Di Balik Keringat Senayan, Bisnis ”Sport Apparel” dan Dompet Kaum Urban

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Pukul sembilan pagi, sejumlah pelari yang berolahraga di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, pelan-pelan berkemas, Rabu (21/10/2026). Mereka hendak kembali ke kediaman masing-masing seusai menuntaskan sesi lari.

Ada juga sejumlah pelari dan pejalan kaki lain yang masih bertahan. Mereka terlihat serius mengejar catatan waktu terbaik. Ada yang lebih santai, sekadar melepas penat dari rutinitas kantor, sementara yang lainnya berlari atas dasar kesadaran akan kesehatan itu sendiri.

Akan tetapi, di balik sepatu yang beradu dengan aspal dan bulir keringat yang menetes, ada ongkos yang melingkupinya. Orang-orang yang berolahraga mau tak mau akan berhubungan dengan industri perlengkapan olahraga (sport apparel).

Baca JugaPameran Perlengkapan Lari Sambut JRF 2025

Pada titik ini, kebugaran tidak berdiri sendiri, tetapi menyimpan sekelumit cerita ekonomi yang menarik untuk ditilik. Olahraga tidak lagi sekadar membakar kalori, tetapi telah menjadi industri bernilai ekonomi. Hal ini sekaligus mencerminkan gaya hidup kaum urban.

Di jalur lari Senayan, angka-angka fantastis industri perlengkapan olahraga ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan isi keranjang belanja semua orang. Terdapat jurang pemisah antara kelompok pekerja mapan dan kalangan muda yang masih bergantung pada orangtua.

Bagi pekerja kantoran yang telah mapan secara finansial, investasi pada kenyamanan adalah mutlak. Tiara (27) dan Putri (30), pekerja kantoran asal Lebak Bulus, misalnya, rela merogoh kocek lebih dalam.

Memutuskan untuk mulai berolahraga secara rutin sejak tahun 2025, mereka mengalokasikan sekitar 10 persen dari gaji bulanan mereka untuk membeli sepatu lari berkualitas demi investasi jangka panjang. Walakin, untuk urusan pakaian atau jersei, mereka tetap realistis dengan memilih bahan dry fit seharga Rp 200.000-Rp 300.000.

Mencari aktivitas di luar jam kerja, olahraga menjadi pilihan mereka. Tak hanya di GBK, mereka sering berpindah lokasi untuk lari dengan memanfaatkan momentum car free day (CFD). Kerap Putri juga pergi ke lokasi gim bersama pasangannya, sementara Tiara rutin melakukan yoga sebagai olahraga yang lebih diminatinya.

”Lari untuk sehat, tetapi kenyamanan outfit-nya juga jadi pertimbangan,” kata Tiara.

Di lain sisi, spektrum pengeluaran kelompok muda yang diwawancarai cenderung lebih terbatas, terutama di kalangan mahasiswa atau mereka yang baru lulus sekolah. Azam (17), mahasiswa semester awal asal Permata Hijau, misalnya, baru kembali aktif berolahraga setelah vakum hampir setahun.

Pada 2023, ia aktif bermain sepak bola dan sering mengikuti perlombaan klub-klub kecil. Oleh karena itu, ia sangat memperhatikan kualitas sepatunya. Ia cenderung membedakan jenis sepatu untuk olahraga sepak bola dan untuk olahraga lainnya, seperti lari.

”Ini harganya Rp 1,6 juta,” katanya sambil menunjuk sepasang sepatu New Balance-nya.

Sementara untuk baju dan celana, ia cukup merogoh kantong masing-masing di bawah Rp 100.000 melalui belanja daring. Hal serupa dialami oleh Rofi (18), Ghizlan (18), Anwar (18), dan Raditya (18). Baru lulus sekolah dan mulai rutin jogging ke GBK untuk menyegarkan pikiran (refreshing), mereka tampil tanpa beban merek.

Menurut mereka, pakaian olahraga hanyalah alat fungsional seadanya. Pengeluaran baju harian berkisar di angka puluhan ribu rupiah. Mereka bahkan tidak terpengaruh oleh gengsi atau tren iklan.

