Melantai di Bursa Bukan Ukuran Sukses Bisnis "Start Up"

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

DENPASAR, KOMPAS — Melantai di bursa saham dan menjadi perusahaan publik tidak serta-merta menjadi ukuran keberhasilan perusahaan rintisan bidang teknologi (start up). Di balik peluang memperoleh pendanaan dan memberikan jalan keluar bagi investor awal, aksi korporasi itu juga menyimpan risiko kerugian bagi investor publik ketika kinerja start up dan harga sahamnya tidak memenuhi ekspektasi pasar.

Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura dan Start Up Indonesia (Amvesindo), Eddi Danusaputro, mengatakan, keberhasilan initial public offering (IPO) start up dapat dilihat secara berbeda oleh perusahaan start up itu sendiri, investor awal, dan investor publik. Bagi internal start up, IPO dapat dianggap berhasil ketika mampu menghimpun pendanaan. 

Sementara bagi investor awal, IPO membuka kesempatan untuk mencairkan investasinya. Adapun bagi investor publik yang membeli saham start up ketika IPO ataupun setelahnya menginginkan untung meskipun belum tentu memperolehnya, bahkan berpotensi merugi. 

Baca JugaDana IPO Tersisa Rp 9 Triliun, Bukalapak: Kami Hati-hati Gunakan Modal

Sebagian investor ritel di pasar saham domestik bukanlah investor jangka panjang. Ketika start up melakukan IPO, baik itu di papan utama, papan pengembangan, atau papan akselerasi, lalu sahamnya dibeli oleh investor ritel, ekspektasi mereka sangat berbeda dari negara lain. Mereka mengharapkan dividen. 

Padahal, sebagian besar start up tidak akan membagikan dividen. Sebagian besar start up tidak akan membagikan dividen. Mereka umumnya juga berharap nilai valuasi terus bertumbuh, sementara rasio price — earnings ratio sebuah start up yang melantai di bursa saham akan sangat berbeda dari perusahaan tradisional. 

“Sekali lagi, situasi seperti itu masih bisa diperdebatkan. Dari pemahaman kami sebagai investor, tingkat pemahaman pasar (saham) ritel di Indonesia masih belum sampai ke tahap tersebut. Jadi, perlu mengelola ekspektasi,” ujar dia, saat menghadiri sesi diskusi The Exit Problem di Denpasar, Bali, Kamis (22/10/2026). 

Diskusi itu bagian dari forum Bali Tech Week 2026, pekan teknologi nasional Indonesia yang menjadi payung bagi 13 program acara di ekosistem industri digital yang mana Bali Tech Week Conference sebagai konferensi utama. Bali Tech Week 2026 berlangsung pada 19–23 Oktober 2026. 

Lebih jauh, menurut Eddi, ada beberapa opsi strategi exit yang terjadi di lingkup start up. Skema IPO acap kali sulit dilakukan dan harga saham start up setelah IPO pun rawan merosot setelah antusiasme awal mereda.

Opsi exit lainnya yaitumerger dan akuisisi, serta secondary sale (penjualan porsi saham ke investor lain ) menjadi alternatif yang kian jamak, meski frekuensinya dinilai masih perlu ditingkatkan. 

Baca JugaSaham GOTO Stagnan di Harga Rp 50 dan Terancam di Indeks MSCI, Bagaimana Prospeknya?

Bagi perusahaan start up yang telah berhasil mencetak laba, membagikan dividen, serta menjaga keberlanjutan bisnis, tidak melakukan exit terburu-buru pun sekarang akan diambil. Cara pandang seperti ini mendorong otokritik di kalangan investor. 

“Jika dahulu metrik keberhasilan investor melulu diukur dari kelipatan imbal hasil serta jumlah unicorn dalam portofolio, kini orientasi tersebut mulai bergeser ke arah kematangan bisnis,” kata Eddi.

Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat Bursa Efek Indonesia (BEI), Listyorini Dian Pratiwi, yang turut hadir di sesi diskusi yang sama menekankan, fundamental bisnis menjadi faktor penting bagi start up yang hendak melantai di bursa saham. Pertumbuhan valuasi tinggi saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan bisnis. 

Kondisi keuangan, keunggulan model bisnis, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik perlu menjadi perhatian sebelum start up melakukan IPO. 

Baca JugaBangun ”Start Up”  Kian Mudah Berkat AI, tetapi Model Bisnis Tetap Jadi Isu

Ketika berbicara mengenai strategi exit di lingkup start up, opsi IPO bukanlah akhir dari perjalanan pendanaan. Dia menekankan IPO adalah awal dari perjalanan pendanaan bagi start up. Sebab, setelah IPO ada banyak perjalanan pendanaan lainnya, seperti penerbitan obligasi dan sukuk. 

