Kenaikan harga sejumlah bahan pangan membuat masyarakat harus semakin cermat mengatur pengeluaran. Ada yang mengganti bahan makanan, mengurangi belanja hiburan, membawa bekal ke kantor, hingga mencari makanan murah dan gratis. Di tengah tekanan terhadap daya beli, berbagai siasat dilakukan agar kebutuhan makan keluarga tetap terpenuhi.
1. Bagaimana warga menyiasati kenaikan harga pangan?
2. Seberapa besar kenaikan harga pangan menekan belanja warga?
3. Mengapa warga sampai mengganti bahan makanan?
4. Bagaimana pekerja menghemat biaya makan sehari-hari?
5. Mengapa makanan gratis menjadi pilihan sebagian warga?
Kenaikan harga pangan memaksa warga mengubah pola belanja dan konsumsi. Sebagian mengurangi jumlah bahan makanan, memilih produk lebih murah, atau mengganti bahan tertentu dengan alternatif yang lebih terjangkau.
Endang (43), warga Pontianak, Kalimantan Barat, misalnya, mengurangi pembelian cabai rawit dan menggantinya dengan cabai kering. Ia juga memangkas anggaran liburan dan memilih menghabiskan waktu di rumah.
Rahmi (41), warga Padang, Sumatera Barat, mengambil langkah berbeda. Ia mempertahankan belanja pangan demi kebutuhan gizi empat anaknya, tetapi mengurangi frekuensi makan di luar rumah dari sekali seminggu menjadi dua kali sebulan.
Siasat penghematan juga dilakukan Asyifa (28), warga Karawaci, Banten. Ia membeli produk kebersihan bermerek kurang terkenal secara grosir dan memanfaatkan diskon belanja daring agar anggaran makan keluarga tidak terganggu.
Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menunjukkan, harga 15 komoditas pangan meningkat melampaui inflasi tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,37 persen pada September 2026. Rata-rata kenaikannya mencapai 12,6 persen.
Cabai rawit merah mencatat kenaikan tertinggi, yakni 55,7 persen. Dengan uang Rp 100.000, warga hanya memperoleh 1.165 gram cabai pada September 2026, dibandingkan dengan 1.814 gram setahun sebelumnya.
Tekanan itu terlihat pada pengeluaran Rahmi. Harga ayam yang dibelinya naik dari Rp 50.000 menjadi Rp 70.000 per kilogram. Ia kini menghabiskan Rp 200.000-Rp 300.000 setiap minggu untuk kebutuhan pangan.
Analisis Kompas terhadap Survei Konsumen Bank Indonesia juga menunjukkan proporsi pengeluaran untuk konsumsi naik dari 72,1 persen pada April menjadi 74,9 persen pada September 2026. Sebaliknya, porsi tabungan turun dari 18,2 persen menjadi 15,4 persen.
Lonjakan harga membuat sejumlah bahan makanan semakin sulit dijangkau. Di Makassar, Sulawesi Selatan, harga jeruk nipis mencapai Rp 800.000-Rp 1 juta per karung berukuran sekitar 50 kilogram, dari sebelumnya hanya Rp 80.000.
Norma, penanggung jawab Warung Coto Tamalanrea, menghemat pemakaian jeruk nipis dengan menyajikannya secara bertahap. Padahal, buah tersebut merupakan pelengkap penting dalam hidangan coto khas Makassar.
Izzah (38), pengelola usaha makanan rumahan, juga harus mengatur penggunaan bahan baku agar cita rasa palekko yang dijualnya tetap terjaga. Ia enggan menaikkan harga karena memahami tekanan ekonomi konsumennya.
Sosiolog Universitas Hasanuddin, Rahmad Muhammad, menjelaskan, sebagian warga mengganti atau mencampur jeruk nipis dengan cuka makanan ataupun asam jawa. Menurut dia, adaptasi tersebut menunjukkan kemampuan bertahan, tetapi sekaligus mengurangi kualitas pengalaman konsumsi masyarakat.
Pekerja di Jakarta mencari tempat makan murah agar penghasilan tetap mencukupi kebutuhan lainnya. Salah satu pilihan adalah warung kerek di Kuningan Barat dan warung bolong di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Ari (40), pekerja proyek asal Tangerang Selatan, memilih membeli makanan di warung kerek milik Neneng (45). Menurut dia, sekali makan di kantin tempat bekerja bisa menghabiskan Rp 50.000, sedangkan di warung tersebut Rp 20.000 sudah mengenyangkan.
Hilman (21), pekerja mal di Kemang, mengandalkan warung bolong milik Jeffry (55). Dengan anggaran Rp 25.000 sehari, ia dapat membeli makanan dan minuman. Lokasinya yang dekat juga menghemat waktu istirahat.
Strategi lain dilakukan Robby (30), karyawan swasta di Jakarta. Ia mengganti kopi kafe dengan kopi saset yang dibawa menggunakan tumbler dan membiasakan membawa bekal. Anggaran memasaknya Rp 500.000 sebulan, jauh lebih hemat dibandingkan dengan biaya makan tanpa bekal yang bisa melebihi Rp 2 juta.
Bagi warga berpenghasilan rendah, makanan gratis menjadi salah satu cara mengurangi pengeluaran. Di Bandung, Jawa Barat, kegiatan Jumat berkah membantu pekerja informal dan keluarga rentan memenuhi kebutuhan makan.
Warti (65), buruh cuci yang mengasuh dua cucu yatim piatu, rutin berjalan sekitar tiga kilometer untuk memperoleh nasi bungkus. Dengan upah Rp 75.000 sekali bekerja dan kesempatan kerja dua hingga tiga kali seminggu, bantuan makanan sangat berarti baginya.
Nanang, pengemudi ojek daring berpenghasilan kurang dari Rp 3 juta sebulan, bahkan memetakan lokasi pembagian makanan gratis. Sementara Dicky (28), sesama pengemudi ojek daring, mengaku penghasilan hariannya kini kerap kurang dari Rp 100.000.
Ronal (50), inisiator Jumat berkah di Hotel Bumi Asih, mengatakan, makanan yang dibagikan kini mencapai 200-300 bungkus setiap kegiatan. Sementara Rumah Makan Padang Keren menyiapkan 300-400 porsi. Bagi penerimanya, satu porsi gratis berarti satu kali biaya makan yang bisa dihemat.





