Grid.ID - Baru-baru ini, kronologi relawan pemadam karhutla meninggal dunia saat bertugas di Barito Kuala, menjadi perhatian. Mendiang sempat mengeluhkan nyeri dada sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
Kepergian Nurdin (51), salah seorang relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyisakan duka mendalam. Kejadian ini bak menambah nestapa dari kejadian karhutla.
Dikutip dari Tribunnews pada Jumat (23/10/2026), Nurdin diketahui meninggal dunia pada Rabu (21/10/2026). Kejadian itu terjadi saat dirinya membantu pemadaman api karhutla di wilayah Barito Kuala.
Lalu, bagaimana kronologi relawan pemadam karhutla meninggal dunia ini? Diketahui, Nurdin adalah warga Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Batola.
Sehari-harinya, ia bekerja sebagai tukang bangunan. Dirinya pun menjadi relawan sejak kebakaran hutan ini terjadi.
Saat itu, Nurdin tengah dalam tugas untuk memadamkan api. Tiba-tiba ia mengeluhkan sakit di bagian dadanya.
Rekannya pun menyarankannya untuk beristirahat terlebih dahulu. Posisi Nurdin kemudian digantikan oleh rekannya.
Hal itu diungkap oleh rekannya, Rahmat. Ia menceritakan ketika mendiang mengeluhkan lelah.
"Beliau kecapekan. Beliau bilang, Mat, gantian dulu,” ujarnya.
Nurdin juga sempat mengeluhkan dadanya terasa sakit. Kemudian, Rahmat menyarankan Nurdin untuk berbaring terlebih dahulu.
Keluhan rasa sakit itu tidak kunjung mereka. Rekan Nurdin kemudian mencarikan tabung oksigen untuk mendiang.
Rekan-rekan Nurdin pun memutuskan untuk memanggil ambulans. Namun sayang, nyawa Nurdin tidak terselamatkan.
Rahmat mengatakan bahwa Nurdin sempat menarik bajunya dan memanggil namanya. Setelah itu, Nurdin kemudian meninggal dunia.
"Beliau menarik baju saya dan memanggil nama saya dengan berteriak, sambil berusaha menggunakan oksigen," terangnya.
"Setelah itu beliau memejamkan mata saja," sambungnya.
Sedangkan, dikutip dari Tribunmedan pada Jumat (23/10/2026), salah satu relawan rekan Nurdin juga mengungkap kronologi relawan pemadam karhutla meninggal dunia. Ia menyebut bahwa asap kebakaran cukup tebal saat itu.
"Pas lagi memadamkan di depan, beliau bilang dadanya sakit. Kami bawa mundur. Memang sempat tebal asap tadi di sini," ujarnya.
Kepala UPTD Klinik Utama Setara Handil Bakti, Amalia Dewi menyebut bahwa mendiang sampai di rumah sakit sudah dalam keadaan meninggal dunia. Tim medis juga sempat melakukan resusitasi jantung dan paru untuk menyelamatkan mendiang.
"Pasien datang sudah dalam keadaan pupil sudah midriasis, dalam artian itu sudah meninggal," ujarnya.
"Tapi kami langsung memberikan penanganan, melakukan RJP, dan kami pasang alat sesuai prosedur. Kami RJP dua kali. Ternyata tetap tidak ada respons," sambung dia.
Sekretaris DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kalimantan Selatan, Hilyah Aulia mengatakan bahwa keselamatan relawan harus menjadi prioritas. Pasalnya, mereka berada di garis depan yang berupaya untuk memadamkan Karhutla.
"Para relawan ini hadir ketika masyarakat menghadapi bahaya. Mereka mempertaruhkan keselamatan diri untuk membantu orang lain. Karena itu, pengabdian mereka harus kita hargai dan keselamatan mereka juga harus menjadi perhatian bersama," jelasnya. (*)
Artikel Asli