“IPO memang telah menjadi salah satu pilihan strategi untuk exit. Hal yang menjadi kendala terkadang adalah kesiapan perusahaan start up sendiri. IPO menuntut kesiapan perusahaan sekaligus momentum yang tepat,” ucap Listyorini. 

Oleh karena itu, hal pertama yang harus dipertimbangkan oleh start up yang ingin IPO ialah kesiapan internal seperti model bisnis, keunggulan kompetitif, dan rencana bisnis. Hal kedua berkaitan dengan momentum.

Momentum yang ia maksud berkaitan dengan daya tarik pasar. Untuk mendapatkan pendanaan dari investor, baik itu Private Equity (PE), Venture Capital (VC), maupun investor publik, hal yang menjadi sorotan utama adalah masalah valuasi. 

Valuasi tersebut harus menemui titik temu dengan ekspektasi investor, terutama investor publik saat IPO. Valuasi yang diharapkan oleh investor sebelumnya atau pemegang dana harus sejalan dengan valuasi yang diberikan oleh pasar yang bukan hanya pasar ritel, tetapi juga investor lainnya seperti investor institusi, dana pensiun, manajer investasi, dan lain-lain.

“Bagi kami di Bursa Efek Indonesia, fundamental adalah kunci utama. Apapun bisnis Anda, jika bertumbuh namun masih mencatatkan kerugian, kami katakan bahwa saham yang tidak berfundamental kuat tidak akan bertahan selamanya,” ucap dia.

Kondisi keuangan akan selalu menjadi pertimbangan utama bagi investor untuk menanamkan modalnya. Begitu juga dengan keunikan model bisnis. Jika model bisnis Anda sama persis dengan perusahaan lain, akan sulit untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

Hal non-keuangan yang juga penting adalah tata kelola. Menjadi perusahaan publik adalah sebuah bentuk transformasi, menurut Listyorini bukan sekadar urusan putaran pendanaan. 

Baca JugaMengapa IPO SpaceX Sangat Sukses?

Sejumlah start up di dunia dikabarkan gagal setelah IPO. Misalnya, Pets.com (IPO 2000). Perusahaan ini bangkrut total dalam kurun waktu sembilan bulan setelah IPO.

Penyebabnya adalah menerapkan strategi penjualan rugi dan terlalu agresif melakukan burn rate (kecepatan suatu perusahaan dalam menghabiskan cadangan uang kas) untuk biaya periklanan.

Contoh lain, Zynga yang IPO pada 2011. Status start up ini mengalami penurunan tajam nilai saham hingga 74 persen pada tahun pertama IPO. Zynga cukup tergantung pada ekosistem platform Facebook dan ketidakmampuan menjaga retensi dan pemeliharaan pemain gim kasual.

Contoh selanjutnya yaitu WeWork yang masuk ke pasar modal pada 2021 melalui SPAC atau perusahaan akuisisi tujuan khusus. Valuasi perusahaan ini merosot dari 47 miliar dolar AS menjadi di bawah 10 miliar dolar AS, hingga akhirnya bangkrut pada 2023.

Penyebab utamanya adalah tata kelola manajemen internal yang buruk, ekspansi sewa properti yang terlalu berisiko, dan kerugian operasional yang masif. 

Mengutip Business Insider pada 29 Desember 2019, pendiri LionTree (perusahaan penasihat investasi di sektor teknologi, media, dan telekomunikasi) Aryeh Bourkoff berpendapat, start up perlu memahami standar penilaian investor di pasar modal semakin tinggi. Start up yang hanya mengejar pertumbuhan tanpa memiliki arah profitabilitas yang jelas akan semakin sulit menarik minat investor publik. 

“Situasi itu di antaranya terlihat dari penurunan harga saham Uber dan Lyft setelah melantai di bursa melalui IPO, serta kegagalan IPO WeWork,” kata Aryeh. 

Bourkoff menyebut juga adanya benturan budaya antara ambisi pertumbuhan agresif start up dan tuntutan investor pasar publik yang lebih menekankan fundamental bisnis, serta prospek profitabilitas jangka panjang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bakom: 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Tak Ada yang Ditangkap karena Hina Presiden
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
El Nino hingga 2027, DEN Minta Pemerintah Siapkan Cadangan Beras
• 23 jam lalucumicumi.com
thumb
Kementerian UMKM Finalisasi Subsidi Bunga PNM Mekaar 8%
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BRI Umumkan Rencana Buyback Saham Tahap II Senilai Rp 1 Triliun
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Restoran di Cibinong Bogor Kebakaran, Api Muncul saat Karyawan Masak Sambal
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.