HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR— Telkomsel memperkuat dukungan terhadap pemerataan akses internet di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui kerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Berdasarkan data September 2026, kerja sama tersebut mencakup 848 site 3T di Regional 9 Sulawesi.
General Manager Region Network Operations and Productivity Sulawesi Telkomsel, Asep Hermawan, mengatakan dukungan Telkomsel dilakukan melalui validasi cakupan jaringan pada tahap Pra Design Review Meeting (Pra-DRM). Langkah ini untuk memastikan desa atau lokasi yang akan dibangun melalui program BAKTI belum terjangkau jaringan reguler Telkomsel.
“Telkomsel mendukung program BAKTI Komdigi untuk memperluas akses internet di wilayah 3T. Pada tahap Pra Design Review Meeting, Telkomsel bertanggung jawab membantu BAKTI memvalidasi apakah desa atau site yang akan dibangun sudah terjangkau coverage reguler Telkomsel,” jelasnya, Jumat, 23 Oktober 2026.
Dari total 848 site tersebut, Sulawesi Tengah menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 399 site. Berikutnya, Maluku Utara sebanyak 317 site dan Sulawesi Tenggara 90 site.
Sementara itu, Gorontalo tercatat sebanyak 30 site, Sulawesi Utara sembilan site, dan Sulawesi Barat tiga site. Sebaran tersebut menunjukkan cakupan kerja sama yang menjangkau sejumlah wilayah di kawasan Indonesia Timur.
Meski demikian, Telkomsel belum merinci jumlah desa yang masih belum terlayani secara memadai. Menurut Asep, data mengenai wilayah yang belum terjangkau serta rencana pembangunan jaringan menjadi kewenangan BAKTI sebagai penyelenggara program.
Hal serupa berlaku untuk penentuan wilayah prioritas ekspansi berikutnya, termasuk kabupaten di Sulawesi Selatan. Telkomsel mendukung pelaksanaan program, sedangkan penetapan lokasi pembangunan menjadi kewenangan BAKTI.
Di sisi lain, pembangunan jaringan di wilayah terpencil menghadapi tantangan geografis. Kondisi lokasi yang sulit diakses membuat proses pembangunan hingga pemeliharaan jaringan membutuhkan waktu dan biaya lebih besar dibandingkan wilayah dengan infrastruktur yang lebih memadai.
“Tantangan yang paling mendasar adalah kondisi geografis. Lokasi yang sulit diakses membuat pembangunan dan pemeliharaan jaringan di daerah terpencil membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar,” ujarnya.
Menurut Asep, pemerataan akses internet tidak cukup hanya dengan menghadirkan sinyal. Kualitas jaringan juga perlu dijaga agar masyarakat dapat menikmati koneksi yang stabil dan kapasitas yang memadai untuk mendukung berbagai aktivitas digital.
Untuk itu, Telkomsel bersama BAKTI memastikan ketersediaan jaringan di wilayah 3T sekaligus melakukan pemantauan performa secara berkelanjutan. Kecukupan kapasitas dan konektivitas backhaul atau jalur penghubung jaringan juga menjadi perhatian dalam menjaga kualitas layanan.
Asep menjelaskan, dampak konektivitas di wilayah 3T dapat dilihat dari pemanfaatan internet dalam berbagai sektor. Di bidang pendidikan, misalnya, melalui kegiatan belajar mengajar yang aktif menggunakan internet.
Di sektor kesehatan, konektivitas memungkinkan puskesmas terhubung dengan layanan kesehatan yang lebih luas. Sementara bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), akses internet dapat mendukung penggunaan layanan serta transaksi digital.
“Indikator yang paling mudah dilihat adalah seberapa banyak kegiatan belajar mengajar yang aktif memakai internet, Puskesmas yang terhubung ke layanan kesehatan yang lebih luas, serta pelaku UMKM dan masyarakat yang memakai layanan dan transaksi digital,” ungkapnya.
Meski demikian, evaluasi menyeluruh mengenai dampak program terhadap masyarakat tetap berada pada BAKTI sebagai penyelenggara. Telkomsel menegaskan dukungannya dalam memastikan ketersediaan dan kualitas jaringan agar konektivitas dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses informasi, layanan publik, dan kegiatan ekonomi masyarakat di wilayah 3T. (edo)





