Tingginya biaya bahan bakar gerus laba maskapai besar AS

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
New York City (ANTARA) - Saat maskapai-maskapai besar Amerika Serikat (AS) melaporkan hasil operasional kuartal ketiga (Q3) 2026 mereka, kenaikan biaya bahan bakar menekan margin keuntungan, meskipun permintaan perjalanan kuat.

Meski pendapatan mencetak rekor dan permintaan perjalanan kuat, biaya operasional yang lebih tinggi terus menggerus keuntungan dan melemahkan ekspektasi laba menjelang kuartal terakhir 2026.

American Airlines melaporkan rugi bersih sebesar 269 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp18.047) pada Q3 2026, meskipun membukukan rekor pendapatan sebesar 16,3 miliar dolar AS.

Biaya bahan bakarnya naik 1,9 miliar dolar AS, atau 67,5 persen, dengan rata-rata biaya bahan bakar sebesar 3,85 dolar AS per-galon.

Maskapai tersebut memperkirakan akan membayar 4,7 dolar AS per galon pada kuartal keempat (Q4) 2026, hampir dua kali lipat harga yang dibayar pada Q4 2025, dengan beban bahan bakar kuartalan diproyeksikan naik sekitar 2,8 miliar dolar AS secara tahunan (year on year/yoy).

American Airlines juga menurunkan proyeksi setahun penuh, dengan memperkirakan kerugian yang disesuaikan sebesar 1 hingga 1,6 dolar AS per saham, dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu rugi 65 sen hingga laba 65 sen per saham.

Sementara itu, Southwest Airlines melaporkan tantangan serupa pada Rabu (21/10), meskipun laba Q3-nya melampaui ekspektasi Wall Street.

Menurut siaran pers Southwest Airlines, maskapai yang berbasis di Dallas itu, membukukan laba bersih sebesar 270 juta dolar AS dengan pendapatan operasional naik 21,2 persen menjadi 8,4 miliar dolar AS, rekor Q3 bagi perusahaan.

Namun, beban bahan bakar Southwest Airlines naik 821 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan biaya bahan bakar Q3-nya mencapai 3,92 dolar AS per galon, di atas asumsi sebelumnya yang sebesar 3,7-3,75 dolar AS per galon.

"Permintaan tetap kuat seiring kami melewati periode penerapan biaya bagasi tahun lalu dan inisiatif komersial lainnya, yang memperkuat keyakinan kami bahwa kekuatan laba yang telah kami bangun bersifat tahan lama, bahkan dengan biaya bahan bakar yang jauh lebih tinggi," kata CEO Southwest Airlines Bob Jordan dalam siaran pers mengenai pendapatan Q3 2026 perusahaan tersebut.

"Kami tetap yakin akan kemampuan kami untuk memperkuat laba, meningkatkan imbal hasil, dan memperluas margin seiring waktu," kata Bob.

Southwest Airlines mengasumsikan biaya bahan bakar Q4 2026 sekitar 4,55 dolar AS per galon, berdasarkan kurva berjangka (forward curve) per 15 Oktober 2026.

United Airlines pada Selasa (20/10) melaporkan pendapatan Q3 2026 sebesar 17,9 miliar dolar AS, naik 17,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan laba bersih mencapai 1 miliar dolar AS. Namun, beban bahan bakarnya naik 1,8 miliar dolar AS, atau 62 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut laporan laba Q3 2026 perusahaan tersebut.

United Airlines memperkirakan akan membayar sekitar 4,8 dolar AS per galon untuk bahan bakar pada Q4 2026, dibandingkan 3,9 dolar AS pada Q3 2026. Maskapai tersebut memproyeksikan laba yang disesuaikan sebesar 50 sen hingga 1,5 dolar AS per saham untuk Q4 2026, di bawah ekspektasi Wall Street.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anindya Ingatkan Ancaman Pajak Turun, Kasih Usul RI Pakai Cara Ini
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polda Jatim Matangkan Program POLIRAN, Siap Berdayakan Masyarakat
• 14 jam laludetik.com
thumb
Dari Kebugaran hingga UMKM, Ini Manfaat Program Senam Bersama yang Disiapkan Kota Bekasi
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Tunggu November, Jokowi Tak Mau Langsung Jadi Ketua Dewan Pembina PSI
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kabel Semrawut Sepanjang 6.225 Meter Ditertibkan, Pemko Pekanbaru Lanjutkan Penataan
• 4 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.