Jakarta: Sobat Metrotvnews.com, coba deh cek uang kertas Rp20.000 kalian. Tahu nggak, siapa sosok yang ada di uang kertas berwarna hijau itu? Yak! Beliau adalah Dr. G.S.S.J. Ratulangi, pahlawan nasional dari Sulawesi Utara. Beliau dikenal dengan nama Sam Ratulangi, punya jejak perjuangan mulai dari bidang pendidikan, jurnalistik, hingga jadi penyampai pesan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi.
Pada uang kertas Rp20.000, sosok Sam Ratulangi tampil presisi berdampingan dengan lambang Garuda Pancasila, peta Indonesia, dan Bunga Anggrek Hitam. Di balik lembaran itu, ada pesona Tari Gong dan keindahan alam pesisir Derawan.
(Foto: Bank Indonesia)
Pria kelahiran Tondano, Minahasa, pada 5 November 1890 ini bukan tokoh sembarangan. Berbekal kepintarannya, ia sukses meraih gelar doktor di bidang ilmu pasti (matematika) dan ilmu alam di Swiss dan Belanda. Keren, kan! Namun, kepintarannya itu tidak dinikmati sendiri, melainkan menjadi amunisi untuk "memukul" mundur penjajah. Bintang Jurnalistik yang Super Kritis Sam Ratulangi memilih jalur komunikasi dan pers sebagai medan juang dalam melawan penjajah. Ia dikenal sebagai cendekiawan yang memimpin mingguan berbahasa Belanda, Nationale Commentaren (1938–1942). Meski berawal tanpa modal, majalah ini sukses besar dan menjadi yang paling terkemuka di masanya.
Sam Ratulangi. (IPPHOS - Indonesian National Library)
Kritiknya yang sangat tajam tertuang dalam tulisan. Ia pernah menulis sebuah analogi menohok tentang penderitaan rakyat akibat penjajahan: "Nasib rakyat Indonesia bukan lagi seperti seekor domba yang dicukur bulunya, tapi sudah diibaratkan seekor ayam yang dikelupaskan kulitnya."
Saking vokalnya, harian Sinar Deli di Medan menjuluki Sam Ratulangi layaknya bintang yang paling berkilau di antara tokoh pers Indonesia lainnya. Membawa Kabar Kemerdekaan ke Sulawesi Pada Agustus 1945, peran historis Sam Ratulangi paling krusial. Kok bisa?
Karena kepemilikan radio saat itu masih sangat langka, berita kemerdekaan tidak bisa langsung tersebar luas ke luar Jawa. Nah, pada momentum ini, beliau menyusun strategi komunikasi yang brilian:
-
17 Agustus 1945 (Hadir di Momen Bersejarah)
Sam Ratulangi sudah berada di Jakarta dan terlibat langsung dalam berbagai rapat persiapan proklamasi. Ia bahkan hadir langsung saat Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur. -
18–19 Agustus 1945 (Diangkat Jadi Gubernur)
Ia mengikuti sidang pertama PPKI. Dalam keputusan sidang tanggal 19 Agustus, ia resmi diangkat menjadi Gubernur Sulawesi yang pertama. Sore harinya, ia langsung terbang kembali ke Sulawesi membawa misi kemerdekaan bersama Andi Pangerang Daeng Parani, Andi Sultan Daeng Raja, dan Mr. Andi Zaenal Abidin. -
20 Agustus 1945 (Strategi Menyebar Kemerdekaan)
Rombongan mendarat di lapangan terbang kecil di Bulukumba (sekitar 160 km di selatan Kota Ujung Pandang). Pada hari yang sama, ia membacakan naskah Proklamasi secara formal di depan tokoh masyarakat. Ia lalu membagi tugas penyebaran informasi; ia sendiri bergerak ke arah utara, sementara tim lainnya memencar ke daerah lain. -
29 Agustus 1945 (Merah Putih Berkibar di Sulawesi)
Berita proklamasi akhirnya diumumkan secara luas lewat harian Pewarta Selebes. Antusiasme warga meledak! Rakyat berkumpul mengibarkan bendera Merah Putih di Lapangan Hasanuddin (Ujung Pandang) dan di Masjid Mujahidin di Sigi, Sulawesi Tengah.
(Sumber: Museum Penerangan Komdigi)
Semua dedikasi tanpa batas ini berakar dari satu filosofi hidup yang selalu ia pegang teguh: "Si tou timou tumou tou". Artinya, manusia baru bisa disebut manusia seutuhnya jika ia sudah bisa memanusiakan manusia lain. Baginya, kebahagiaan tertinggi adalah ketika ia bisa membuat sesamanya menjadi lebih terdidik dan hidup bermartabat.
Namun, Sam Ratulangi akhirnya mengembuskan napas terakhir di Jakarta pada 30 Juni 1949, saat masih berstatus sebagai tawanan musuh.
Meski raganya sudah tiada, namanya abadi menjadi nama bandara internasional dan universitas negeri di Manado. Lewat selembar Rp20.000, kita selalu diingatkan bahwa kemerdekaan negeri ini diraih lewat kecerdasan intelektual, strategi komunikasi yang matang, dan keberanian membela kebenaran!
Sumber: Bank Indonesia, Museum Penerangan Komdigi, Instagram Bank Indonesia Cirebon, Yuk, Berkenalan dengan Para Pahlawan di Rupiah Baru (Fitri Nuur Alimah)-kemendikdasmen, Mengenal Pahlawan (BI)




