REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi menemukan fakta cukup mengejutkan mengenai penggunaan vape di kalangan di remaja. Studi yang dipublikasikan di JAMA Pediatrics ini mengungkapkan bahwa remaja perempuan lebih banyak menggunakan rokok elektrik atau vape dibandingkan remaja laki-laki.
Temuan ini menandai perubahan pola penggunaan produk nikotin. Pasalnya, selama beberapa dekade, laki-laki, baik remaja maupun dewasa, cenderung lebih banyak menggunakan produk nikotin dibandingkan perempuan.
Baca Juga
Selena Gomez Ungkap Suaranya Berubah karena Sering Ngevape
Studi: Orang Tua Ngevape Berisiko Tingkatkan Risiko Asma pada Anak
Dokter Sarankan Pengguna Vape Rutin Cek Gula Darah
Menurut studi, penggunaan vape secara rutin pada remaja perempuan usia 15-17 tahun meningkat dari hampir 5 persen pada 2021 menjadi 8 persen pada 2024. Adapun, persentase remaja laki-laki dalam kelompok usia yang sama yang menggunakan vape secara rutin tercatat sebesar 4,6 persen pada 2024.
Peneliti senior dar Medical University of South Carolina, Benjamin Toll, mengatakan perubahan tren tersebut perlu mendapat perhatian serius. la menilai upaya kesehatan masyarakat perlu diperkuat untuk memahami penyebab peningkatan penggunaan vape di kalangan remaja perempuan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Kita harus memahami alasannya, dan kita perlu mengerahkan upaya kesehatan masyarakat," kata Benjamin dilansir laman US News, Kamis (22/10/2026).
Menurut dia, upaya pencegahan dan intervensi diperlukan untuk menangani penggunaan vape di kalangan remaja yang dinilai telah mencapai tingkat mengkhawatirkan. "Kita membutuhkan pencegahan sekaligus intervensi bagi para remaja ini, yang menggunakan vape pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan," kata dia.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis data dari Population Assessment of Tobacco and Health (PATH), sebuah studi federal Amerika Serikat yang telah memantau penggunaan tembakau dan nikotin sejak 2013. Analisis mencakup anak-anak dan remaja berusia 12-17 tahun dengan menggunakan data periode 2014-2024. Penelitian secara khusus berfokus pada mereka yang melaporkan menggunakan vape secara rutin dalam 30 hari terakhir.
Peneliti utama Brandon Sanford, yang merupakan asisten profesor kedokteran keluarga di Medical University of South Carolina, mengatakan kriteria tersebut menghasilkan perkiraan tingkat penggunaan vape yang relatif konservatif. Menurut Sanford, penelitian ini tidak sekadar menghitung remaja yang pernah mencoba vape sekali atau dua kali, tetapi juga mereka yang masih menggunakannya secara rutin.
"Ini bukanlah anak-anak dan remaja yang sekadar mencoba vaping sekali atau dua kali. Kita berbicara tentang remaja yang saat ini menggunakan rokok elektronik secara rutin," kata Sanford.