Ketika ditanya "apa kabar?" jawabannya bisa berbagai macam. Tapi tak sedikit orang yang menutupi kesedihannya, memasang senyum terbaik, dan menjawab, "Aku baik-baik saja". Pernah ada di posisi ini, Beauties?
Bagi mereka, lebih mudah untuk berpura-pura baik-baik saja daripada harus menjelaskan apa yang sedang mereka alami. Respons "Aku baik-baik saja" terkadang bisa menjadi reaksi otomatis bagi seseorang.
Menurut psikolog klinis Dr. Nicole Lipkin, PsyD, MBA, ada momen di mana tidak apa-apa untuk menjawab "aku baik-baik saja" saat seseorang menanyakan kondisi kita. Misalnya ketika pegawai restoran menanyakan kabar atau ketika kita tidak ingin menceritakan hal kecil yang mengganggu pikiran.
"Namun, jika Anda terus menggunakan jawaban tersebut kepada orang-orang yang peduli pada Anda, atau saat tekanan hidup kian menumpuk, hal itu justru bisa menjadi bumerang. Pada titik itulah, ucapan 'Aku baik-baik saja' bukan lagi sekadar bentuk kesantunan, melainkan mulai membangun tembok pembatas terhadap orang lain," ungkapnya kepada Parade.
Menurut psikolog, seseorang yang selalu mengucapkan "aku baik-baik saja" meskipun sebenarnya tidak, memiliki ciri kepribadian tertentu. Apa saja? Yuk, simak ulasannya berikut ini!





