Anindya Ingatkan Ancaman Pajak Turun, Kasih Usul RI Pakai Cara Ini

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Inonesia (KADIN), Anindya Novyan Bakrie saat menyampaikan konferensi pers terkait Business Pulse Q3 di kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (22/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyoroti kualitas investasi di Indonesia yang belum sepenuhnya sejalan dengan penyerapan tenaga kerja. Menurutnya, investasi padat modal seperti pusat data (data center), smelter, dan hilirisasi cenderung menyerap lebih sedikit pekerja dibandingkan industri padat karya.

Hal ini disampaikan Anindya menanggapi kondisi realisasi investasi yang disebut telah menembus Rp1.500 triliun, tetapi di sisi lain jumlah pekerja formal justru menurun dan pekerjaan informal meningkat.

"Kualitas investasi, nah ini menarik sekali. Kenapa investasi naik, tapi kok tenaga kerja yang formal menurun, informal naik," ujar Anindya dalam konferensi pers Rapimnas Kadin di kantornya, Jakarta, Kamis (22/10/2026).


Baca: Investasi RI Naik 31% dalam Dua Tahun, Tembus Rp3.923 Triliun

Anindya mengatakan, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan hubungan sebab-akibat. Menurutnya, karakter investasi yang masuk ke Indonesia beragam, sehingga dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja juga berbeda.

"Ada investasi yang padat modal, misalnya kayak data center, smelter, hilirisasi, itu dengan sendirinya.. dan karena didukung oleh teknologi jumlah daripada tenaga kerjanya itu tidak banyak," katanya.

Karena itu, Anindya mengusulkan agar Indonesia juga memperkuat investasi pada sektor-sektor padat karya yang dapat membuka lebih banyak lapangan kerja. Beberapa sektor yang disebutnya antara lain pertanian, perkebunan, perikanan, garmen, sepatu, hingga furnitur.

"Nah, tapi juga banyak industri yang membutuhkan investasi yang sifatnya padat karya, misalnya pertanian, perkebunan, perikanan, garmen, sepatu, furnitur," sebut dia.

Dia menambahkan, penguatan ekspor perlu menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendorong pertumbuhan industri dalam negeri. Menurutnya, Indonesia perlu mengembangkan ekspor yang saling melengkapi dengan produk negara lain, sekaligus memperbesar ekspor dari industri padat karya.

"Paling enak sih kita punya waktu untuk fokus di semuanya, tapi kalau hanya terbatas, yang penting kan kita naik dulu nih di ekspor. Ekspor yang tidak mirip dengan ekspor di tempat lain. Jadi ada complementary, dan yang ketiga mungkin ekspor yang fokus kepada padat karya, yang kayak tadi semua itu," jelas Anindya.

Baca: Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo: Ini 7 Indikator Ekonomi Terbaru

Selain mendorong investasi di sektor padat karya, Anindya menilai pekerja dan pelaku usaha informal juga perlu mendapat pendampingan agar dapat masuk ke sektor formal. Menurutnya, upaya tersebut dapat memperkuat daya saing usaha sekaligus memperluas basis penerimaan negara.

"Kenapa Kadin ingin melakukan pembinaan pendampingan, supaya yang tadinya informal bisa jadi formal, dan kita bisa meningkatkan daya saingnya," tuturnya.

Anindya mengingatkan, kesulitan yang dialami dunia usaha dapat berdampak berantai terhadap perekonomian. Ketika usaha melemah, penerimaan pajak berpotensi turun, pembiayaan pemerintah menyusut, dan investasi bisa ikut tertekan.

"Kalau kita dunia usaha sulit, sudah pasti pajak itu menurun. Dan pajak menurun, pendanaan juga turun, investasi berkurang," ucap dia.

Karena itu, Anindya menegaskan peningkatan daya saing harus menjadi perhatian bersama pemerintah dan dunia usaha. Dia menilai strategi investasi perlu memperhatikan bukan hanya besarnya modal yang masuk, tetapi juga kontribusinya terhadap produktivitas, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

Baca: Modal Asing Serbu RI, Investasi Tembus Rp270,2 T di Q3


(dce)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Realisasi Investasi Januari-September 2026 Tembus Rp1.539,2 T

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Inggris dan Oman sepakat tentang perlunya membuka Selat Hormuz
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Febrie Adriansyah Pertanyakan Dakwaan TPPU, Klaim Dikriminalisasi
• 10 jam laluliputan6.com
thumb
Tindak Lanjut Sikap PKS Soal Ijazah Gibran: Menunggu Hasil Komunikasi ke Partai Lain
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Tarik Paksa Motor Warga, 5 Debt Collector Ditangkap di Jakbar
• 5 jam laludetik.com
thumb
Jokowi Belum Muncul di Sidang, Refly Harun Sentil Keras: Jangan Pengecut!
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.