”Lari, ya, lari saja. Pakaian seadanya saja enggak masalah,” kata Rofi.

Baca JugaMayoritas Generasi Z dan Milenial Rutin Berolahraga Seminggu Sekali
Sport apparel

Dinamika di lapangan ini turut dibaca secara jeli oleh para pelaku industri ritel. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak sepenuhnya stabil, sektor perlengkapan olahraga justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan.

Menurut Ramadhan Giri dari Fieldway Sport Attire, fluktuasi ekonomi memang sempat memengaruhi daya beli masyarakat secara umum. Namun, ia melihat adanya pergeseran fungsi olahraga di tengah masyarakat perkotaan yang kini memandangnya sebagai kebutuhan primer untuk menjaga kebugaran fisik, bukan sekadar tren musiman.

Dari sisi anggaran dasar, Giri menyarankan konsumen untuk mengesampingkan baju baru dan memprioritaskan investasi pada sepatu lari yang nyaman. Strategi mendekati kantong komunitas ini juga diterapkan oleh Manta Liberta, jenama lokal yang merintis lini pakaian sepeda sejak lima hingga enam tahun lalu dan kini baru saja membuka gerai fisik pertamanya di dekat kawasan GBK.

Menurut Putra (20), pramuniaga di gerai tersebut, pemilihan lokasi di jantung keramaian olahraga terbukti efektif mendatangkan konsumen secara organik. Orang-orang yang sedang berolahraga kerap mampir. Manta Liberta menawarkan berbagai jenis produk, seperti baju, celana, kaus kaki, dan topi olahraga. Harga produk-produk itu Rp 150.000-Rp 649.000.

Gerai ini mencatat penjualan harian yang stabil, berkisar 20 potong. Lonjakan drastis bahkan sempat diraup pada hari pembukaan (grand opening). Sekitar 100 produk terjual berkat publikasi media sosial dan acara lari bersama komunitas.

Baca JugaSurabaya Pasar Menantang dan Menjanjikan bagi Ritel Busana Olahraga

Cerita beberapa konsumen, pelaku industri, dan pengusaha ritel menggambarkan pasar produk fashion olahraga terus meningkat dari tahun ke tahun. Perusahaan penyedia riset pasar dan konsultan strategi global, Ken Research, menyebutkan, pasar produk fesyen olahraga Indonesia bernilai 5 miliar dolar AS sepanjang lima tahun dan diproyeksikan terus meningkat dalam lima hingga enam tahun mendatang.

Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran kesehatan di kalangan konsumen, peningkatan partisipasi olahraga, dan tren busana olahraga kasual (athleisure) yang semakin berkembang. Peningkatan permintaan pada pasar mencerminkan pergeseran preferensi konsumen ke arah kenyamanan dan fungsionalitas.

Ken Research juga menyebutkan, Jakarta berperan sebagai pusat bagi merek internasional dan gerai ritel. Melihat posisi potensial tersebut, Pemerintah Indonesia menerapkan peraturan yang bertujuan untuk mempromosikan manufaktur lokal pakaian dan alas kaki olahraga.

Inisiatif ini mencakup insentif pajak bagi perusahaan yang mendapatkan bahan baku secara lokal dan berinvestasi pada fasilitas produksi dalam negeri, serta mendorong pertumbuhan industri lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Multidimensi gaya hidup

Melihat fenomena tersebut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengatakan, pergeseran olahraga menjadi tren gaya hidup erat kaitannya dengan penerapan konsep life balance.

Masyarakat kota, khususnya kaum muda, berupaya menyeimbangkan tekanan pekerjaan dengan kebutuhan bersenang-senang dan menjaga kesehatan sebagai sarana pelepas stres (stress release).

Walakin, Esther melihat fenomena ini turut memunculkan kontras pengeluaran antarkonsumen dan gaya hidup. Kesadaran publik terhadap kesehatan di kota besar memang melonjak tajam, didukung oleh komunitas, katering sehat, hingga teknologi penunjang seperti smartwatch.

