Jakarta, VIVA – Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto kembali menyuarakan usulan pelarangan total vape atau rokok elektrik. Dia menilai perangkat tersebut berpotensi dimanfaatkan jaringan penyelundup untuk menyamarkan peredaran narkotika, terutama yang telah diolah dalam bentuk cair.
Suyudi menyampaikan hal itu saat konferensi pers pengungkapan kasus penyelundupan 1,16 ton narkotika jenis ketamine di Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan, Sumatra Utara, Jumat (23/10/26).
Menurut Suyudi, perubahan bentuk narkotika dari padat menjadi cair membuat penyelundup memiliki cara baru untuk mengedarkan barang terlarang. Vape dinilai menjadi salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk menyamarkan narkotika tersebut.
“Karena kita tahu vape adalah salah satu pintu masuk narkotika, yang mana evolusi perubahan narkotika dunia, termasuk Indonesia, dari yang bentuknya padat menjadi cair, dan pintu masuknya adalah vape,” kata Suyudi.
Jenderal bintang empat yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu mengaku telah menyampaikan rekomendasi pelarangan vape dalam rapat dengar pendapat di DPR RI pada Mei 2026.
“Saya tatkala rapat dengar pendapat di DPR RI bulan Mei lalu, saya sudah menyampaikan dengan tegas merekomendasikan untuk melarang total vape,” ucap Suyudi.
Salah satu alasan utama Suyudi mendorong pelarangan vape adalah sulitnya petugas membedakan cairan isi ulang rokok elektrik yang legal dengan cairan yang mengandung narkotika hanya melalui pengamatan secara kasatmata.
Dia menyebut, kemiripan bentuk dan tampilan cairan tersebut menjadi tantangan bagi aparat dalam mengidentifikasi potensi penyalahgunaan vape sebagai media peredaran narkoba.
“Karena kita tahu, isi ulang atau isi cartridge di dalam vape yang tidak bisa kita bedakan, tersamar, sangat terkaburkan lah. Yang wujudnya cair, antara kimiawi biasa dengan kimia narkotika, itu tidak bisa dibedakan. BNN sekalipun, Polri, secara kasat mata tidak bisa membedakan,” ujar dia.
Suyudi juga menyoroti penggunaan aroma tertentu untuk menyamarkan kandungan narkotika. Menurut dia, jaringan penyelundup bahkan dapat mengolah ekstrak ganja sehingga memiliki aroma seperti buah-buahan.
‘Apalagi itu dikemas dengan wangi-wangian, buah-buahan, sehingga ganja pun yang mungkin kita tahu wanginya khas itu berhasil diekstrak oleh kelompok penyelundup. Sehingga dia kelihatannya bisa rasanya seperti buah-buahan,” tuturnya.





