Di tengah kepulan asap dan bara api yang membakar kawasan Gunung Julang, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), sebuah momen penyelamatan menyentuh hati terjadi.
Relawan dari Masyarakat Peduli Api (MPA) saat memadamkan kebakaran hutan di Gunung Ciremai berhasil menyelamatkan seekor bayi primata langka endemik Jawa Barat, Surili (Presbytis comata), yang terjebak di tengah sisa-sisa kebakaran.
Darsa alias Dodo (53) dari MPA Padabeunghar, menceritakan kisah penyelamatan bayi mamalia dilindungi tersebut saat mereka tengah berjuang memadamkan api di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (MDPL) pada Kamis (22/10) malam.
Terdengar Suara Tangisan di Tengah Malam
Darsa menceritakan, awalnya ia dan tim fokus naik ke titik tertinggi kepala lajur api di kawasan zona rimba Gunung Julang untuk membuat sekat bakar agar api tidak meluas ke zona inti hutan.
"Ketika kami mulai bergerak pemadaman, mendengar suara agak aneh. Kirain tadinya suara burung. Karena lagi fokus pemadaman, ya kita fokusin dulu ke api," kata Darsa kepada kumparan, Sabtu (24/10).
Namun, hingga larut malam sekitar pukul 23.00 WIB saat tim beristirahat di tenda, suara tangisan kecil itu justru terdengar semakin kencang.
Darsa dan rekan-rekan relawan termasuk anggota Paguyuban Siliwangi Majakuning kemudian berinisiatif menyisir titik sumber suara.
"Alhamdulilah dapat ditemukan anakan surili, posisinya nemplok di dahan kecil pohon saninten yang udah kebakaran. Daun-daunnya juga udah kering terbakar," ujar Darsa.
Kondisi Lemas dan Berhasil Diselamatkan
Saat ditemukan, kondisi bayi surili berjenis kelamin jantan itu sudah sangat lemas. Diduga, anak primata tersebut telah berpisah dari induknya dan tidak menyusu selama hampir seharian.
"Usianya diperkirakan baru sekitar seminggu, masih balita banget. Tali pusarnya aja belum putus, masih basah," jelasnya.
Tim Relawan kemudian memberikan penanganan darurat dengan memberikan susu saset yang mereka bawa sebagai bekal.
Setelah diberi susu, kondisi anak surili tersebut berangsur membaik dan kembali bertenaga sebelum akhirnya diinapkan di tenda tim pemadam.
Momen Mengharukan Reuni dengan Indukan
Keesokan harinya, Jumat (23/10) sekitar pukul 11.00 WIB, setelah api berhasil dilokalisir dan tim bersiap untuk turun gunung, mereka kembali berusaha mencari keberadaan kawanan surili.
Sekitar 300 meter dari titik perkemahan, tim melihat kawanan surili yang diperkirakan berjumlah 15 ekor berada di atas pepohonan.
Mendengar suara anakannya, kawanan tersebut mulai mendekat meski tampak waspada.
Demi keamanan dan menghindari kontak langsung yang membuat stres, tim menaruh bayi surili tersebut di tanah lalu Tim mundur sejauh 50 meter.
"Alhamdulillah, indukannya turun lalu diambil anakannya. Tapi pas ambil indukannya kita enggak sempat dokumentasikan, takut dia makin takut dan kaget. Yang penting selamat dan bisa bergabung lagi," tutur Darsa lega.
Sekilas Tentang Surili Jawa
Surili (Presbytis comata) merupakan spesies primata endemik Pulau Jawa yang dilindungi undang-undang. Hewan dengan ciri khas jambul di kepala dan bulu keabu-abuan ini dikategorikan sebagai satwa terancam punah (Endangered) akibat penyusutan habitat.
Selain memiliki peran penting sebagai penyebar biji-bijian di ekosistem hutan, surili juga dikenal luas oleh masyarakat karena pernah menjadi maskot resmi Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat tahun 2016 lalu.





