REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Global Innovation and Future Technology Summit (GIFTS) 2026 Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi ditutup di Gelanggang Inovasi dan Kreatif (GIK) UGM, Kamis (22/10/2026). Event tersebut telah mempertemukan inovator, perguruan tinggi, industri, investor, pemerintah, serta berbagai mitra strategis dalam satu ekosistem kolaborasi untuk mempercepat hilirisasi riset dan inovasi.
Mengusung tema 'Cultivation: Culture – Innovation – Business Acceleration', GIFTS 2026 dirancang tidak sekadar sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi sebagai platform untuk mempertemukan inovasi dengan kebutuhan nyata, riset dengan industri, serta potensi bisnis dengan investor dan pengguna.
GIFTS 2026 diselenggarakan oleh UGM Science Techno Park melalui program PRIME STeP berkolaborasi dengan Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Kadin DIY, Meet The Investor, dan ICONIC, serta dukungan berbagai mitra dalam ekosistem inovasi.
Rangkaian GIFTS 2026 telah berlangsung melalui pre-event dan main event pada 21–22 Oktober 2026, dengan sekitar 70 rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara paralel. Berbagai kegiatan tersebut meliputi Business Matchmaking, Investor Speed Dating, Pasar Inovasi, Annual Meeting Formind, Business Talkshow, Collaboration Class, Startup Grooming, Research to Business Grooming, Intellectual Property Management and Technology Transfer Forum, Sarasehan Badan Usaha Milik Universitas, Doctoral Research Forum, berbagai Focus Group Discussion, Workshop CPD, Sharing Senja, serta berbagai kegiatan kolaboratif lainnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Pada Opening Ceremony GIFTS 2026, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan Adziman menyampaikan bahwa Indonesia memiliki talenta, kekayaan pengetahuan, dan potensi inovasi yang besar. Namun, potensi tersebut tidak secara otomatis menjadi keunggulan. Menurutnya, tantangan Indonesia bukan sekadar menghasilkan lebih banyak penelitian, tetapi membangun kemampuan untuk mengembangkan, menerapkan, dan memperluas manfaat hasil riset agar semakin dekat dengan persoalan yang dihadapi industri, masyarakat, dan pembangunan nasional."Hubungan antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah tidak cukup berhenti pada pertemuan atau kesepakatan. Kita membutuhkan kerja bersama sejak persoalan
dirumuskan, teknologi diuji, hingga solusi dapat diterapkan secara berkelanjutan,” ujar Dirjen Riset dan Pengembangan dalam sambutannya secara daring pada Opening Ceremony GIFTS 2026.Pesan tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam pelaksanaan GIFTS 2026, yang mempertemukan para inovator dengan industri, investor, off-taker, pemerintah, dan mitra strategis melalui berbagai forum matchmaking dan kolaborasi.
Salah satu capaian GIFTS 2026 terlihat dari proses Business Matchmaking dan Investor
Speed Dating. Sebanyak 204 startup mendaftar dalam rangkaian speed dating, yang berasal dari Yogyakarta, Bali, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Dari jumlah tersebut, 76 startup terkurasi untuk mengikuti proses matchmaking dengan investor dan mitra potensial.Sementara itu, dalam ekosistem PRIME STeP, sebanyak 177 riset/inovasi masuk dalam
proses kurasi yang dilakukan oleh KADIN DIY. Dari jumlah tersebut, 100 inovasi terkurasi untuk dibawa lebih lanjut dalam proses business matchmaking. Dari proses tersebut, 27 inovasi berhasil memperoleh mitra. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa GIFTS mulai mendorong perjalanan inovasi dari research menuju partnership, bukan berhenti pada tahap showcase atau pertukaran gagasan."Melalui GIFTS 2026, semoga lahir tindak lanjut yang konkret: kebutuhan industri yang
menemukan jawabannya, hasil riset yang memperoleh mitra pengembangan, dan kolaborasi yang memiliki tujuan serta ukuran keberhasilan yang jelas," kata Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof Ova Emilia.Komitmen kolaborasi menjadi salah satu hasil penting dari penyelenggaraan GIFTS 2026. Pada Opening Ceremony, telah dilakukan penandatanganan tujuh naskah kerja sama. Selanjutnya, dalam berbagai rangkaian kegiatan GIFTS 2026, sejumlah lebih dari 50 dokumen kerja sama dan Letter of Intent (LoI) turut ditandatangani secara ceremonial. Dokumen tersebut mencakup berbagai bentuk komitmen, antara lain MoU, PKS, NDA, dan Letter of Intent, yang melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem inovasi.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Danang Sri Hadmoko menyampaikan bagi UGM, penandatanganan dokumen tersebut merupakan starting point untuk membangun kerja sama yang lebih konkret.
