG," tuturnya.
(amw/ygs)





