Houston: Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat waktu setempat, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Harga minyak mentah Brent mendekati USD117 per barel, level tertinggi sejak Mei dan mendekati puncak harga selama perang Iran.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 24 Oktober 2026, harga minyak mentah Brent naik 2,8 persen menjadi USD116,93 per barel. Dengan kenaikan tersebut, Brent berada di jalur penguatan lebih dari 5 persen sepanjang pekan.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) meningkat 3 persen menjadi USD102,46 per barel. WTI juga berpotensi mencatat kenaikan mingguan lebih dari 1 persen.
Kekhawatiran pasar meningkat setelah muncul laporan pada pekan ini mengenai kemungkinan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada November.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Iran telah menyatakan akan membalas setiap serangan baru. Respons tersebut berpotensi mencakup serangan terhadap sasaran ekonomi dan sipil.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman dilaporkan terus menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi. Pada Kamis, perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, dekat Bahrain.
Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, salah satu wilayah utama penghasil minyak dunia.
Baca Juga :
Harga Minyak Brent Tembus USD113 per Barel, Tertinggi Sejak Mei 2026(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Arus minyak Teluk dan gangguan produksi Libya
Pelaku pasar juga mencermati arus pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Pada awal pekan, The Wall Street Journal mengutip data pengiriman yang menunjukkan volume minyak yang keluar dari Teluk lebih besar dibandingkan sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada akhir Februari.
Meski demikian, meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan arus pasokan minyak apabila konflik kembali meluas.
Di luar Timur Tengah, pasokan minyak juga menghadapi gangguan di Libya. Katup pada pipa minyak yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara dengan pelabuhan Zawiya dilaporkan ditutup sehingga mengurangi produksi dari kedua lokasi tersebut.
Kombinasi risiko geopolitik dan gangguan produksi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah penguatan harga minyak mentah dunia.