Namun, belanja atribut sering kali menjadi isu tersendiri di luar kebutuhan dasar olahraga. Kalangan mapan mampu menjadikan penampilan sebagai prioritas nomor satu, sementara masyarakat yang penghasilannya terbatas mengambil jalur fungsional apa adanya.

Dari kacamata makroekonomi, Esther menambahkan, maraknya pengeluaran tersier untuk fesyen olahraga mencerminkan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang sebagian besar pendapatannya masih terserap untuk membeli makanan dan barang tidak tahan lama. Hal ini jauh berbeda dengan karakteristik masyarakat di negara maju yang porsi tabungannya jauh lebih tinggi.

Oleh karena itu, guna menjaga keseimbangan industri kebugaran dan daya beli, pemerintah mesti memberikan kemudahan biaya input produksi, energi, dan perizinan bagi industri garmen domestik agar produk lokal tetap ramah di kantong.

Motivasi dan inovasi

Sementara itu, dari sudut pandang dinamika bisnis dan perilaku pasar, Direktur Utama Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal memberikan analisis yang berfokus pada pergeseran motivasi dan penciptaan pasar baru.

Menurut Faisal, perubahan gaya hidup tidak semata-mata didorong oleh faktor ekonomi, melainkan bersifat multidimensi. Mulai dari peningkatan kesadaran kesehatan, kebutuhan konsistensi latihan melalui pendekatan kolektif berbasis komunitas, hingga fungsi sosial sebagai sarana relasi sosial dan lobi pekerjaan.

Lonjakan tren ini secara otomatis melahirkan permintaan baru (new demand) yang memicu inovasi produk komersial, mulai dari tas pinggang, pakaian khusus, hingga jam tangan pintar pencatat kalori, yang menciptakan efek berganda. Hal tersebut menjanjikan bagi ekspansi industri.

Baca JugaThe Tour Borobudur Marathon Ajak Pelari Bersiap Menuju Borobudur Marathon 2026

Terkait kemampuan finansial di tengah komunitas, ia menilai, pembelian barang-barang mahal umumnya memang dilakukan oleh golongan yang memiliki penghasilan bebas (disposable income) memadai.

Ia juga memperingatkan adanya potensi tekanan sosial di dalam komunitas. Sebagian kalangan berpenghasilan terbatas bisa saja terdorong memaksakan diri membeli barang bermerek demi gengsi.

Oleh sebab itu, ia memprediksi hukum ekonomi akan berjalan. Seiring tingginya demand, celah pasokan akan menarik lebih banyak produsen baru masuk ke pasar guna menawarkan produk tandingan yang lebih kompetitif dan ramah di kantong. Ia menyarankan masyarakat urban agar tetap cerdas dan cermat.

”Mereka mesti menyesuaikan hobi dengan kemampuan finansial riil masing-masing tanpa harus memaksakan diri mengikuti tekanan gengsi komunitas,” katanya.

Baca JugaGen Z Merombak Bisnis Olahraga

Pada akhirnya, di jalur-jalur lari Senayan, gelombang masyarakat tetap digerakkan oleh satu prinsip dasar: keringat adalah modal utama, sementara pakaian dan atribut hanyalah penunjang.

Baik mereka yang menyisihkan 10 persen gajinya untuk sepatu impian, yang berlari dengan kaos seadanya, maupun para peritel lokal yang menyediakan pilihan rasional di kisaran ratusan ribu rupiah. Semuanya berbagi tujuan serupa, yakni mencari sehat dan ketenangan di tengah himpitan penatnya roda ekonomi kota Jakarta.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DWP Polije Gelar Pertemuan Bahas Perkuat Manajemen Keuangan Rumah Tangga Anggota
• 19 jam lalueranasional.com
thumb
Dua Tahun Prabowo-Gibran, 98 Resolution Network Soroti Ekonomi Kerakyatan Hingga Reformasi SDA
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Kapolri Suyudi Puji Gubernur Sumut Larang ASN Pakai Vape
• 10 jam laludetik.com
thumb
Kecelakaan KMP Batumandi, Capt. Hakeng: Investigasi Jadi Kunci Perbaikan
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Ini Alasan Dolar AS Begitu Perkasa Sampai Tembus Rp18.000
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.