Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026) akhir pekan. Mata uang Garuda terparkir di level Rp18.080 per dolar AS atau melemah 20 poin dari penutupan sebelumnya di Rp18.060.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pelemahan rupiah terjadi akibat kombinasi antara harga minyak yang tinggi (di kisaran USD 100/barel) dan lonjakan harga pangan menimbulkan guncangan ganda (double shock) yang secara langsung menekan ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional.
"Oleh karena itu, kombinasi tersebut berdampak terhadap APBN dan kekhawatiran fiskal," kata dia kepada wartawan.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak (net oil importer), kenaikan harga minyak mentah internasional di atas asumsi makro APBN secara otomatis melipatgandakan kebutuhan belanja negara untuk subsidi BBM dan LPG serta kompensasi energi. Setiap kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) memperlebar defisit APBN.
Dalam hal tersebut pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit (fiscal space) yaitu menahan harga energi domestik yang beresiko memperlebar defifit APBN atau menyesuaikan harga energi domestik tetapi akan berdampak terhadap inflasi sehingga akan memberatkan masyarakat.
Baca Juga: Rupiah Terus Tertekan, BI: Kena Dampak Sentimen MSCI
Baca Juga: Semakin Loyo, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.070 per Dolar AS
Sehingga berdampak terhadap tekanan nilai tukar dan pembiayaan utang karena tingginya impor energi meningkatkan kebutuhan devisa dolar AS, yang menekan nilai tukar Rupiah.
Pelemahan mata uang berisiko memperbesar biaya pembayaran imbal hasil (yield) dan pokok utang luar negeri, membuat Daya Beli Masyarakat menurun terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah, yang porsi pengeluarannya bertumpu pada kebutuhan dasar.