"Kesepakatan yang lahir dari GIFTS diharapkan dapat ditindaklanjuti menjadi pengembangan produk, investasi, lisensi dan transfer teknologi, pengembangan bersama dengan industri, produksi, maupun pemanfaatan inovasi oleh pengguna," katanya.
GIFTS 2026 juga menunjukkan pentingnya peran Science Techno Park sebagai penghubung antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri. GIFTS diselenggarakan oleh UGM melalu dukungani program Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks (PRIME STeP), dengan kolaborasi bersama KADIN, Meet The Investor (MTI), serta Infrastructure and Construction Innovation Conference and Workshop (Iconic). Kolaborasi lintas STP melalui Pasar Inovasi juga memperlihatkan bahwa penguatan ekosistem hilirisasi membutuhkan jejaring yang lebih luas.
Melalui sinergi tersebut, perguruan tinggi tidak berjalan sendiri dalam membawa hasil riset menuju pengguna, melainkan membangun hubungan dengan industri, investor, pemerintah, dan mitra strategis.
Dalam sambutannya pada Opening Ceremony, Fauzan juga menekankan bahwa kemandirian teknologi bukan berarti menutup diri dari dunia. Kemandirian teknologi berarti Indonesia memiliki kapasitas untuk memahami, memilih, mengadaptasi, dan mengembangkan teknologi strategis demi kepentingan bangsa. Sementara kerja sama global harus memperkuat kemampuan nasional dan bukan memperpanjang ketergantungan."Karena itu, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan daya saing, tetapi juga dari siapa yang merasakan manfaatnya, seberapa jauh kemampuan nasional meningkat, serta bagaimana dampak sosial dan lingkungan dikelola," katanya.
Pesan tersebut tercermin dalam sejumlah agenda GIFTS 2026 yang mengangkat isu
pangan, energi, air, lingkungan, kebencanaan, sampah, industri benih, serta ekosistem kakao. Dengan demikian, tema Cultivation tidak hanya berbicara tentang business acceleration, tetapi juga tentang bagaimana inovasi tumbuh dari budaya, kebutuhan lokal, etika, dan tanggung jawab terhadap masyarakat serta lingkungan.GIFTS 2026 menunjukkan bahwa hilirisasi membutuhkan ekosistem. Perguruan tinggi
berperan menghasilkan pengetahuan dan inovasi. Industri membawa kebutuhan dan kemampuan produksi. Investor menyediakan akses pembiayaan. Pemerintah memperkuat ekosistem dan kebijakan. Sementara masyarakat menjadi pengguna sekaligus penerima manfaat.Karena itu, keberhasilan hilirisasi tidak cukup dilihat dari berapa banyak penelitian yang dihasilkan, tetapi dari seberapa jauh pengetahuan tersebut dapat menjadi inovasi, inovasi menjadi produk dan bisnis, serta produk dan bisnis menghasilkan manfaat bagi masyarakat. "Semangat inilah yang ingin terus dibangun melalui GIFTS: Dari Research to Innovation, dari Innovation to Business, dari Business to Impact," ujar Fauzan.




