HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — PSM Makassar mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di Super League 2026/2027. Kemenangan 1-0 atas Persebaya Surabaya di Stadion Gelora B.J. Habibie, Parepare, Kamis sore kemarin, bukan sekadar tambahan tiga poin. Hasil tersebut bisa menjadi titik penting bagi Juku Eja untuk mengubah arah perjalanan musim ini.
Persebaya datang dengan status belum terkalahkan dalam lima pertandingan awal. Namun, PSM justru menjadi tim pertama yang mampu menghentikan catatan tersebut. Kemenangan ini sekaligus memperlihatkan bahwa Juku Eja memiliki kapasitas untuk bersaing ketika menghadapi tim yang diproyeksikan berada di kelompok papan atas.
Yang lebih penting, kemenangan atas Persebaya datang setelah PSM sebelumnya mengalami kekalahan telak dari PSS Sleman. Juku Eja mampu merespons hasil buruk tersebut dengan kemenangan atas PSIM Yogyakarta dan kemudian menundukkan Persebaya. Dua kemenangan beruntun ini memberi sinyal bahwa PSM mulai menemukan stabilitas yang dibutuhkan untuk menjalani kompetisi panjang.
PSM memang belum bisa langsung disebut sebagai kandidat kuat empat besar. Perjalanan musim masih panjang dan konsistensi menjadi persoalan utama yang harus dibuktikan. Namun, kemenangan atas Persebaya memberikan modal penting bahwa kualitas Juku Eja sebenarnya tidak terlalu jauh dari tim-tim yang memiliki ambisi besar di kompetisi musim ini.
Persoalan terbesar PSM kini bukan lagi sekadar bagaimana meraih kemenangan, tetapi bagaimana mempertahankan performa tersebut. Juku Eja harus mampu menghindari pola inkonsisten yang membuat mereka kehilangan poin ketika menghadapi lawan yang secara kualitas berada di bawah atau setara.
Jika mampu menjaga tren positif, PSM berpeluang memperbaiki posisi secara bertahap. Tiga poin dari Persebaya juga memiliki nilai psikologis karena diraih melalui pertandingan yang penuh tekanan. PSM mampu bertahan ketika lawan meningkatkan intensitas serangan, bahkan ketika harus bermain dengan sepuluh pemain pada penghujung laga.
Kemenangan ini juga memperlihatkan bahwa PSM memiliki elemen penting untuk menjadi tim yang sulit dikalahkan. Organisasi pertahanan, kemampuan bertahan dalam tekanan, serta keberanian bermain dalam situasi sulit menjadi modal yang tidak bisa diabaikan.
Namun, jalan menuju empat besar masih membutuhkan pembuktian lebih jauh. PSM tidak boleh menjadikan kemenangan atas Persebaya sebagai pencapaian yang berdiri sendiri. Juku Eja harus menjadikannya sebagai standar baru dalam setiap pertandingan berikutnya.
Terlebih, persaingan papan atas Super League musim ini berpotensi berlangsung ketat. Tim seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Persebaya dan sejumlah klub lain memiliki ambisi yang sama untuk berada di kelompok teratas. PSM harus mampu mengubah kemenangan-kemenangan penting menjadi sebuah rangkaian hasil yang konsisten.
Di sinilah pekerjaan terbesar Darije Kalezic. Pelatih asal Belanda itu tidak cukup hanya membangun tim yang mampu mengalahkan lawan kuat. Ia juga harus memastikan PSM memiliki kestabilan permainan dari pekan ke pekan.
Kemenangan atas Persebaya memberikan satu pesan penting: PSM punya kapasitas untuk mengganggu persaingan papan atas.
Juku Eja kini memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa target realistis berada di papan tengah bukan batas kemampuan mereka. Jika tren positif terus berlanjut, PSM bisa mulai menggeser target menuju kelompok empat besar.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah PSM mampu mengalahkan tim kuat, karena Persebaya sudah menjadi buktinya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Juku Eja mampu melakukannya secara konsisten.
Jika jawabannya iya, kemenangan di Parepare bisa menjadi awal dari perjalanan PSM menuju papan atas Super League 2026/2027.





